Cerpen Farida Rosdian

Si Penjaga Palang Pintu dan Figuran di Sekelilingnya

Si Penjaga Palang Pintu dan Figuran di Sekelilingnya
ilustrasi. (Tadeusz Machowski/www.abstractartistgallery.org)

 

SEPERTI biasa, setiap pukul 07.30 aku akan mendapatimu di sini. Terduduk atau berdiri. Mengulur tali. Membuka bilah besi yang memalang ke badan jalan saat si roda empat akan melintas. Aku tak tahu kapan persisnya kau siaga. Yang jelas tak sehari pun wajahmu absen dari indera penglihatanku. 
 
Kubiarkan otakku berkalung tanya. Pernahkah kau bosan terjebak pemandangan yang menjadi rutinitas? Bangunan kecil 2x3 m2 yang siangnya digunakan kegiatan Posyandu (jika malam—pemuda dan bapak-bapak menjadikannya tempat Poskamling sekaligus bermain kartu adalah tempatmu berteduh), jalanan berlubang, bising knalpot juga anak-anak berseragam yang sebagian mulai malas berlarian. Mereka memilih duduk manis di jok belakang, menanti layanan antar-jemput. (Aku tak menyalahkan. Seiring perubahan jaman, mungkin gaya pengasuhan telah berubah). 
 
Para guru honorer yang dalam waktu seminggu menunjukkan wajah tersumingrah karena menerima sertifikasi. Setelahnya? Wajah-wajah itu kembali ditekuk. Buruh pabrik yang selalu berjalan menunduk. Wajahnya merengut. Memikul beban target harian. Para pedagang sepertiku lebih sering mengasah kemampuan otak kiri. Di pikiran kami bergelayut angka-angka nisbi. Kira-kira berapa penghasilan hari ini? Juga tukang ojek dan sopir truk pengangkut batu. Mereka—kami adalah tokoh figuran dalam duniamu yang hanya sebatas palang pintu. Kata orang, hidup ini sebuah lakon dengan judul yang berbeda bagi tiap individunya. Lalu aku menempatkanmu pada jenis profesi apa? Pengemis atau peminta-minta? Rasanya bukan. Pengangguran? Aku takut kau protes. Bukankah bagimu itu sebuah pekerjaan?
 
Tak jarang secangkir kopi kental menemani pagimu yang selalu cerah walau cuaca kadang gerah dan dari atap bumi siap tercurah anugerah atau barangkali sebentuk amarah. Tergantung dari sudut mana mengartikan. Sebatang keretek terselip di daun telingamu juga beberapa potong gorengan donasi orang yang memang peduli. Tukang ojeklah yang rajin menyodorkan sebatang rokok. Solidaritas, ujarmu. Saban hari kaubiarkan tubuhmu terpanggang terik matahari, dibedaki debu jalanan yang sebetulnya bukanlah jalan utama yang ramai. 
 
Kau selalu merasa perlu berada di sini hanya karena organisasi kemasyarakatan tempatmu bernaung memberi mandat ke pundakmu. Aku curiga, jangan-jangan ini tak lebih dari caramu membunuh rasa  jenuh. Tepatnya sejak kau di-PHK dari pabrik kerupuk tiga tahun lalu. Kau tak banyak bersinggungan dengan berbagai jenis karakter manusia kecuali saat membuka palang. Itupun dengan bahasa isyarat. Senyum dan anggukan. Termasuk ketika Pick Up yang kusetir seminggu sekali. 
 
Di matamu ada dua macam karakter manusia. Dermawan dan si kikir. Sungguh malang hari-harimu dilewatkan sebatas menjaga palang pintu yang menurutku tak perlu. Pernah suatu hari kutawarkan pekerjaan menjadi asisten di toko tapi kautolak. Mengapa kau bersusah-susah melakukan pekerjaan ini? Mungkinkah ini kauartikan sebagai bakti terhadap lingkungan kita tinggal? Maaf! Tapi aku memandang lain. Ini tak lebih dari bentuk frustasimu mengingat mencari pekerjaan sangatlah sulit. Kau jadi pemalas dan tak mau terikat. 
 
Ya sudahlah. Itu pilihanmu. 
 
