Sutradara Korea Kim Sung-soo Garap Worm Train Pakai Kling AI di Busan

Sutradara Korea Kim Sung-soo Garap Worm Train Pakai Kling AI di Busan
Sutradara Kim Sung-soo mengumumkan proyek film pendek Worm Train dalam panel ACFM Busan.

RIAUREALITA.COM — Sutradara Korea Selatan Kim Sung-soo mengumumkan sedang menggarap film pendek Worm Train dengan bantuan alat AI Kling, diumumkan dalam panel di Asian Contents & Film Market (ACFM) Busan. Film ini terinspirasi dari cerpen Metamorphosis karya Franz Kafka, dengan premis cacing raksasa yang bekerja di kereta bawah tanah. Kim, yang dikenal lewat Asura: The City of Madness dan 12.12: The Day, membagikan teaser perdananya di hadapan peserta panel.

Kim Sung-soo membawa proyek Worm Train ke panggung panel bertajuk New Cinematic Possibilities: Reimagining Filmmaking with Kling AI, bagian dari InnoAsia track di ACFM Busan. Panel itu juga menghadirkan sineas animasi China Li Wei, sutradara sekaligus CEO MooAm Co Harry Hyun, dan Lee Sang-wook dari MBC C&I AI Contents Lab.

Kling AI, yang baru merilis model generasi gambar 4.0, mengumpulkan para pembuat film ini untuk mempresentasikan proyek terbaru mereka. Worm Train sendiri masih dalam tahap pengembangan dengan teaser yang sudah ditunjukkan ke peserta panel.

Premis Worm Train dan Pendekatan Kim Sung-soo

Worm Train berangkat dari cerpen Metamorphosis Franz Kafka, tetapi Kim memindahkan gagasan itu ke konteks yang jauh berbeda: seekor cacing raksasa yang pergi bekerja menaiki kereta bawah tanah. Kim menyebut AI telah mengubah cara ia berpikir tentang pembuatan film.

"Satu hal yang tidak pernah berubah, yaitu apa yang membuat sebuah film terasa sinematik," ujar Kim dalam panel tersebut.

Baginya, teknologi tidak menggantikan kreativitas. Nilai sebuah gambar tetap berasal dari campur tangan manusia, meski alat yang dipakai kini semakin mudah diakses siapa saja.

Peringatan soal Estetika yang Seragam

Harry Hyun, sutradara di balik AI film Crypto Man dan Genfluencer, menyoroti risiko lain. Menurutnya, produksi AI dan produksi tradisional tidak berbeda secara fundamental, kecuali pada efisiensi dan kesederhanaan prosesnya.

"Kalau kamu tidak punya pembuat film berpengalaman di lokasi, semuanya bisa terlihat sama," kata Hyun.

Ia menekankan pentingnya art director, sutradara, dan sinematografer yang paham kapan memakai close shot atau wide shot, serta bagaimana membingkai gambar. Keputusan semacam itu, kata Hyun, lahir dari diskusi panjang di lokasi syuting, bukan pilihan acak.

Kolaborasi dan Umpan Balik Cepat

Li Wei, yang sedang menggarap film animasi Born Of The Tide dengan alat Kling AI, melihat sisi praktis lain. Hasil produksi AI bisa langsung dilihat, sehingga umpan balik dari tim lebih cepat masuk.

"Akan banyak trial and error dalam pembuatan film AI, tapi komunikasi yang efektif bisa dipakai antaranggota produksi," ujar Li.

Sementara Lee Sang-wook mempresentasikan teaser serial Rendering Love, hasil kerja sama MBC C&I dan Barunson E&A. Serial itu menggabungkan adegan live-action yang direkam secara tradisional dengan karakter hasil AI untuk bercerita tentang grup K-pop virtual.

Lee mencatat munculnya peran dan cara kerja baru dalam kru produksi AI. Semua staf mesti memahami teknologi yang dipakai, dan ketika model diperbarui, pemimpin tim perlu menganalisis fitur baru lalu membagikannya ke seluruh anggota.

Regulasi AI dan Hak Cipta

Para pembicara juga membahas perlunya standar industri untuk pembuatan film AI. Kim menilai hal itu masih terlalu dini, setidaknya di Korea Selatan.

"Kreator di Korea punya ide dan imajinasi sendiri dan ingin melepaskannya lewat alat AI. Kita perlu melihat ke mana semua ini mengarah sebelum bicara soal regulasi dan standar," ujarnya.

Meski begitu, Kim mengaku selalu memikirkan apakah karyanya berpotensi melanggar hak orang lain. Kesadaran itu, katanya, harus ada sejak tahap awal produksi.

Panel ini berlangsung di tengah gelaran Asian Contents & Market (ACFM) yang berjalan hingga 13 Oktober. Kehadiran sutradara sekelas Kim di forum AI menunjukkan bahwa adopsi teknologi generatif di industri film Asia kini bergerak dari eksperimen kecil ke proyek yang melibatkan nama-nama besar.


Berita Lainnya

Index
Galeri