Festival Musikalisasi Puisi

Musikalisasi Puisi Bukan Hanya Perkara Teknis

Kepala Balai Bahasa berfoto bersama tiga dewan juri dan para pemenang lomba festival musikalisasi puisi, Sabtu (22/4/2017).

PEKANBARU - Langkah pertama untuk memusikalisasikan puisi terlebih dahulu harus memahami puisi, apa makna dan pesan yang terkandung di dalam puisi yang menjadi bahan dasar untuk dimusikalisasikan.

Hal itu disampaikan Budayawan Riau, Marhalim Zaini selaku dewan juri Festival Musikalisasi Puisi yang ditaja Balai Bahasa Provinsi Riau, Sabtu (22/4/2017).

Balai Bahasa lewat Pekan Sastra, khususnya pada kegiatan Festival Musikalisasi Puisi, kata Marhalim, merupakan sebuah upaya untuk mengakrabi puisi bagi peserta lomba dengan cara yang lain.

Oleh karena itu, menikmati sebuah karya seni, itu tidak susah. "Ketika mendengarkan sebuah lagu, tanpa sadar kita bergoyang, tersenyum tertawa, dan bahagia karena ada keserasian," ujarnya.

"Namun, dalam musikalisasi puisi, kalau musik terlalu banyak di atas panggung, ada semacam kesan berlebihan sehingga ada ekspresi berlebihan dan itu menjadi sulit untuk dinikmati. Intinya dalam musikalisasi puisi bukan hanya perkara teknis tetapi bagaimana memahami konsep puisi bagian per bagian yang hendak diiramakan, dibacakan, dikomposisikan sehingga menjadi komposisi musikalisasi puisi yang utuh," paparnya.

Senada dengan Marhalim, Jefry Al Malay menuturkan, hal terpenting dalam musikalisasi puisi adalah tafsiran terhadap puisi itu. Dari sanalah pancang dan langkah pertama puisi untuk dimusikalisasikan. Setelah itu,  baru disesuaikan antara musik dan puisi.

"Musikalisasi bukan hanya perkara bersenndung bersenandung yang mengekspresikan puisi. Musikalisasi harus ada kesimbangan, dalam musikalisasi puisi itu berbicara. Musik juga mengekspresikan kehendak dari puisi itu sendiri," kata Jefry.

Sementara Mat Rock yang terlibat menjadi dewan juri juga memberi masukan tentang musikalisasi puisi kepada para peserta lomba. Menurutnya, peserta lomba harus mengerti dua unsur, yaitu musik dan puisi. 

"Tidak boleh ada yang timpang. Wawasan tentang sastra khususnya puisi dan musik menjadi modal utama. Di dalam musik ada komposisi yang menjadi takaran enak atau tidak. Puisi dalam musikalisasi menjadi penunjang," ungkapnya.

"Yang paling penting dalam musikalisasi itu, dalam konteks teks puisi memiliki tanda baca. Artinya setiap baris, dan bait per bait puisi memiliki makna. Dan peserta harusnya memahami itu sehingga tak ada yang terkesan maksa dan terkesan tidak kreatif. Itulah tuntutan dalam musikalisasi puisi," katanya mengakhiri.

 

Reporter: Anju Mahendra

 



[Ikuti Terus Riaurealita.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : +62 0823 8944 0487
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Riaurealita.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan

Video