RIAUREALITA.COM — Kinerja keuangan BUMN produsen pupuk tersebut dipaparkan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam Sidang Tahunan MPR serta Sidang Bersama DPR-DPD RI pada Jumat (14/8/2026). Prabowo menggarisbawahi pencapaian surplus laba yang berjalan beriringan dengan kebijakan keringanan beban biaya produksi bagi para petani nasional.
"Keuntungan PT Pupuk Indonesia, perusahaan negara BUMN, keuntungannya naik 252,8%," kata Prabowo di hadapan para anggota dewan.
Kepala Negara menegaskan intervensi harga yang diambil pemerintah berhasil menekan biaya pokok sarana produksi pertanian tanpa mengorbankan neraca keuangan BUMN.
"Harga pupuk berhasil kita turunkan 20%. Hal ini terjadi pertama kali dalam sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertama kali harga pupuk dapat kita turunkan kepada rakyat," ujarnya.
Penjualan Tembus Rp 59 Triliun Ditopang Efisiensi
Mengacu pada laporan keuangan semester I 2026, perseroan membukukan total pendapatan Rp 59,67 triliun, tumbuh 51 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada pos profitabilitas operasional, perolehan EBITDA melesat 140 persen mencapai Rp 14,28 triliun. Kenaikan volume produksi dan pengendalian beban pokok menjadi pendorong utama lonjakan margin tersebut.
Direktur Utama Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi menjelaskan, strategi efisiensi biaya dan keunggulan operasional menjadi jangkar bisnis perseroan di tengah fluktuasi pasar komoditas global.
"Berkat dukungan pemerintah melalui Danantara transformasi bisnis secara menyeluruh sudah mulai membuahkan hasil berupa capaian kinerja keuangan yang membanggakan. Dengan fondasi keuangan yang semakin kuat, kami optimistis pertumbuhan ini berkelanjutan, bukan hanya untuk kinerja perusahaan, tapi juga untuk kontribusi yang lebih besar terhadap ketahanan pangan nasional," ujar Rahmad.
Penyaluran Subsidi Lewat i-Pubers Capai 6,33 Juta Ton
Hingga 1 September 2026, Pupuk Indonesia telah mengucurkan 6,33 juta ton pupuk bersubsidi ke berbagai sentra pertanian. Realisasi ini mencakup 64,3 persen dari total kuota penyaluran nasional tahun berjalan yang dipatok 9,8 juta ton. Kecepatan distribusi tersebut melampaui ritme tahun 2025 yang tercatat menyalurkan total 8.110.571 ton pupuk bersubsidi.
Percepatan tebus pupuk di tingkat petani didukung implementasi sistem digital i-Pubers serta payung hukum Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2025. Alur administrasi yang ringkas memangkas hambatan distribusi logistik pupuk di lapangan.
"Sejalan dengan agenda transformasi BUMN yang didorong Danantara, semua perubahan struktural ini bermuara pada satu hal, pupuk yang terjangkau dan lebih cepat sampai ke petani, dengan cost yang lebih sehat bagi negara serta menjaga ketahanan pangan," ungkap Rahmad.
Revitalisasi Pabrik dan Diversifikasi Non-Subsidi
Untuk menjaga kesinambungan pasokan jangka panjang, holding BUMN ini menyiapkan program peremajaan terhadap tujuh unit pabrik dalam tempo lima tahun ke depan. Di luar produk reguler, perseroan memperluas portofolio bisnis ke segmen non-subsidi, pengembangan metanol, hingga rantai pasok amonia bersih (clean ammonia).
Langkah diversifikasi komersial ini dirancang untuk menopang beban penugasan publik tanpa memicu ketergantungan sepihak pada subsidi fiskal pemerintah.
"Bagi kami, keberlanjutan laba bukan soal mengejar angka tertinggi tiap tahun, tapi memastikan fondasi yang cukup kuat untuk tetap tumbuh meski kondisi global berubah-ubah. Ketahanan bisnis kami bukan hanya soal bertahan dari gejolak industri, tapi juga soal memastikan pertumbuhan ini dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil dan petani di akar rumput," pungkas Rahmad.
Penguatan laba bersih Pupuk Indonesia sekaligus membuktikan disiplin operasional mampu menjaga kelangsungan dividen negara di tengah mandat menurunkan harga pokok pertanian.

