RIAUREALITA.COM — Anak yang lambat menyelesaikan tugas sekolah sering kali dicap malas, padahal bisa jadi ia mengalami gangguan belajar spesifik. IDAI menyarankan orang tua untuk fokus pada usaha dan strategi, bukan sekadar nilai rapor. Berikut lima langkah praktis agar anak tetap percaya diri saat belajar.
Dr. Farid Agung Rahmadi dari Unit Kerja Koordinasi Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI menegaskan bahwa kesulitan belajar adalah kondisi menetap dalam membaca, menulis, atau matematika, meskipun kecerdasan anak normal atau tinggi. Orang tua perlu mengubah sudut pandang dari hasil akhir menuju proses.
Fokus pada Usaha, Bukan Nilai Rapor
Pergeseran mindset ini krusial. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, Ketua Pengurus Pusat IDAI, mengingatkan agar orang tua tidak buru-buru melabeli anak sebagai "bodoh" atau "nakal". Label negatif justru memperburuk kondisi psikologis mereka.
Sebagai gantinya, kenali pola kesulitannya. Setiap anak memiliki profil kemampuan unik. Penilaian hanya berdasarkan angka di rapor mengabaikan potensi besar anak di bidang lain yang mungkin belum terasah.
Pecah Tugas Menjadi Bagian Kecil
Tumpukan pekerjaan rumah sering membuat anak kewalahan. Solusi praktisnya adalah membagi tugas besar menjadi beberapa bagian kecil. Pendekatan ini menurunkan beban mental sehingga anak lebih mudah memulai.
Bantu anak dengan menggunakan timer untuk setiap segmen kecil tersebut. Target yang sederhana dan terukur membuat kegiatan belajar terasa lebih realistis. Anak akan merasakan kemenangan kecil setelah menyelesaikan satu bagian, yang memicu motivasi untuk melanjutkan.
Manfaatkan Media Visual dan Audio
Tidak semua materi harus dipelajari lewat teks buku. Bagi anak dengan disleksia, hambatan utama ada pada proses membaca, bukan pemahaman konsep. Mereka tetap bisa memahami cerita kompleks jika materi dibacakan atau disajikan secara visual.
Orang tua dapat mengganti metode konvensional dengan video edukasi, rekaman suara, atau diagram berwarna. Memahami bahwa kesulitan membaca tidak sama dengan ketidakmampuan berpikir adalah kunci untuk memilih media belajar yang tepat bagi anak.
Cari Kekuatan di Bidang Lain
Kegagalan di satu mata pelajaran tidak berarti kegagalan total. Dr. Farid menyarankan orang tua untuk aktif mencari kekuatan anak di bidang lain, entah itu seni, olahraga, atau keterampilan sosial.
Ruang untuk mengembangkan minat tersebut menjadi sumber kebanggaan vital. Ketika anak merasa mampu dan dihargai di area tertentu, kepercayaan dirinya pulih. Hal ini membentuk fondasi mental yang kuat untuk menghadapi tantangan akademik lainnya.
Hindari Perbandingan dengan Teman Sebaya
Mendampingi anak sulit belajar bukan berarti memaksanya mengejar ketertinggalan teman sebayanya secara instan. Lingkungan keluarga yang suportif jauh lebih efektif daripada tekanan kompetitif.
Perbandingan terus-menerus hanya meruntuhkan harga diri anak. Sebaliknya, pendekatan kolaboratif antara orang tua, sekolah, dan tenaga profesional membantu anak berkembang sesuai ritme kebutuhannya sendiri. Tujuannya adalah memastikan anak tidak takut menghadapi tugas sekolah.