Aku tahu, target utamamu hanya mengamankan palang pintu itu dari truk-truk pengangkut batu yang melintas. Bagaimanapun juga, tempat tinggal kita terkenal sebagai penghasil batu alam. Rangkaian gunung batu yang memagari tempat tinggal kita ini, sejak dulu terus digali. Sebagian lahannya dijadikan pemukiman penduduk. Kau menutup jalan supaya truk-truk pengangkut batu itu menyisihkan rupiah sebagai retribusi yang nantinya digunakan untuk perbaikan jalan. Banyak orang memandang pekerjaanmu sebelah mata. Tak ada hasil dari pungutan yang kautarik itu. Bagi mereka kau tak lebih dari seorang pemalas dan peminta belas kasihan. Jalanan tetap rusak. Bolong sana sini semakin parah. Sebagian dari mereka (karena memandang wajah ibamu) berbaik hati menyodorkan selembar rupiah bergambar Pattimura. Kadang lebih. Kau tak menapikkan. Itu rejeki. Katamu.
 
Suatu hari kudengar kau menaruh hati pada gadis sekampung. Gadis angkuh itu menolak. Dia memilih lelaki lain yang jauh lebih, lebih segalanya. Setidaknya begitu—dalam pandangan gadis yang kautaksir. Kau sembunyikan perihmu dalam balutan seringai yang menjadi ciri khas. Alih-alih sakit hati, rasa cintamu tak memudar. Kau rela berkorban menutupi hasil perbuatan cela yang dikandung badannya. Aku mendengar kabar; beberapa minggu ke depan setelah bayi itu menghirup atmosfer bumi, kau akan resmi menjadi suami dari Sari Sulastri. Gadis pujaanmu. Jangan tanya dari mana aku mengetahuinya!
 
Ini hari Minggu. Jadwalku pulang lebih awal. Khusus tiap Minggu aku berjualan setengah hari. Tidak buka toko tapi menggelar lapak di pasar tumpah. Berangkat setelah kumandang subuh dan pulang ketika terik matahari sedang bersemangat memanggang badan. Besar kecil pendapatan yang kuperoleh, tak tega rasanya jika pulang tanpa menyiapkan koin harapan untukmu. Ya. Aku menyebutnya begitu. 
 
Hari ini lain. Kudapati palang itu terbuka. Tak ada potret lelaki yang identik dengan anggukan dan seringai yang memerlihatkan barisan geligi hitamnya yang tak rapi. Di mana dirimu? Mungkin sedang mengantar jatah raskin ke tiap RW. Biasanya begitu. Segerombolan orang berkumpul di tempat mangkalmu. Ada adegan adu mulut. Sesuatu telah terjadi. Ini memaksaku turun dari mobil dan bertanya pada salah satu dari mereka.
 
“Sarno dibawa ke rumah sakit” seorang supir ojek menjelaskan.
 
Rasanya aneh. Orang sepertimu bisa sakit. Tetapi kau juga manusia biasa.
 
“Dia mengalami luka-luka akibat dipukul Ado. Tadi sempat pingsan. Kepalanya  mengalami benturan hebat. Semoga saja tidak geger otak” sambungnya cemas.
 
Aku nyaris tak percaya. Tapi aku berusaha mengatur tempo napasku “Kenapa dipukuli Ado? Apa yang terjadi? Dia berbuat salah?”
 
“Sarno lupa membuka palang pas Jeep Ado melintas. Atap mobil itu rusak kena gesekan palang. Sebenarnya kesalahan tidak mutlak di tangan Sarno. Ado juga salah. Dia mengendarai mobilnya seperti di sirkuit balapan.”
 
Senin pagi sebelum subuh menggema, daun telingaku menegang. Aku menyimak sepintas. Mungkin sisa-sisa kesadaranku masih menguap di atas bantal, di dindin, di balik gordyn atau barangkali melebur di udara bebas setelah melewati serangkaian mimpi tadi malam. Butuh sedikit waktu untuk membawanya terfusi ke dalam otak. Seseorang di masjid menyebutkan namamu dalam sebuah pengumuman. 
 
“Innalillahi wainnailaihi rojiun” istriku menyahut, tangannya menyingkap selimut. 
 
Aku terperanjat.
 
 “Jam berapa katanya?” setengah kesadaranku terlempar kembali ke dunia nyata. Istriku menempelkan telunjuk di bibir. “Husss ... siapa yang bilang meninggal? Dia menghilang, Mas” tegasnya.
 
