7 Fakta Aturan Algoritma Medsos di Australia

7 Fakta Aturan Algoritma Medsos di Australia
Rancangan aturan algoritma media sosial di Australia memungkinkan pengguna mematikan feed personalis

RIAUREALITA.COM — Rancangan ini muncul setelah Australia lebih dulu melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun. Kali ini sasarannya algoritma rekomendasi yang mengatur hampir seluruh feed platform besar.

1. Pengguna Bisa Matikan Feed Algoritma

Aturan ini memungkinkan pengguna memilih untuk tidak memakai feed yang dipersonalisasi algoritma. Artinya, linimasa hanya berisi konten dari akun yang benar-benar mereka ikuti. Bukan dari akun lain yang dianggap menarik oleh sistem.

2. Algoritma Pelajari Semua Aktivitasmu

Algoritma media sosial bekerja dengan mempelajari konten yang ditonton, disukai, dan dicari pengguna. Dari data itu, platform menampilkan konten yang dianggap relevan agar kamu terus membuka aplikasi. Efeknya, feed kamu tidak lagi murni dari akun yang diikuti.

3. Instagram hingga X Sudah Punya Feed Kronologis

Sebenarnya sejumlah platform sudah menyediakan opsi feed kronologis dari akun yang diikuti. Instagram, TikTok, Facebook, dan X punya fitur itu. Masalahnya, fitur tersebut bukan pilihan utama saat aplikasi dibuka.

4. Pemerintah Sadar Feed Non-Algoritma Bakal Terbatas

Australia mengakui kemungkinan perusahaan teknologi membuat feed tanpa personalisasi algoritmik yang memenuhi aturan. Namun feed itu diprediksi punya fungsi lebih terbatas dibandingkan feed utama. Jadi pengalaman berselancar bisa terasa berbeda.

5. Denda Pelanggaran Tembus Rp 1,2 Triliun

Platform yang melanggar aturan ini bisa dikenai denda lebih dari 100 juta dollar Australia. Nominal itu setara sekitar Rp 1,2 triliun. Angka ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menekan dominasi algoritma.

6. Meta dan TikTok Belum Buka Suara

Meta selaku induk Facebook dan Instagram serta TikTok belum memberikan komentar terkait proposal ini. Google juga belum bersuara. Informasi ini mengutip laporan Guardian dan Gizmodo.

7. Warga Australia Terbelah, Muncul Usulan Opsi Tengah

Respons warga Australia beragam. Sebagian menganggap ide mematikan algoritma sebagai langkah bagus. Sebagian lain ingin tetap mempertahankan rekomendasi konten sesuai minat. Ada juga yang mengusulkan opsi tengah, yakni mengurangi agresivitas algoritma tanpa mematikannya sepenuhnya, karena khawatir efek echo chamber yang membatasi paparan perspektif berbeda.

Jika proposal Digital Duty of Care ini disahkan, pendekatan Australia terhadap algoritma media sosial berpotensi menjadi contoh bagi regulator di berbagai negara, termasuk Indonesia.


Berita Lainnya

Index
Galeri