Sering Pusing Saat Defisit Kalori? Dokter Gizi Jelaskan Penyebabnya

Sering Pusing Saat Defisit Kalori? Dokter Gizi Jelaskan Penyebabnya
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menjelaskan penyebab pusing saat defisit kalori.

RIAUREALITA.COM — Defisit kalori jadi cara populer menurunkan berat badan, tapi banyak ibu muda mengeluh pusing dan lemas saat menjalaninya. Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengungkap biang keroknya dan cara defisit kalori yang aman agar tubuh tetap bertenaga.

Defisit kalori sering dianggap jalan pintas menurunkan berat badan. Padahal, pola makan yang terlalu ketat justru bisa membuat kepala pusing dan badan lemas sepanjang hari.

Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menyebut keluhan ini muncul ketika seseorang keliru menerapkan defisit kalori. Kesalahan paling umum: memangkas karbohidrat secara berlebihan.

Karbohidrat Bukan Musuh Saat Diet

Banyak orang mengaku sedang defisit kalori, tapi yang dihilangkan justru nasi dan sumber karbohidrat lain. Padahal tubuh tetap membutuhkan karbohidrat sebagai salah satu makronutrien utama, bersama protein dan lemak.

"Biasanya orang itu judulnya bilang defisit kalori, tapi ternyata yang dia pangkas itu justru kebanyakan karbohidrat. Sementara kita masih butuh karbo, jangan dimusuhin juga," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (24/9/2026).

Menurutnya, nasi tidak perlu dihilangkan total dari menu harian. Yang perlu diatur adalah porsinya, bukan menghapusnya sama sekali.

Kenapa Kepala Jadi Pusing Saat Karbohidrat Dipangkas Habis

Ketika asupan karbohidrat dipangkas terlalu banyak, apalagi dalam pola makan sangat rendah kalori, tubuh kehilangan sumber energi yang biasa dipakai. Kondisi inilah yang memicu lemas dan pusing.

"Jadi kalau misalnya kamu pangkas atau defisit kalori, yang dimakan misalnya cuma sayur sama protein," kata dr Yaze.

"Karbonya dikit banget atau bahkan sama sekali enggak makan karbo, dia pasti akan lemes, pusing. Karena sebenarnya otak kita itu yang dia pakai adalah karbohidrat," paparnya.

Otak Butuh Glukosa dari Karbohidrat

Ada alasan biologis di balik rasa pusing akibat diet tanpa karbohidrat alias zero-carb. Protein dan lemak butuh waktu serta proses metabolisme lebih panjang untuk diubah menjadi energi.

Karbohidrat berbeda. Zat gizi ini bisa langsung diolah tubuh menjadi glukosa yang dibutuhkan otak.

"Jadi kalau misalnya benar-benar nol karbo, pasti pusing, lemes, bahkan bisa pingsan. Karena butuh proses untuk memecah protein dan lemak menjadi glukosa," terang dr Yaze.

"Sementara kalau karbohidrat, itu dia langsung dipecah menjadi glukosa, langsung dipakai sama otak kita," tambahnya.

Porsi Karbohidrat Tiap Orang Berbeda

dr Yaze melarang keras praktik memangkas karbohidrat hingga habis saat berdiet. Kunci defisit kalori yang aman adalah tetap menyertakan karbohidrat dengan takaran sesuai kebutuhan masing-masing.

"Jadi enggak boleh benar-benar dipangkas sampai habis. Makanya biasanya tiap orang tetap aku kasih karbo, tapi memang pasti ada porsinya. Misalnya ada yang cuma bisa 5 sendok, ada yang 8 sendok. Jadi tiap orang memang beda-beda," pungkasnya.

Kalau ibu sedang menjalani program penurunan berat badan dan mulai sering pusing, coba cek lagi porsi karbohidrat harian. Konsultasikan dengan dokter gizi sebelum memangkas asupan lebih jauh, apalagi bila keluhan lemas berlanjut atau sampai hampir pingsan.


Berita Lainnya

Index
Galeri