Antara Kebenaran dan 'Merasa Benar'

Selasa, 11 Juli 2017

Ustazah Nella Lucky, S.Fil.I., M.Hum. (Foto: Istimewa)

Oleh: Ustazah Nella Lucky S.Fil.I.,M.Hum.

Mana yang benar? Dan mana yang sekadar merasa benar?

Sahabat, sering kita bergelut di atas kebenaran menurut pendapat kita. Teramat kaget kita melihat betapa banyak konflik horizontal yang terjadi antar manusia mengatasnamakan kebenaran. Ini yang benar dan ini yang salah. Banyak di antara kita yang selalu berlindung di bawah kebenaran padahal sejatinya itu hanyalah kebenaran 'menurut kita saja'.

Ketika orang tua melarang anaknya keluar rumah, ia mengatakan, "ini yang paling benar, karena kami ingin menjaga kamu". Sang anak pun berkata, "saya yang paling benar karena jika saya tidak bergaul saya tidak akan mendapat jaringan dan banyak teman yang akan membantu perjalanan karir saya".

Ketika seorang sahabat memberi motivasi kepada sahabatnya, "janganlah engkau menangis," ini yang paling benar. Lalu sahabatnya berkata, "menangis ini menenangkan aku!, ini yang paling benar!"

Ketika seorang suami pulang terlalu malam. Sang istri berkata, "kamu tidak perhatian!" Dan suami pun berkata, "ini semua untukmu dan anak-anak!"

Seorang teman pun berkata, "sudahlah jangan memikirkan masalah yang tidak layak difikirkan." Ia pun menyanggah, "ini masalah besar menurut saya!"

Sahabat, seringkali kita berputar pada apa yang benar 'menurut kita' dan mengabaikan apa yang benar 'menurut orang lain'.

Jika setiap orang mempertahankan apa yang benar menurutnya, maka pada saat yang sama konflik horizontal akan menjadi makanan lezat sehari-hari. Sebaliknya, jika kita ingin sedikit fleksibel dan mempertimbangkan kebenaran menurut orang lain, maka pada saat yang sama kedamaian akan datang.

Tetapi sayangnya, tanpa disadari eksistensi manusia mengajak untuk hanya memaksakan pendapatnya kepada orang lain padahal pendapat itu hanya benar menurut dirinya sendiri.

Sahabat, mari berbesar hati. Kita cek ke dalam diri, apakah pendapat kita ini adalah kebenaran atau kita hanya sekadar 'merasa benar?'.

Sesiapa yang mempu melihat dirinya lebih dalam, maka ialah yang paling bijaksana. Dan sesiapa yang hanya mampu melihat orang lain terlalu dalam, maka ialah yang paling kerdil jiwanya. 

Sebaik-baiknya manusia adalah yang kenal dirinya dan mampu menilai dirinya daripada sekadar mampu melihat ke dalam diri orang lain. Karena melihat apa yang ada di dalam diri jauh lebih rumit daripada sekadar melihat apa yang ada di luar diri. 

Sahabat, yuk bedakan, mana benar dan mana sekadar 'merasa benar'. Ini kunci kebijaksanaan. *

Wallahua'lam

---

Baca tulisan-tulisan Ustazah Nella Lucky lainnya, KLIK DI SINI

Tonton video-video tausyiah Ustazah Nella Lucky, KLIK DISINI