RIAUREALITA.COM — Paparan partikel halus abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau mengancam organ pernapasan hingga berisiko memicu asfiksia pada kondisi ekstrem. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia mengimbau publik membatasi aktivitas luar ruang dan menjaga higienitas pasokan air serta pangan guna mengantisipasi ancaman racun gas maupun partikel PM 2.5.
Prof Tjandra Yoga Aditama dari Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) memaparkan, terdapat lima dampak kesehatan utama yang harus diwaspadai masyarakat secara ketat sejak awal sebaran abu vulkanik terjadi.
Penetrasi Partikel Halus PM 2.5 Menuju Paru-paru
Ancaman utama abu vulkanik berasal dari materi partikulat berukuran sangat kecil atau partikel halus (PM 2.5). Sifat partikel yang amat renik membuat sistem filtrasi alami pernapasan tidak mampu membendungnya secara efektif.
Ketika terhirup, materi halus tersebut dapat meluncur langsung mencapai alveolus paru-paru. Dampaknya mulai dari batuk terus-menerus, rasa panas dan iritasi tenggorokan, memicu peradangan seperti bronkitis, hingga memperburuk kondisi penderita penyakit paru kronis secara drastis.
Sensasi Tercekik Akibat Konsentrasi Abu Ekstrem
Pada titik paparan abu berkonsentrasi sangat tinggi, terutama di wilayah yang berada dekat dengan pusat erupsi Anak Krakatau, timbul ancaman berupa asfiksia. Kondisi ini membuat korban kesulitan menghirup oksigen dalam kadar normal.
Pekatnya materi abu di udara menimbulkan sensasi tercekik yang menyiksa. Kurangnya asupan udara bersih menuntut perlindungan jalur napas secara maksimal bagi warga di zona rawan.
Kontaminasi Makanan dan Paparan Gas Kimia Berbahaya
Bukan hanya jalur inhalasi, abu vulkanik juga mengancam sistem pencernaan manusia jika material padat tersebut jatuh mencemari cadangan makanan atau menodai sumber air bersih publik. Tertelannya abu yang tercemar berisiko langsung menimbulkan gangguan saluran cerna.
Material padat yang beterbangan pun mengakibatkan iritasi fisik pada kulit dan indra penglihatan. Kontak terus-menerus dengan abu dapat memicu peradangan kulit hingga konjungtivitis pada mata.
Ancaman kian berlipat karena abu vulkanik tidak berdiri sendiri. Terdapat emisi gas vulkanik berbahaya seperti sulfur dioksida yang memicu pusing mendadak, sakit kepala, serta memperberat komplikasi pernapasan yang sudah ada.
Langkah Perlindungan Warga dari Sebaran Abu
Menghadapi tingginya risiko paparan partikel, Prof Tjandra Yoga Aditama menyarankan warga untuk menerapkan protokol mitigasi kesehatan secara mandiri di kediaman masing-masing.
Masyarakat diminta mengamankan tempat penampungan air dan menutup rapat seluruh pasokan bahan konsumsi agar steril dari debu vulkanik. Selain itu, warga dianjurkan menghindari aktivitas di luar rumah selama abu vulkanik masih menyebar di udara.

