WRI Proyeksi Subsidi Solar Rp161 Triliun Bisa Dihemat lewat Truk Listrik

WRI Proyeksi Subsidi Solar Rp161 Triliun Bisa Dihemat lewat Truk Listrik
WRI Indonesia memproyeksikan penghematan subsidi solar hingga Rp161 triliun melalui transisi ke truk

RIAUREALITA.COM — Lembaga riset WRI Indonesia memproyeksikan penghematan subsidi solar hingga Rp161 triliun bila kendaraan logistik nasional beralih ke truk listrik. Proyeksi itu muncul di tengah kebutuhan impor solar yang terus naik seiring pertumbuhan armada angkutan barang. Uji coba koridor khusus truk listrik pun mulai disiapkan untuk menguji kelayakan transisi ini.

Urban Mobility Manager WRI Indonesia Dimas Fadhil memaparkan proyeksi tersebut dalam sesi diskusi Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (7/10). Menurut dia, transisi ke truk listrik dibutuhkan karena konsumsi bahan bakar solar terus tumbuh dan kebutuhan impornya ikut meningkat.

"Analisis kami sebetulnya ketika ada transisi lain gitu ya kepada truk listrik akan terjadi penghematan subsidi sebesar Rp161 triliun," ujar Dimas.

Dua Hambatan Utama Menurut Pelaku Industri Logistik

Peralihan ke truk listrik tidak serta-merta mulus. Dimas menyebut pihaknya menemukan dua tantangan utama dari pelaku industri dan logistik.

Pertama, soal keandalan kendaraan dan infrastruktur pendukungnya. Kedua, harga truk listrik yang masih tergolong mahal.

"Jadi seperti charging station, kemudian truknya bisa jalan berapa jauh, dan juga yang kedua adalah harga (truk listrik) yang cukup mahal," ujarnya.

Green Freight Corridor Sedang Diuji Coba

Untuk menjawab hambatan itu, WRI Indonesia tengah menguji coba green freight corridor atau koridor khusus truk listrik. Uji coba ini berdiri di atas lima pilar utama.

  • Pilar pertama: penyusunan framework atau tata kelola beserta pilar pendukungnya.
  • Pilar kedua: call for project trial yang mengundang pelaku usaha mencoba kendaraan listrik secara langsung.
  • Pilar ketiga: pemasangan infrastruktur pengisian daya, baik permanen maupun sementara.
  • Pilar keempat: koordinasi lintas pemangku kepentingan, yang telah didukung Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.
  • Pilar kelima: evaluasi dan pemantauan terukur pada setiap kebijakan yang diambil.

Harapan Sebelum Kebijakan Jadi Permanen

Dimas berharap koridor ini menjadi ruang uji coba sebelum kebijakan truk listrik diterapkan secara permanen. Menurut dia, uji coba itu penting untuk memetakan apa saja yang perlu dibenahi dari sisi pemerintah maupun pengusaha.

"Kami berharap green freight ini juga bisa menjadi sebuah ajang uji coba gitu ya sebelum nanti menjadi sesuatu yang permanen, apa saja yang perlu di-unlock, apa saja yang perlu di-tackle dari sisi pemerintah maupun dari sisi pengusaha," ujar Dimas.

Proyeksi penghematan Rp161 triliun itu sendiri belum memerinci asumsi harga solar, volume konsumsi, maupun tenggat waktu transisi yang dipakai dalam perhitungan.


Berita Lainnya

Index
Galeri