RIAUREALITA.COM — Nitisemito membangun kerajaan kretek Tjap Bal Tiga di Kudus dengan kapasitas produksi 8 juta batang per hari dan menyerap 10 ribu pekerja pada 1934. Pria kelahiran 1863 itu memakai pesawat untuk menyebar brosur rokok dari udara, cara promosi yang belum lazim di Hindia Belanda. Bal Tiga kemudian dipasarkan hingga Singapura dan Johor sebelum bisnisnya surut pasca-Perang Dunia II.
Arsip Nasional Republik Indonesia mencatat Nitisemito lahir di Kudus pada 1863 dengan nama Roesdi, putra Haji Soelaiman, seorang lurah di Desa Janggalan. Ia tidak mengikuti jejak ayahnya di ranah pemerintahan dan memilih jalur dagang, melewati beberapa usaha sebelum masuk ke bisnis tembakau dan rokok.
Dari Usaha Rumahan Jadi Pabrik Berbendera Merek
Catatan jurnal Jantra terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut usaha Nitisemito awalnya berskala kecil. Ia lantas mengangkat produksi kretek yang kala itu banyak dikerjakan di rumah menjadi industri yang lebih tertata.
Pada awal 1900-an ia mulai mengembangkan bisnis kretek. Tahun 1914 menjadi titik penting: Nitisemito mendaftarkan merek Tjap Tiga Bal dan membangun pabrik Kretek Cigaretten Fabriek M. Nitisemito Koedoes.
Beberapa merek sempat ia pakai sebelum akhirnya identik dengan Bal Tiga. Logo tiga bulatan pada kemasan menjadi identitas yang melekat. Kajian Jantra menempatkan Nitisemito sebagai salah satu pelopor penggunaan merek dan kemasan dalam pemasaran kretek.
Strategi Promosi yang Melampaui Zamannya
Nitisemito tidak menunggu pembeli datang. Ia memakai hadiah untuk menarik konsumen, mengoperasikan kendaraan sebagai sarana distribusi sekaligus alat promosi, dan memiliki stasiun radio sendiri bernama Kudusche Radio Bal Tiga Vereniging.
Cara paling mencolok adalah pemanfaatan pesawat. Dari udara, brosur rokok Bal Tiga disebar ke bawah, sebuah langkah yang tidak lazim untuk ukuran pengusaha pribumi masa itu.
Hasilnya terlihat pada skala usaha. Pada 1934, Bal Tiga disebut mempekerjakan 10 ribu orang dengan produksi hingga 8 juta batang rokok per hari.
Jaringan Agen dari Aceh sampai Boven Digul
Jurnal Universitas Diponegoro mengenai Museum Kretek mencatat agen Bal Tiga tersebar dari Aceh hingga Boven Digul. Dokumen yang tersimpan di museum juga menunjukkan hubungan dagang dengan Batam, Singapura, dan Johor.
Skala itu membuat Nitisemito dijuluki Raja Kretek. Kajian sejarah Museum Kretek menyebut ia bahkan dikenal dengan istilah "Koning der Koningen", raja di antara raja-raja kretek di Hindia Belanda.
Perusahaan juga punya sistem administrasi sendiri. Museum Kretek menyimpan Journal Keuangan Nitisemito, laporan pemasukan, dan berbagai dokumen transaksi perusahaan.
Jejaknya sampai ke lingkaran pemerintahan kolonial. Kajian Universitas Diponegoro mencatat Gubernur Jenderal Hindia Belanda mengunjungi perusahaan Bal Tiga pada 1937.
Keruntuhan Setelah Sang Raja Wafat
Bisnis sebesar Bal Tiga tidak bertahan selamanya. Persoalan internal, persaingan yang semakin ketat, dan masalah pengelolaan perusahaan menggerus fondasi usaha. Kondisi memburuk setelah perubahan ekonomi akibat Perang Dunia II dan pendudukan Jepang.
Nitisemito meninggal pada 1953. Setelah itu kejayaan Bal Tiga semakin meredup, dan kerajaan bisnis yang pernah mencetak jutaan batang rokok setiap hari tinggal sejarah.
Jejaknya masih tersimpan di Museum Kretek: dokumen perusahaan, foto, benda promosi, hingga peralatan bisnis. Bagi pelaku usaha hari ini, kisah Bal Tiga menunjukkan merek dan distribusi bisa mengangkat produk rumahan jadi industri besar, tetapi tanpa pengelolaan yang rapi, skala besar justru mempercepat keruntuhan.