“Oo ... hilang bagaimana?” kali ini aku bingung.
Istriku menggeleng kemudian merenung. “Mungkin dia kabur.”
 
“Ka-bur?” istriku mengangguk. Beranjak dari tempat tidur dan merapikan tatanan rambutnya. 
 
“Meninggalkan kampung ini?” aku masih sulit mencerna penyebabnya.
 
“Dari mana kautahu? Bagaimana bisa sampai pada kesimpulan seperti itu?”
 
“Aku hanya menduga. Banyak kemungkinan yang menyebabkan dia menghilang dari kampung ini. Mungkin ada kaitannya dengan Ado. Atau bisa jadi sengaja kabur karena tak mampu membayar biaya pengobatan di rumah sakit. Dia kan miskin.”
 
“Cukup, Astri! Jangan berprasangka buruk apalagi menghina statusnya. Biar nanti kucari tahu.”
 
“Untuk apa? Mengapa harus repot-repot? Memang dia siapa?” 
 
“Aku ingin memastikan” pertanyaannya membuatku sadar. Aku mengalihkan pembicaraan.  “Oya, kautaruh di mana alat cukur kumisku?” 
 
“Biasanya di kamar mandi” Istriku bergegas ke kamar mandi.
Aku merapikan diri dan beringsut dari tempat tidur. “Kemarin sudah kucari tapi tak ada” 
 
“Kalau tidak ada, cari di laci meja riasku. Barangkali ada di sana” teriaknya di sela-sela kran air yang menderas.
 
Sambil menunggu kamar mandi kosong, aku mencari alat cukur yang belakangan tak kutemukan. Aku tak biasa dengan penampilanku saat ini. Terlihat lebih tua karena kumis dan janggutku mulai lebat dan memanjang. Aku berpikir untuk membeli pencukur yang baru. Mungkin saja istriku tak sengaja membuangnya.
 
“Apa ini?” gumamku. Sebuah kotak perhiasan. Satu set lengkap. Kalung mutiara, cincin, gelang dan sepasang anting-anting tersimpan rapih di laci terakhir.
 
Lima belas menit kemudian istriku keluar dari kamar mandi mengenakan kimono dan gelungan handuk di kepala. Aku menunjukkan kotak itu padanya, 
“Ini pasti mahal. Kau punya uang dari mana untuk mendapatkan barang-barang mewah ini?”
 
“Oo ... itu hanya imitasi” dia sedikit tak pecaya atas apa yang dilihatnya 
“Harganya jauh dari taksiranmu, Mas. Dan itu tak akan mengeruk dompetmu. Aku cukup tahu diri.”
 
“Tapi aku tak yakin kau berselera dengan barang imitasi” istriku merebut kotak perhiasannya tanpa berkata-kata. 
 
***
 
Seminggu berlalu. Pikiranku tak tenang dihantui wasiat lelaki tua yang kupanggil ayah. Aku berkunjung ke kantor kepala desa menindaklanjuti kabar kepergianmu. Selentingan kudengar desas-desus tak enak di tengah perangkat desa. Aku tak ingin peduli walau yang mereka bicarakan adalah sosok istriku. Aku juga tak mendapati dirinya di ruang skretaris desa. Katanya ada kegiatan di lapangan. 
 
Aku dan Pak Kades menarik kesimpulan unsur politik membungkus kabar kehilanganmu. Tuduhan sementara jatuh pada Ado. Dia kecewa gara-gara kauterima pekerjaan tambahan memasang poster caleg selain dirinya. Sungguh kejam. Selalu ada pihak yang tertindas oleh si kuat. 
 
Sebelum ashar aku tiba di rumah. Tak biasanya pintu depan dibiarkan terbuka. Istriku tak pernah melakukan itu kecuali saat menyiram tanaman. Aku masuk tapi ruang tamu sepi. Aku menyusuri setiap sudut ruangan, istriku tetap saja tidak ada.  
 
Aku merasa lelah. Aku bergegas ke dapur mengambil air minum. Sayup kudengar suara istriku di teras belakang. Rupanya sedang bicara dengan seseorang. Dan ... ya ampun! Itu suaramu. Nyaris tak percaya, aku mencarimu kemana-mana dan ternyata kau ada di sini? 
 
