RIAUREALITA.COM — Ketua Umum Periklindo Moeldoko menyebut industri baterai kendaraan listrik Indonesia masih terjebak perdebatan nikel versus LFP, sementara di luar negeri teknologi sodium-ion sudah berkembang cepat. Dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, ia menilai keterlambatan ini berakar pada kebiasaan mengikuti tren teknologi secara linear, bukan lompatan.
Moeldoko mengakui Indonesia punya cadangan nikel melimpah yang selama ini diandalkan untuk baterai kendaraan listrik. Namun ia mengingatkan perkembangan teknologi berjalan jauh lebih cepat dari asumsi industri dalam negeri.
Nikel Bukan Satu-satunya Jalan
Menurut Moeldoko, prinsip utama industri baterai kendaraan listrik adalah bahan baku yang mudah didapat dan biaya produksi rendah, supaya produk akhir punya daya saing. Dari prinsip itu, nikel bukan satu-satunya pilihan.
"Dari hulu kita memang memiliki sumber daya yang luar biasa di bidang nikel. Tapi saya ingin menyampaikan dengan perkembangan teknologi yang lompat itu bahwa baterai sekarang tidak hanya mengandalkan nikel, karena saat ini malah sudah berubah-ubah terus," kata Moeldoko.
Ia mencontohkan baterai LFP (lithium ferro phosphate) yang orientasinya bukan nikel. LFP disebut lebih efisien, lebih murah, dan punya daya tahan cukup baik dibanding NMC (nikel-mangan-kobalt).
"Jadi kita tidak harus nikel karena LFP itu orientasinya bukan nikel. Kenapa sekarang banyak industri baterai yang menggunakan LFP bukan NMC? Karena LFP jauh lebih efisien, lebih murah dan dia memiliki daya tahan cukup baik. Sedangkan NMC nikel itu mungkin pada industri-industri tertentu yang bisa diandalkan ke sana," ujarnya.
Komponen Inti Kendaraan Listrik Sebenarnya Sederhana
Moeldoko menilai teknologi kendaraan listrik sebenarnya tidak rumit. Tiga komponen utamanya hanya baterai, motor penggerak, dan kontroler.
"Kita bisa kok membuat sebenarnya, tapi sekali lagi kita terlambat," ujarnya.
Keterlambatan itu menurutnya bukan soal kemampuan teknis, melainkan soal kecepatan mengadopsi perubahan. Ia menyoroti industri dalam negeri yang masih fokus pada nikel sementara arah teknologi global sudah bergeser.
Di Luar Negeri Sudah Lompat ke Sodium
Moeldoko menyebut pengembangan baterai di luar negeri kini mengarah ke sodium atau natrium. Ia menyebut lompatan teknologi sodium fosfat sudah berjalan kencang karena mengejar efisiensi.
"Kita masih sibuk mikirin nikel, tapi sekarang (di luar negeri) sudah sodium, lompatan sodium fosfat sudah kencang sekali itu sekarang. Karena menuju kepada efisiensi gitu. Jadi nggak bisa teknologi itu nggak diikutin. Karena berkembangnya lompat bukan jalan linear," sebut Moeldoko.
Baterai sodium-ion memiliki desain mirip lithium-ion. Keduanya menghasilkan listrik lewat reaksi kimia dan terdiri dari anoda, katoda, pemisah, serta elektrolit. Perbedaannya, ion lithium di katoda diganti ion sodium, dan garam lithium di elektrolit ditukar dengan garam sodium.
Kelebihan dan Keterbatasan Baterai Sodium-ion
Dikutip dari CNN, baterai sodium-ion belum bisa memberi jarak tempuh sejauh lithium-ion. Namun ada sejumlah keunggulan yang membuat teknologi ini dilirik.
- Bahan baku sodium cenderung lebih murah dibanding lithium
- Berpotensi menekan harga mobil listrik agar lebih terjangkau
- Desain sel mirip lithium-ion sehingga relatif mudah diadopsi
- Jarak tempuh masih kalah dibanding lithium-ion
Pernyataan Moeldoko ini muncul di tengah posisi Indonesia yang punya kepentingan besar di rantai pasok nikel global. Hilirisasi nikel sudah menyerap investasi besar dan menjadi tulang punggung kebijakan kendaraan listrik nasional. Namun arah teknologi baterai dunia yang bergerak ke LFP dan sodium berpotensi mengubah peta permintaan nikel jangka panjang.
Bagi konsumen, pergeseran ini bisa berarti harga mobil listrik lebih terjangkau jika adopsi baterai murah berjalan. Tapi juga ada risiko: industri dalam negeri yang terlalu lama bertahan di satu jalur teknologi bisa ketinggalan dari produsen global yang lebih gesit berpindah.
Moeldoko tidak menyebut langkah konkret apa yang akan diambil Periklindo atau pemerintah setelah rapat tersebut. Yang jelas, ia menekankan satu hal: teknologi baterai bergerak secara lompatan, bukan linear, dan Indonesia tidak bisa mengabaikan arah itu.

