RIAUREALITA.COM — Menjalani intermittent fasting selama berbulan-bulan tapi angka di timbangan tak kunjung bergerak memang bikin frustrasi. Dokter gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, mengungkap penyebabnya dan cara mengatasinya.
Intermittent fasting jadi salah satu metode diet paling populer untuk menurunkan berat badan. Sayangnya, tidak semua orang yang menjalaninya mendapat hasil sesuai harapan. Sebagian justru mendapati berat badannya macet di angka yang sama meski sudah disiplin mengatur jadwal makan.
Respons Tubuh Tidak Selalu Sama
Spesialis gizi klinik dr Igus Ulfa Yaze, SpGK, menegaskan bahwa metode puasa intermiten tidak bisa diterapkan secara seragam pada setiap orang. Respons metabolisme tiap individu berbeda-beda.
"Nah ini kamu intermittent fasting-nya berapa jam dan sudah berapa lama dilakukan? Karena memang enggak semua orang itu cocok intermittent fasting," ujar dr Yaze dalam siaran langsung TikTok detikHealth, Kamis (24/9/2026).
Ada orang yang metabolismenya justru tidak merespons saat melewatkan sarapan. Ketika pola makan normal dikembalikan, berat badannya baru mulai turun.
"Ada beberapa yang dia enggak respons ketika kamu enggak makan pagi. Tapi ketika dia balik nih makan pagi, siang, makan malam, misalnya ditambah snack sore, baru mulai turun berat badannya," paparnya.
Nutrisi Kurang, Metabolisme Melambat
Penyebab utama berat badan enggan turun saat menjalani IF adalah ketidakcukupan nutrisi harian. Ketika jendela makan dipangkas terlalu ekstrem, asupan kalori dan protein sering berada jauh di bawah kebutuhan tubuh.
Kondisi ini membuat tubuh masuk ke mode hemat energi. Alih-alih membakar lemak, metabolisme justru melambat sebagai bentuk perlindungan diri.
"Karena yang tadi, ternyata dengan enggak makan pagi atau skip makan, proteinnya enggak tercukupi misalnya, terus kalori hariannya enggak tercukupi, akhirnya tubuhnya jadi mode saving," tegas dr Yaze.
Mengenali Pola Intermittent Fasting
Dikutip dari Mayo Clinic, intermittent fasting adalah pola makan yang berfokus pada jadwal kapan seseorang makan, bukan semata-mata pada jenis makanan yang dikonsumsi. Ada beberapa pola yang umum digunakan:
- Alternate-day fasting: Berpuasa penuh atau makan sangat sedikit pada hari tertentu, lalu makan normal di hari berikutnya.
- 5:2 fasting: Makan normal selama 5 hari, lalu membatasi kalori hingga 500-600 kalori pada 2 hari sisanya.
- Daily time-restricted fasting: Membatasi waktu makan dalam jendela tertentu, misalnya 8 jam makan dan 16 jam berpuasa.
Riset menunjukkan puasa intermiten dapat membantu membakar lemak dan meningkatkan kesehatan metabolisme. Namun efektivitas dan toleransi tubuh terhadap metode ini sangat bervariasi pada setiap orang.
Kapan Perlu Berhenti dan Konsultasi
dr Yaze mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri melanjutkan intermittent fasting jika progresnya terhenti atau justru memicu keluhan kesehatan. Tubuh memberi sinyal lewat berbagai cara, termasuk berat badan yang stagnan.
Mengembalikan pola makan teratur tiga kali sehari dengan porsi gizi seimbang kerap menjadi langkah tepat untuk mengaktifkan kembali metabolisme tubuh. Pastikan asupan protein dan kalori harian tercukupi sebelum memutuskan melanjutkan puasa intermiten.
Jika berat badan tetap tidak bergerak setelah beberapa minggu, konsultasikan dengan dokter gizi atau ahli gizi klinik. Setiap tubuh punya kebutuhan berbeda, dan pendekatan yang tepat akan membantu mencapai hasil yang diinginkan tanpa mengorbankan kesehatan.

