RIAUREALITA.COM — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 1,56% ke level 6.374,91 pada Rabu (23/9/2026), merespons keputusan Bank Indonesia menahan suku bunga acuan di 5,75%. Keputusan tersebut menjadi angin segar di tengah risiko outflow asing yang kian besar akibat tingginya imbal hasil di negara-negara maju. Saham perbankan menjadi motor penggerak utama kenaikan indeks pada sesi tersebut.
Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI September 2026. Keputusan itu langsung disambut positif oleh pelaku pasar saham domestik yang sebelumnya mengantisipasi potensi kenaikan bunga menyusul tekanan eksternal.
IHSG ditutup menguat 1,56% ke level 6.374,91 pada Rabu (23/9/2026). Penguatan tersebut menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa sesi terakhir, dengan saham-saham perbankan melambung hingga penutupan perdagangan.
Respons Pasar atas Keputusan BI
Keputusan BI untuk menahan suku bunga menjadi angin segar di tengah risiko kian besarnya outflow asing. Ketegangan di pasar global masih membayangi seiring tingginya imbal hasil di negara-negara maju yang menawarkan alternatif investasi lebih menarik bagi investor asing.
Meski demikian, risiko era tingginya suku bunga global belum sepenuhnya hilang. Pasar saham RI masih berada di antara peluang dan tantangan, tergantung arah kebijakan bank sentral negara maju dalam beberapa bulan ke depan.
Saham Perbankan Jadi Motor Penggerak
Sejumlah saham perbankan mencatat kenaikan signifikan hingga penutupan perdagangan. Sektor keuangan menjadi salah satu pendorong utama penguatan IHSG pada sesi tersebut, mencerminkan ekspektasi investor terhadap stabilitas suku bunga domestik.
Keputusan BI menahan suku bunga di level 5,75% memberikan kepastian bagi pelaku pasar. Stabilitas suku bunga acuan mendukung perhitungan valuasi saham, khususnya di sektor yang sensitif terhadap perubahan bunga seperti perbankan dan properti.
Risiko Outflow Asing Masih Membayangi
Meski pasar merespons positif, tekanan dari luar belum sirna. Tingginya imbal hasil di negara-negara maju menjadi magnet bagi investor asing untuk mengalihkan dana ke pasar yang menawarkan return lebih kompetitif.
BI memilih menahan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mendukung pertumbuhan ekonomi domestik. Keputusan ini menjadi sinyal bahwa bank sentral masih fokus pada keseimbangan antara stabilitas eksternal dan kebutuhan mendorong aktivitas ekonomi.
Apa Artinya bagi Investor
Investor dapat mencermati perkembangan kebijakan bank sentral global sebagai faktor penentu arah IHSG ke depan. Selama suku bunga acuan domestik stabil, sektor perbankan berpotensi tetap menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian pasar global.
Namun, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat risiko outflow asing bisa kembali meningkat jika imbal hasil di negara maju terus naik. Diversifikasi portofolio menjadi strategi yang relevan di tengah dinamika pasar saat ini.

