PEKANBARU — Dampak karhutla di Riau kini terasa langsung di sektor perhotelan dan pariwisata. Okupansi kamar hotel di Pekanbaru turun drastis hingga 30 persen, didorong berkurangnya kunjungan wisatawan dan pembatalan reservasi akibat kabut asap yang tebal.
Padahal, perhotelan menjadi salah satu penopang ekonomi kota yang kerap ramai oleh kegiatan bisnis dan kunjungan dinas.
Hunian Hotel Anjlok, Pariwisata Ikut Tertekan
Kabut asap yang menyelimuti Pekanbaru dalam beberapa hari terakhir memaksa calon tamu menunda atau membatalkan perjalanan. Kondisi ini langsung berdampak pada pendapatan hotel dan pelaku usaha di sekitarnya, seperti restoran serta jasa transportasi.
Penurunan 30 persen tersebut terjadi di tengah musim kunjungan yang sebelumnya masih cukup berjalan normal. Pengelola hotel diimbau untuk terus memantau perkembangan kualitas udara dan memberikan informasi jelas kepada tamu tentang kondisi terkini.
Jarak Pandang Menyempit, Penerbangan di Sumsel Mulai Terganggu
Tidak hanya di darat, dampak asap juga menyentuh sektor udara. Jarak pandang yang memburuk di Sumatera Selatan dan sekitarnya membuat sejumlah pergerakan pesawat tidak lagi memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Pihak bandara dan maskapai biasanya menyesuaikan jadwal ketika visibilitas di bawah ambang batas aman. Namun bahan pemberitaan yang diterima tidak menyebut secara rinci jenis gangguan atau langkah resmi yang sudah diambil operator penerbangan.
Yang jelas, standar keselamatan penerbangan mengatur batas minimum jarak pandang untuk lepas landas maupun mendarat. Kondisi ini kerap memicu penundaan atau pengalihan rute ketika kabut asap tebal menyelimuti wilayah bandara.
Karhutla Riau dan Ancaman yang Terus Berulang
Kebakaran hutan dan lahan di Riau sudah berlangsung lama dan sering terjadi setiap musim kemarau. Sebagian besar titik api muncul di lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan ketika kondisi kering.
Asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu kesehatan warga, tetapi juga menekan aktivitas ekonomi serta mobilitas bepergian masyarakat. Jika tidak ditangani cepat, potensi kerugian di sektor hotel, transportasi udara, hingga kesehatan akan terus membesar.
Penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat, pemda, dan aparat penegak hukum. Selain pemadaman, perlu ada upaya pencegahan agar lahan tidak kembali dibakar saat musim kering tiba.

