RIAUREALITA.COM — Isabelle Huppert menegaskan bahwa wajah dan aktingnya di layar masih murni miliknya sendiri, bukan hasil rekayasa kecerdasan buatan. Pernyataan itu disampaikan aktris senior Prancis tersebut dalam konferensi pers film "All About Corinne" di Busan International Film Festival. Ia mengaku belum merasa terancam oleh kehadiran AI, meski menyadari prospek kelam yang mungkin menimpa profesi aktor.
"It really is me acting. So I haven't yet been threatened, confronted with that admittedly grim prospect," ujar Huppert saat ditanya apakah AI mulai menggerus lapangan kerja aktor. "So far I've seen that it's still my face on screen, and I hope that continues," tambahnya.
Huppert mengakui AI memang ancaman secara teori. Namun ia membandingkannya dengan kekhawatiran lama bahwa bioskop akan hilang atau piringan hitam akan punah, yang justru bangkit kembali lewat kebangkitan vinyl. "Maybe I'm wrong to be optimistic, I don't know," katanya.
Film "All About Corinne" dan Peran Seorang Figuran
"All About Corinne" disutradarai Marc Fitoussi dan tayang di seksi Gala Presentation Busan. Film ini lebih dulu tayang perdana di Locarno. Huppert berperan sebagai Corinne Maclou, figuran veteran yang tak pernah melepas mimpinya menjadi aktris sungguhan, dan mengikuti persahabatannya dengan aktor lain. Sandrine Kiberlain dan sejumlah nama terkenal tampil sebagai diri mereka sendiri.
Ditanya soal pendekatannya memerankan figuran, Huppert menilai kekuatan skenario dan dialog Fitoussi sudah melakukan sebagian besar pekerjaan. "I play an extra, but I could just as well play any other profession. So for me it didn't present any particular difficulty," ujarnya.
Ia juga menolak anggapan bahwa film ini memandang profesi akting hanya dengan kehangatan. Menurutnya, ada kekejaman tertentu dalam banyak situasi. Industri film dalam cerita itu, kata dia, adalah salah satu contoh masyarakat yang sangat hierarkis. "Obviously that applies to any similar organization where there are those who have power and those who don't. It isn't necessarily about demonizing the world of cinema either," jelasnya.
Kolaborasi Keempat dan Proyek Baru Fitoussi
"All About Corinne" menandai kolaborasi keempat Fitoussi dengan Huppert. Sang sutradara mengaku proyek ini bermula hampir seperti lelucon, yakni ide menempatkan salah satu aktris tersibuk Prancis sebagai sosok yang tak pernah kebagian akting. Fitoussi menelepon Huppert sebelum menulis satu kata pun. "It's because she said yes that I started writing," katanya.
Ia juga menghubungi Kiberlain dan para aktor lain yang tampil sebagai diri sendiri sebelum mulai menulis naskah. Fitoussi pertama kali mengeksplorasi dunia figuran lewat dokumenter "Des Figurants" pada 2008. Dari salah satu subjeknya, seorang perempuan yang memakai syal merah muda demi menarik perhatian sutradara, lahir ide rambut khas milik Corinne. "In any case, these are characters I inevitably find very moving, because they're a bit like losers, a bit invisible. And it was nice to make them heroic for the length of a film," ujarnya.
Fitoussi mengaku sempat mulai menulis film yang menempatkan Huppert sebagai sopir truk. Ia menghentikannya setelah tahu Juliette Binoche membintangi film Amerika dengan peran serupa. Naskah itu kemungkinan akan ia kembalikan suatu hari nanti.
Soal proyek berikutnya, Fitoussi menyebut ia berada di tahap awal sebuah proyek baru dan ingin kembali bekerja sama dengan Huppert. "It's a bit too early to talk about it, but in any case I saw a film with Joan Crawford that really excites me, and imagining a remake with Isabelle tempts me quite a lot," katanya. "I hope so," balas Huppert.
Jadwal Tayang dan Proyek Dario Argento
Huppert memastikan akan tampil dalam film garapan Dario Argento. "I'm very happy about it. I think it will be some time next year," ucapnya. "All About Corinne" dijadwalkan tayang di Korea Selatan pada musim semi mendatang.
Kedatangan Huppert ke Busan berlangsung cepat. Ia tiba pada pagi hari saat konferensi pers digelar, setelah membacakan novel pemenang Nobel Han Kang di Seoul bersama Lee Hye-young, lawan mainnya dalam "A Traveler's Needs" arahan Hong Sang-soo. Keduanya pertama kali mementaskan bacaan itu di Avignon Festival, ajang yang tahun ini menjadikan Korea sebagai negara tamu. Ini penampilan panggung kedua Huppert di Seoul, setelah "Mary Said What She Said" garapan Robert Wilson.
Ini kunjungan ketiga Huppert ke Busan, sementara Fitoussi baru pertama kali ke Korea. Huppert sendiri telah membintangi tiga film Hong. Tahun ini ia terpilih sebagai presiden perempuan pertama Cinémathèque Française.
Bagi industri film global, sikap optimistis Huppert menjadi suara langka di tengah gelombang kekhawatiran soal AI yang kian deras menerpa kalangan aktor dan kru produksi.

