ITMG Genjot Bisnis Nikel dan PLTS, Kapasitas Surya Tembus 152 MWp

ITMG Genjot Bisnis Nikel dan PLTS, Kapasitas Surya Tembus 152 MWp
ITMG menambah kapasitas PLTS kumulatif menjadi 152 MWp pada kuartal II 2026.

RIAUREALITA.COMParagraf pembuka: Langkah diversifikasi ini diambil saat ITMG masih menikmati kinerja keuangan positif dari batu bara. Pendapatan perseroan pada semester I 2026 menembus US$ 1 miliar, naik 9% secara tahunan, ditopang kenaikan volume penjualan dan harga jual rata-rata batu bara. Direktur Utama ITMG Mulianto menyebut ekspansi ke energi terbarukan dan mineral strategis sebagai fondasi pertumbuhan jangka panjang.

PLTS Jadi Andalan Diversifikasi

ITMG terus menambah kapasitas pembangkit listrik tenaga surya. Per kuartal II 2026, total kapasitas kumulatif proyek surya yang telah dikontrak mencapai 152 megawatt peak (MWp).

Dari jumlah itu, 86 MWp sudah beroperasi. Angka ini tumbuh 12% dibanding kuartal sebelumnya dan lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

"Pengembangan pembangkit listrik berbasis energi surya menjadi upaya ITMG untuk membangun bisnis yang semakin beragam, hingga mampu menciptakan nilai jangka panjang," kata Mulianto dalam paparan publik 2026, Rabu (9/9).

Nikel dan Mineral Strategis Masuk Radar

Nikel menjadi salah satu komoditas yang dibidik ITMG untuk mendukung tren elektrifikasi. Meski begitu, perseroan tidak membatasi ekspansi hanya pada satu jenis mineral.

ITMG juga membidik peluang investasi pada sejumlah mineral strategis lain dalam jangka panjang. Saat ini perseroan telah menggenggam 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE).

Mulianto membuka peluang menambah kepemilikan di NICE, dengan catatan investasi tersebut memberi nilai tambah dan sesuai strategi bisnis.

"Apakah kami akan menambah kepemilikan di NICE, tentu saja itu salah satu yang menjadi pertimbangan kami, apabila bisa memberikan nilai lebih," ucap Mulianto.

Proyeksi Kinera dan Target Harga Saham

Equity Analyst KB Valbury Sekuritas Adolf R B Setiadi menilai prospek ITMG masih positif. Perbaikan produksi batu bara pada semester II 2026 dan ekspansi di luar komoditas tersebut menjadi penopang utama.

Adolf memperkirakan kinerja operasional membaik seiring cuaca yang lebih kering dan persetujuan RKAB dengan alokasi produksi 23 juta ton. Manajemen menargetkan produksi 5,9 juta ton pada kuartal III 2026 dan 22 juta–22,9 juta ton sepanjang tahun.

KB Valbury memproyeksikan pendapatan ITMG mencapai US$ 2,08 miliar pada 2026, naik 10,5% secara tahunan. EBITDA diperkirakan tumbuh 11,8% menjadi US$ 383,6 juta, sedangkan laba bersih naik 16,6% menjadi US$ 222,6 juta.

Risiko tetap ada, terutama dari kepastian alokasi Domestic Market Obligation (DMO) dan kendala logistik sungai saat musim kemarau.

Kontribusi Energi Terbarukan Belum Material

Adolf menilai ekspansi ke energi terbarukan dan nikel memperkuat prospek diversifikasi jangka panjang. Meski kontribusi energi terbarukan terhadap laba 2026 diperkirakan belum material, pengembangan PLTS dapat bertahap mengurangi ketergantungan arus kas pada batu bara termal.

"Kepemilikan 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE) memberikan ITMG eksposur jangka panjang terhadap industri nikel Indonesia," tulis Adolf dalam risetnya.

KB Valbury mempertahankan rekomendasi beli saham ITMG dengan target harga Rp 29.300 per saham, mencerminkan potensi kenaikan 12,4%. Valuasi premium ITMG dibanding rata-rata sektor ditopang posisi kas bersih lebih dari US$ 700 juta pada semester I 2026 dan tingkat utang yang rendah.

Kinerja Semester I 2026

ITMG membukukan pendapatan US$ 1 miliar pada semester I 2026, naik 9% dari US$ 919 juta pada periode sama 2025. Pertumbuhan ditopang kenaikan volume penjualan batu bara 5%, dari 11,7 juta ton menjadi 12,3 juta ton.

Harga jual rata-rata juga naik 4%, dari US$ 78 per ton menjadi US$ 81 per ton. "Kenaikan harga jual rata-rata tersebut sejalan dengan menguatnya harga acuan batu bara," ungkap manajemen ITMG dalam keterangannya, dikutip Selasa (11/8).

Dari sisi produksi, ITMG mencatat volume 9,9 juta ton pada semester I 2026, turun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Penutup: Manuver ITMG mencerminkan pola yang mulai diikuti sejumlah emiten batu bara: menjaga arus kas dari komoditas lama sambil membangun pijakan di bisnis hijau dan mineral masa depan. Bagi investor, taruhannya ada pada seberapa cepat PLTS dan nikel bisa menyumbang laba nyata, bukan sekadar janji diversifikasi.


Berita Lainnya

Index
Galeri