Tepat di depan pintu keluar aku memergoki kalian sedang bersitegang. Istriku menyembunyikan sesuatu di belakang punggungnya saat aku mendekat. Sesuatu yang membuatku curiga karena wajahnya seketika pasi. 
 
“Mengapa kalian mendadak berhenti? Bukankah sedang membicarakan hal yang penting?”
 
“Em ... eu ....” istriku gelagapan.
 
“Maaf, Pak! Sebenarnya aku tak bermaksud datang ke sini tapi--” Sarno ragu.
 
“Jangan!” potong istriku ketakutan.
 
“Jangan?” aku semakin tak mengerti.
 
Istriku menunduk.
 
“Selama ini aku menghilang karena Bu Astri yang meminta” penekanan suaramu menunjukkan sebuah pemberontakan. Aku semakin antusias.
 
“Kepergianku adalah bayaran atas hutang budi pada Bu Astri yang telah melunasi biaya perawatanku di rumah sakit. Tetapi aku berubah pikiran. Aku tak tahan bila harus meninggalkan kampung halaman tanpa memberitahu di mana keberadaanku. Aku tak ingin membuat mereka khawatir terutama ibu dan Sari.”
 
“Jangan diteruskan! Kau tak ingat--?” Sesaat aku menatap wajah wanita yang telah lima tahun menjadi kekasih setiaku. Hari ini aku melihat kabut hitam di balik wajahnya. Sebuah topeng. 
 
“Maaf, Bu! Aku tak ingin menjadi tumbal lagi. Kali ini aku tak akan lari dan sembunyi. Tempatku di sini. Aku memang berhutang, akan kubayar dengan menyicilnya nanti” meski tergagap aku melihat ada yang beda di dirimu. 
Keberanian yang tak pernah kulihat sebelumnya.
 
Panjang lebar kaututurkan pengetahuanmu. Istriku mengasingkanmu supaya tutup mulut sekaligus menjadikanmu kambing hitam. Aku tahu penyebab kau menolak bekerja padaku. Istriku tak menyukaimu.
 
“Seharusnya aku paham dari mana kau dapat perhiasan dan barang-barang mewah itu.” Aku melihat segepok uang saat kuraih tangannya yang disembunyikan di belakang punggung. 
 
“Dengar dulu penjelasanku! Semua tak seperti yang kausangka” bujuk istriku. 
 
“Tak perlu! Ini cukup menjadi bukti.” 
 
“Kau lebih memilih percaya pada manusia tengil ini daripada aku yang secara sah terikat hubungan perkawinan? Ingat, lima tahun kita bersama-sama.”
 
“Pemberitahuan yang terlambat. Aku lebih percaya padanya. Hubungan darah biasanya lebih kuat” Istriku mengkorupsi uang raskin dan dana bantuan lain. Dia juga menerima suap dari Ado sebagai pelicin masuk bursa calon legislatif. 
Bagaimana aku bisa percaya pada seorang yang telah berkhianat sementara kejujuran terlihat jelas di hadapanku? 
 
“Apa maksudmu?” 
 
“Kau tak bisa jadikan saudaraku ini sebagai kambing hitam atas apa yang tak dilakukannya ....” jawabku lirih.
 
“Apaaa? Aku tak salah dengar? Bb-ba bagaiii mana mungkin?” Istriku tak percaya. Tubuhmu kaku, terkunci bumi. 
 
Dadaku sesak. Sebentuk perasaan aneh menghimpit. Aku tak tahu apa aku menyesal mengakuimu sebagai saudara kandung lain ibu. Di satu sisi aku bangga, setidaknya aku berusaha menunaikan wasiat ayah dengan baik, melindungi dan mengembalikanmu pada dunia yang memberimu kesenangan. Aku tak tahu bagaimana nasib perkawinanku setelah ini.***
 
Farida Rosdian lahir di Ciamis pada tanggal 6 Oktober. Tahun 2012 geliat penulis ditunjukkan dengan upaya mengembangkan minatnya, penulis mulai bergabung dengan grup-grup kepenulisan di jejaring sosial dan mengikuti beberapa event atau lomba-lomba yang diselenggarakan oleh grup-grup tersebut ataupun sebuah fansfage kepenulisan. Beberapa karyanya telah dibukukan dalam antologi puisi campuran yang berjudul Rendjana (Ae Publishing, 2014) dan Tubuh Bencana (FAM Publishing, 2014).


Berita Lainnya

Index
Galeri