RIAUREALITA.COM — Gerakan Boycott, Divestment, Sanctions (BDS) Yordania menyerukan boikot terbuka terhadap konser Andrea Bocelli yang dijadwalkan digelar di Petra, Yordania, pada 27 November mendatang. Seruan itu muncul karena rekam jejak penyanyi tenor asal Italia tersebut yang pernah tampil di Israel dan bernyanyi di acara penggalangan dana untuk militer Israel. Pihak penyelenggara lokal bergerak mempertahankan konser yang menjadi bagian tur dunia Romanza itu.
Konser Andrea Bocelli di situs bersejarah Petra, Yordania, menghadapi desakan pembatalan jelang jadwal tampilnya pada 27 November mendatang. Gerakan BDS Yordania bersama jajarannya secara terbuka menyerukan publik untuk tidak membeli tiket dan menuntut pertunjukan musisi berusia 68 tahun itu dibatalkan.
Desakan tersebut beredar melalui pernyataan tertulis pada Rabu (7/10). BDS Yordania menyoroti rekam jejak Bocelli yang dinilai lama memberikan dukungan terbuka kepada Israel.
Isi Seruan Boikot BDS Yordania
Dalam pernyataannya, BDS Yordania mengajak masyarakat menolak kehadiran Bocelli di Petra. Mereka menilai panggung di situs warisan dunia itu tidak layak diberikan kepada figur yang pernah mendukung militer Israel.
"Kami menyerukan kepada Anda untuk memboikot konser Andrea Bocelli karena dukungannya yang telah lama diberikan secara terbuka kepada musuh Israel... Jangan beli tiket! Tuntut... pembatalan konser ini," demikian pernyataan tertulis gerakan BDS Yordania.
"Sangat tidak dapat diterima jika Petra yang menjadi salah satu situs paling ikonis di Yordania dan dunia Arab jadi panggung bagi seseorang yang pernah menggalang dana untuk tentara pendudukan," lanjut pernyataan tersebut.
Rekam Jejak Bocelli yang Picu Kontroversi
Bocelli sebelumnya tampil langsung di Stadion Tel Aviv pada 2022 di hadapan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Ketika itu ia mengabaikan seruan boikot dari para aktivis pro-Palestina.
Pelantun lagu-lagu klasik tersebut juga tercatat pernah bernyanyi dalam acara penggalangan dana untuk mendukung militer Israel di Los Angeles pada 2010. Dua catatan inilah yang menjadi dasar utama desakan boikot di Yordania.
Tur Romanza dan Alasan Penyelenggara Bertahan
Konser di Petra dirancang sebagai bagian dari rangkaian tur dunia Romanza. Tur tersebut digelar untuk merayakan tiga dekade perjalanan karier bermusik Bocelli.
Di sisi lain, penyelenggara lokal berupaya mempertahankan gelaran tersebut. Direktur Eksekutif asosiasi penyelenggara, Souha Bawab, menilai kedatangan penyanyi itu menjadi momentum berharga bagi pariwisata setempat.
Bawab menyebut pertunjukan musik kelas dunia ini sebagai kesempatan emas untuk "menampilkan Yordania kepada dunia" sekaligus "memperkuat statusnya sebagai destinasi yang memadukan warisan sejarah dan pengalaman budaya."
Posisi Petra di Peta Wisata Yordania
Petra merupakan warisan dunia UNESCO dan menjadi destinasi utama wisatawan mancanegara di Yordania. Situs ini terkenal dengan bangunan kuil megah yang dipahat langsung di dinding batu berwarna merah muda.
Status ikonis Petra itulah yang membuat konser Bocelli menjadi perhatian ganda. Satu sisi mendatangkan promosi pariwisata, sisi lain memicu gelombang penolakan politik di dalam negeri Yordania.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak Bocelli maupun promotor mengenai respons atas seruan boikot tersebut. Tekanan publik menjelang 27 November akan menentukan apakah konser di Petra tetap berjalan sesuai jadwal.

