Pariwisata Indonesia Sumbang Rp1.139 Triliun ke PDB pada 2025

Pariwisata Indonesia Sumbang Rp1.139 Triliun ke PDB pada 2025
Kontribusi langsung pariwisata Indonesia ke PDB tercatat Rp1.139 triliun pada 2025.

RIAUREALITA.COM — Pariwisata Indonesia mencatatkan kontribusi langsung Rp1.139 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada 2025, naik dari Rp975 triliun pada 2023. Angka ini dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) dalam laporan Tourism Satellite Account Indonesia 2023–2025 Volume 7. Sektor ini juga menyerap 25,91 juta tenaga kerja dan menempatkan jasa makanan-minuman sebagai penyumbang terbesar.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis laporan Tourism Satellite Account (TSA) Indonesia 2023–2025 Volume 7 yang memetakan seberapa besar pariwisata menyumbang ke perekonomian nasional. Laporan ini memisahkan aktivitas ekonomi pariwisata dari lautan data ekonomi makro. Hasilnya, tiga indikator utama menunjukkan tren naik konsisten selama tiga tahun terakhir.

Kontribusi Langsung ke PDB Capai Rp1.139 Triliun

Indikator pertama adalah Tourism Direct Gross Domestic Product (TDGDP), yang mengukur kontribusi langsung pariwisata terhadap ekonomi. Nilainya naik dari Rp975 triliun pada 2023, menjadi Rp1.057 triliun pada 2024, lalu Rp1.139 triliun pada 2025.

Porsinya terhadap total ekonomi nasional ikut naik dari 4,67 persen (2023) menjadi 4,78 persen (2025). Kenaikan ini menunjukkan sektor pariwisata tumbuh, meski belum melesat dibanding sektor lain.

Nilai Tambah Industri Pariwisata Tumbuh Lebih Cepat

Indikator kedua, Tourism Direct Gross Value Added (TDGVA), mengukur nilai tambah langsung dari industri pariwisata. Angkanya bergerak dari Rp940 triliun (2023), Rp1.033 triliun (2024), hingga Rp1.115 triliun (2025).

Pangsa TDGVA naik dari 4,70 persen ke 4,89 persen. Kenaikan porsi TDGVA sedikit lebih tinggi dibanding TDGDP. Ini menandakan pelaku usaha pariwisata makin efisien dan produktif, antara lain lewat diversifikasi produk, peningkatan layanan, dan pemanfaatan teknologi digital untuk promosi.

GVATI Sentuh Rp1.558,6 Triliun, tapi Porsinya Tergerus

Indikator ketiga, Gross Value Added of Tourism Industries (GVATI), menghitung nilai tambah dari semua industri terkait pariwisata, baik langsung maupun tidak langsung. Nilainya melesat dari Rp1.301 triliun (2023) menjadi Rp1.449,5 triliun (2024), lalu Rp1.558,6 triliun pada 2025.

Dalam setahun, GVATI bertambah sekitar Rp109,1 triliun. Namun kontribusinya terhadap ekonomi nasional justru turun tipis menjadi 6,83 persen pada 2025. Artinya, pariwisata tetap tumbuh, tapi sektor lain tumbuh lebih cepat sehingga porsi relatifnya tergerus.

Kuliner Jadi Mesin Utama Ekonomi Pariwisata

Jasa makanan dan minuman menyumbang 36,20 persen dari total GVATI. Posisinya jauh di atas jasa akomodasi (hotel, homestay, villa) dan jasa angkutan udara penumpang. Urusan perut memang jadi motor ekonomi pariwisata paling besar.

Data ini sejalan dengan kebiasaan wisatawan yang menjadikan kuliner bagian tak terpisahkan dari liburan. Belanja makanan-minuman tersebar merata, dari warung pinggir Danau Toba hingga restoran di kawasan wisata Bali dan Yogyakarta.

25,91 Juta Orang Hidup dari Sektor Pariwisata

Jumlah tenaga kerja pariwisata terus bertambah selama 2023–2025: dari 24.409 ribu orang (2023), menjadi 25.011 ribu orang (2024), dan mencapai 25.910 ribu orang pada 2025. Dalam tiga tahun, ada tambahan sekitar 1,5 juta orang yang menggantungkan hidup dari sektor ini.

Penyerapan tenaga kerja terkonsentrasi di tiga bidang. Penyediaan makan dan minum memimpin dengan porsi naik dari 39,85 persen (2023) menjadi 40,44 persen (2025). Posisi kedua ditempati perdagangan barang-barang pariwisata seperti suvenir, kerajinan, dan oleh-oleh, yang porsinya turun tipis dari 39,63 persen ke 39,13 persen.

Angkutan darat untuk penumpang menyumbang sekitar 9,18–9,69 persen dari total tenaga kerja pariwisata. Sektor ini mencakup sopir angkutan wisata, pemandu, hingga pedagang kaki lima di sekitar objek wisata.

Mengapa Data Ini Penting bagi Traveler

Angka-angka BPS ini menjelaskan mengapa pariwisata disebut sektor strategis. Setiap tiket pesawat ke Bali, menginap di homestay Yogyakarta, atau jajan nasi goreng di pinggir Danau Toba ikut menyumbang ke perekonomian negara.

Bagi wisatawan, data ini bisa jadi pertimbangan memilih layanan lokal saat berlibur. Belanja di usaha kecil dan menengah di daerah tujuan wisata berdampak langsung pada penciptaan lapangan kerja setempat.

Laporan lengkap TSA Indonesia 2023–2025 Volume 7 dapat diakses melalui publikasi resmi BPS untuk data per subsektor dan provinsi.


Berita Lainnya

Index
Galeri