RIAUREALITA.COM — Bagi ibu di rumah, pertanyaannya sederhana: bagaimana caranya anak sampai pada titik itu? Jawabannya ada pada ruang yang diberikan orang dewasa di sekitarnya.
Dari Coretan Kecil Jadi Karya yang Dilihat Orang Lain
Kreativitas anak tumbuh dari hal-hal sederhana. Coretan di kertas, cerita yang lahir dari imajinasi, gambar yang terlihat biasa saja.
Prosesnya justru yang penting. Anak belajar mencari ide, mengembangkan cerita, menyelesaikan karya, lalu memberanikan diri menunjukkannya.
Co-Founder Karya Raya, Ernest Junius Wiyanto, menegaskan pencapaian tahun ini lebih dari sekadar pertambahan angka.
"(Jauh lebih banyak) anak yang menemukan jati kreator dalam dirinya tahun ini," kata Ernest saat jumpa pers di Jakarta, Jumat, 11 September 2026.
Kenapa Apresiasi Orang Lain Begitu Berpengaruh
Karya yang hanya disimpan di kamar berbeda efeknya dengan karya yang dilihat orang lain. Saat mendapat apresiasi, anak mulai memahami bahwa kreativitasnya bernilai.
Ernest memberi gambaran konkret soal momen ini.
"Ketika coretan itu dihargai orang lain, anak mulai melihat dirinya sebagai pelukis. Ketika seorang anak menulis dan tulisannya menyentuh orang lain, anak itu melihat dirinya sebagai seorang penulis," ujarnya.
Dari sana, anak punya alasan untuk terus mencoba. Ia tidak berhenti di satu karya, tapi terdorong membuat karya berikutnya.
Menyusun Cerita Melatih Cara Berpikir Anak
Karya anak tidak selalu sesederhana yang terlihat. Lewat cerita, mereka menyampaikan sudut pandang tentang kehidupan yang kadang luput dari perhatian orang dewasa.
Proses mengolah pengalaman menjadi cerita juga melatih cara berpikir. Anak belajar menyusun ide secara utuh, dari awal sampai akhir.
Pendongeng dan penyiar senior Gery Saleh Puraatmadja, yang akrab disapa Paman Gery, menilai aktivitas ini berdampak pada kemampuan kognitif anak.
"Yang pertama itu mendapatkan efek dari menyusun sebuah cerita dalam pemikiran seorang anak adalah fungsi kognitif. Itu luar biasa," ujarnya.
Ia mencontohkan karya Kea Atalia Nitisara dari SDN Penabur Harapan Indah yang mengangkat kisah tentang serangga. Kekuatan ceritanya bukan pada tokoh serangga, melainkan gagasan bahwa setiap makhluk punya keinginan dan hak untuk hidup bebas.
Pameran di Perpustakaan Jakarta, 11 September–2 Oktober 2026
Karya Raya 2026 mengusung tema "Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You." Tema ini menempatkan proses kreatif sebagai bagian penting perjalanan anak menemukan dan membagikan gagasan.
Kepala Unit Pengelola Perpustakaan Jakarta dan PDS HB Jassin, Diki Lukman Hakim, melihat perpustakaan punya peran lebih luas dari sekadar tempat membaca.
"Menjadi rumah untuk karya-karya anak," kata Diki.
Semangat itu diwujudkan lewat pameran karya anak di Perpustakaan Jakarta, berlangsung 11 September hingga 2 Oktober 2026. Karya Raya 2026 terselenggara melalui kerja sama dengan Perpustakaan Jakarta dan Bookabook.id.
Pengunjung bisa melihat dan membaca langsung hasil kreativitas anak. Sementara anak memperoleh pengalaman bahwa ide yang ia tuangkan dalam buku layak mendapat perhatian.
Yang Bisa Ibu Lakukan di Rumah
Tidak perlu menunggu ajang besar. Mulai dari memajang gambar anak di dinding ruang tamu, membacakan ceritanya di depan keluarga, atau mengirimkan karyanya ke lomba sederhana.
Yang penting, karya itu dilihat orang lain. Pengalaman kecil ini yang perlahan membentuk cara anak memandang dirinya.
Ketika ide anak diterima dan dihargai, kepercayaan dirinya tumbuh. Dari sana, ia punya bekal untuk terus berkreasi dan mengembangkan gagasan lewat karya-karya berikutnya.

