Puisi-puisi Epon Putra

Dalam Terjaga, Nenek, Petang Pagi

Dalam Terjaga, Nenek, Petang Pagi
Ilustrasi. (Agnes Cecile/deviantart.com)
PESERTA LOMBA CIPTA PUISI HUT PERTAMA RIAUREALITA.COM
 
 
Dalam Terjaga
 
Pagi menjelang bersama hangat sinar mentari
duduk seorang gadis menanti hangat cahaya surya
angin menari seirama gemulai dedaunan
rambut terurai, melodi mulai mengalun.
Dalam hujan cahaya, wajahnya memerah
rambut tergerai, sebagian menyelip di sela daun telinga
kuhampiri bidadari itu, ia tersenyum
Runtuh rongga dadaku
tulang-belulangku roboh tak berdaya
Ia begitu rupawan, lebih tinggi dari bangsawan
bahkan lebih lembut dari awan.
Rasanya, Aku tak ingin masuk surga
kalau bukan dia pendampingku.
Dalam betahnya mata berjaga
angin, hujan, setia menjadi kawan
 
 
 
Nenek
 
Pagi-pagi nenek menanak nasi pada tungku batu
Ia tak menggerutu, hanya ayam berkokok lirih
Kucing bermain-main dengan kaki keriputnya
Nafas berkejaran dari salung bertemu api
Api enggan menyala, kayu api basah
Ia tak menggerutu, hanya anjing gonggong malas
Cahaya tembus disela atap rumbia, cuma lobang kecil
Api hidup segan mati tak mau, nenek terus meniup
Menanti periuk yang mulai menggelegak
Rumah sunyi, gubuk sepi
Ia tak menggerutu, hanya murai kicau lunglai
Sesekali mengusap punggung kucing
Nenek tak menggerutu, ia hanya rindu kakek
Jalan panjang begitu melelahkan
Kakek sudah melangkah jauh
Beranak pinak tak jadi ternak
Nasi sudah masak, nasi kuning, beras kuning, murah
 
 
 
Petang Pagi
 
Kau bertahta di atas bulan dan matahari
seirama angin menari lirih
Dari jauh kau pandang tubuhmu  tangguh
setiap kata pasti dibuai ikut luruh
seperti daun kering terlindas kaki
Kau di pelupuk mata orang rami
dalam selimut ayah malam hari
Tepekur, seperti mati
Tuan pemilik senja dan pagi
bertemu tengah malam dan sore hari
Masih sanggup berdamai dengan diri?
Jangan paksakan, teruslah lari
karna rantai, masih melilit di kaki.
 
 
 
Epon Putra, kelahiran Dharmasraya 20 Juli 1993. Sedang menjalani pendidikan di salah satu Perguruan Tinggi di Padang (STKIP PGRI SUMATERA BARAT). Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Aktif menekuni seni menulis sejak merasa terasing dengan diri sendiri. Dengan menulis keluh kesah yang berputar-putar di kepala dapat dimuntahkan dalam tulisan untuk dinikmati orang banyak. Facebook: EpRa
 


Berita Lainnya

Index
Galeri