RIAUREALITA.COM — Harga Pertamax diproyeksi naik hingga 11% pada Oktober 2026 seiring lonjakan harga minyak dunia yang hampir menembus US$107 per barel. Kenaikan ini juga berpotensi menyeret Pertamax Green 95, Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Pemerintah memastikan harga Pertalite tidak naik hingga akhir tahun.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung memberi sinyal penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi pada periode Oktober 2026. Langkah ini diambil menyusul harga minyak mentah global yang terus berfluktuasi hingga hampir menembus US$107 per barel.
"Pertalite tidak ada kenaikan [sampai akhir tahun], tetapi kalau yang nonsubsidi, ini akan disesuaikan dengan harga pasar. Kita lihat rata-rata dalam satu bulan kira-kira penyesuaiannya berapa," ujar Yuliot dalam agenda Hari Pertambangan dan Energi di Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Yuliot menjelaskan lonjakan harga minyak mentah global berdampak langsung terhadap pasokan domestik. Sebab, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi sebagian besar kebutuhan energi nasional.
Proyeksi Harga Pertamax Green 95 dan Pertamax Turbo
Pengamat energi Yayan Satyakti memprediksi harga Pertamax Green 95 naik dari Rp19.150 per liter menjadi Rp21.200 per liter. Sementara Pertamax Turbo diperkirakan meningkat dari Rp19.600 per liter menjadi Rp21.450 per liter.
Untuk jenis solar atau diesel, harga Dexlite diproyeksikan naik dari Rp23.700 per liter menjadi Rp25.000 per liter. Pertamina Dex berpotensi melonjak dari Rp25.200 per liter menjadi Rp26.600 per liter.
Beban Pertamina Jika Harga Ditahan
Jika pemerintah masih menahan harga Pertamax yang tidak mendapatkan kompensasi APBN, Yayan memperhitungkan PT Pertamina (Persero) harus menanggung selisih terhadap harga formula sekitar Rp1,06 triliun per bulan. Angka itu dihitung dengan asumsi volume konsumsi 14.200 kiloliter per hari.
"Mengingat lonjakan harga pasar internasional saat ini, potensi beban keuangan yang ditanggung Pertamina bahkan diperkirakan membengkak hingga menyentuh Rp1,4 triliun/bulan," katanya.
Transparansi Harga Diminta Jadi Prioritas
Yayan menyarankan pemerintah bersikap transparan dalam menyampaikan kebijakan penyesuaian harga BBM. Menurutnya, kenaikan kecil yang dapat diperkirakan lebih mudah diterima publik daripada kejutan harga.
"[Hal] yang sebaiknya dilakukan, untuk jangka pendek, adalah umumkan harga beserta alasannya secara terbuka. Kenaikan kecil yang dapat diperkirakan lebih mudah diterima daripada kejutan," ujar Yayan.
Untuk jangka menengah, ia merekomendasikan penyesuaian harga dilakukan lebih sering dengan skala yang lebih kecil. Tujuannya mencegah penumpukan beban lonjakan harga secara drastis.

