RIAUREALITA.COM — Cuaca kering yang melanda Kota Bengkulu membuat kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) melonjak. Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bengkulu mencatat 5.156 kasus sepanjang 2026, dan yang paling memprihatinkan, lebih dari setengahnya—tepatnya 3.032 kasus—terjadi pada anak di bawah lima tahun.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Nelli Hartati, mengingatkan para orang tua untuk tidak menyepelekan gejala gangguan pernapasan pada buah hati. Kondisi ini bisa memburuk dengan cepat jika penanganan terlambat.
Jangan Abai, Segera Periksa ke Faskes
Nelli menegaskan, balita adalah kelompok yang paling rentan terhadap komplikasi ISPA. Ketika anak mulai menunjukkan gejala seperti batuk, pilek, atau sesak napas, orang tua tidak boleh menunggu hingga kondisinya parah.
"Jangan abai, terutama kalau yang mengalami keluhan adalah balita. Ketika anak mulai menunjukkan gejala atau mengalami gangguan pernapasan, segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk diperiksa," ujarnya, Rabu (9/9/2026).
Penanganan dini bukan hanya meredakan gejala, tapi juga menentukan apakah kondisi anak membutuhkan perawatan intensif. Dari data yang dirilis, terdapat 8 kasus pneumonia pada balita dan 8 kasus kematian akibat pneumonia di kota ini.
Pneumonia: Risiko yang Bisa Dicegah
Salah satu bentuk ISPA yang paling serius adalah pneumonia. Penyakit ini menjadi penyebab utama kematian pada balita yang tercatat dalam data Dinkes Kota Bengkulu tahun ini.
Kabar baiknya, pneumonia bisa dicegah. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah menyediakan vaksinasi sebagai bentuk perlindungan. Nelli mengimbau orang tua memastikan anak mendapatkan imunisasi sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Vaksinasi dinilai menjadi tameng penting, namun bukan satu-satunya cara. "Pencegahan penyakit pernapasan tidak hanya bergantung pada vaksinasi," tegas Nelli.
Lindungi Anak dari Asap Rokok dan Debu
Lingkungan rumah memegang peran besar dalam mencegah ISPA kambuh. Orang tua diminta menjaga kebersihan rumah, menjauhkan anak dari paparan asap rokok, dan meminimalkan debu di dalam ruangan.
Polusi udara dalam ruangan sering kali menjadi pemicu yang terabaikan. Padahal, anak yang menghabiskan banyak waktu di rumah sangat rentan terhadap partikel berbahaya ini.
Selain kebersihan lingkungan, asupan gizi dan istirahat cukup juga tidak kalah penting. Tubuh yang sehat lebih mampu melawan infeksi virus maupun bakteri penyebab ISPA.
PHBS: Kebiasaan Sederhana yang Berdampak Besar
Dinkes Kota Bengkulu juga mengingatkan pentingnya Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dalam keseharian. Membiasakan anak mencuci tangan dengan sabun, terutama sebelum makan dan setelah bermain, bisa mengurangi risiko penularan.
Orang tua juga perlu lebih peka terhadap perubahan kondisi kesehatan anak sehari-hari. Jika anak terlihat lesu, demam tinggi, atau napas berbunyi, jangan ragu untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
"Lebih baik segera diperiksa daripada terlambat mendapatkan penanganan," pungkas Nelli.
Dengan kewaspadaan dan langkah pencegahan yang tepat, risiko ISPA pada balita bisa ditekan. Kunci utamanya adalah kepekaan orang tua dan akses cepat ke fasilitas kesehatan.

