RIAUREALITA.COM — Operasi pencarian korban banjir bandang di wilayah Gyirong, Tibet, memasuki hari keempat dengan status 546 orang masih belum ditemukan. Dari jumlah tersebut, 261 jiwa merupakan warga negara asing yang berasal dari 23 negara, menurut data resmi otoritas China yang dirilis kemarin.
Jumlah korban meninggal di kawasan Tibet bertambah dari tujuh menjadi 16 orang. Sementara di Nepal, negara asal longsoran es yang memicu bencana, korban tewas mencapai 781 orang dan 2.502 lainnya dinyatakan hilang.
Informasi dari Lokasi Bencana Hampir Mustahil Diverifikasi
Lhadon Tethong dari Tibet Action Institute mengaku heran dengan kondisi di lapangan. Jaringan kontaknya yang selama ini aktif justru tidak mampu memberikan kabar apapun mengenai situasi warga Kyirong. "Sungguh mencengangkan bahwa di seluruh jaringan kontak kami, kami sama sekali tidak mendengar kabar apa pun," ujarnya.
Pengawasan ketat membuat jurnalis asing yang ingin meliput harus memiliki izin khusus yang sulit diperoleh. Perjalanan wartawan asing ke Tibet umumnya selalu didampingi dan diatur oleh pihak berwenang, berbeda dengan wilayah China lainnya.
Seorang warga Tibet di pengasingan yang menggunakan nama samaran Dawa mengatakan unggahan media sosial dan grup WeChat yang memuat informasi bencana mulai dihapus. Ia menambahkan, informasi yang bersumber dari luar China juga turut disensor.
Medan Ekstrem dan Ancaman Longsor Susulan
Area terdampak berada di kawasan Himalaya dengan medan sangat berat. Tim penyelamat harus melewati jalur pegunungan sejauh lebih dari 19 kilometer. Kondisi semakin berbahaya karena cuaca berubah cepat dan gletser di sekitar lokasi masih berpotensi runtuh.
Setidaknya satu dari dua bendungan alami yang terbentuk dari material batu, lumpur, dan sedimen masih berisiko jebol. Jika itu terjadi, banjir susulan hampir dipastikan menerjang wilayah yang belum sepenuhnya dievakuasi.
Kegagalan Transparansi di Tengah Krisis Kemanusiaan
Ketertutupan informasi menjadi persoalan kemanusiaan yang serius. Keluarga korban di luar China tidak memiliki akses yang memadai untuk mengetahui kondisi sanak saudara mereka. Ketergantungan pada satu sumber resmi, dalam situasi darurat seperti ini, berpotensi menimbulkan desas-desus dan kepanikan yang justru mempersulit proses evakuasi.
Tekanan internasional kini mengarah pada tuntutan agar China mengizinkan organisasi kemanusiaan dan jurnalis internasional masuk ke lokasi bencana. Tanpa kehadiran pihak ketiga yang independen, laporan tentang jumlah korban dan fase pencarian tidak dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.
Bencana ini menguji komitmen Beijing terhadap komitmen kemanusiaan global, di tengah sejarah panjang Tibet yang selalu diperlakukan secara khusus.

