Jodoh, Tentangmu dan Aku, Penjarah Mimpi, Dia Aku

Rabu, 31 Agustus 2016 | 11:54:39 WIB
Ilustrasi. (Barbara Agreste/arkzoft.net)
PESERTA LOMBA CIPTA PUISI HUT PERTAMA RIAUREALITA.COM
 
 
Jodoh
 
Kala memikirkan tentang siapa kamu dan takdir Tuhan terbersit harapan 
Kala doa terpanjat dalam sujud panjang hadir namamu
Kala sendiri berteman sepi terlukis wajahmu dalam keramaian
Duhai engkau siapakah gerangan yang menyambut harapanku, 
menyebut namaku dalam sujud-sujudnya dan menampakkan diri menghapus sepi
Wahai Engkau Yang Maha Memiliki
Tuntun aku menjaga hati untuk memiliki
Hingga kulafazkan namanya dalam ijab qobul
Menyambutnya dalam mahligai bernama rumah tangga
Wahai Engkau Yang Maha Tahu
Tuntun pula Ia menjaga hati untuk menantiku
Agar pelaminan menjadi awal perjumpaanku
Sehingga perjalananku terasa lengkap
Dan surga-Mu menjadi tempatku berakhir bersamanya
 
 
 
Tentangmu dan Aku
 
Sore ini gerimis menemaniku bercengkrama tentang kenangan 
Hingga langit kujadikan layar untuk memutar kembali masa itu
Tak terbilang banyak rasa pernah membuat kita saling menjauh
Sayang, suka, rindu, benci dan dendam saling bertubrukan tanpa ampun
Dan pilihan pun jatuh pada kata “Maaf”
Ah, alangkah lucunya potret perjalanan ini
Ingatkah ketika kau katakan tak ingin pisah? Yah pasti kau ingat
Kau bilang tak bisa berjalan sendirian, kau takut
Tapi pada akhirnya kita jalan berbeda, dan masihkah kau ragu juga akan takdir yang kita jalani ini?
Kurasa tidak demikian adanya,
Aku tahu dan kau pun tahu, itu pasti
Sore ini gerimis seperti ingin berkenalan denganmu
Tapi sayang waktu yang tidak tepat
Lain kali saja
Sepenggal kisah ini milik bersama, 
Yang kubawa bersama kisah baruku
Tenang saja, tak akan ku ganti walau ada yang lebih indah
Kisah kita punya tempat tersendiri yang tidak siapa pun bisa mengusiknya
Bercerita tentangmu seolah semua kata dapat aku rangkai dengan mudah padahal aku bukanlah pujangga
Entah berapa kali aku ceritakan namun tak jua aku bosan
Karena bagiku kau bukanlah sebuah kebosanan
Kau adalah apa yang tak pernah mati
Tercipta di masa lalu untuk memberi napas  masa depan
Yah, itu kamu yang bernama kenangan
Dan sepertinya gerimis hendak pulang
Dan aku harus kembali menyambut bintang malam
Ah, berat rasanya berpisah walau dalam kenangan
Tapi ini bukan tentang kehilangan
Percayalah, aku menemukanmu dalam setiap perjalananku
Meskipun doa terbaikku kadang bukan untukmu, Maaf
Dan terima kasih telah meminjamkan separuh kisahmu 
Sampai bertemu di episode yang nyata
Kau terindah
 
 
 
Penjarah Mimpi
 
Aku terkungkung dalam jalan yang tak berarti dimatamu
Terseok tanpa kau sadari telah lama 
Inginku tak berada disini, di jalan yang kau pilihkan untukku
Tapi kau tak memberiku opsi untuk memilih
Baiklah, aku terima saja 
Keadaan terus mencecarku pertanyaan yang aku tahu jawabannya dengan pasti
Kucoba tanyakan padamu jua biar kau tahu rasanya
Namun sekali lagi memaksaku untuk mengerti maksud yang tak kau sampaikan 
Hingga aku sendiri nyaris lupa apa inginku
Baiklah, mungkin bukan saatnya 
Sepenggal jalan telah aku lalui yang seolah begitu saja adanya
Kutinggalkan harapanku jauh di belakang bersama penyesalan
Pikirku mungkin mudah tapi kenyataan membungkamku perlahan
Baiklah, aku salah 
Mungkinkah bagiku untuk kembali mengganti arah jalan ini?
Menjemput harapanku dan berjalan bersamanya
Atau aku singgah saja bernapas sembari mengobati kecewaku?
Ah, opsinya tak mudah untuk dipilih
Baiklah, kubuat diriku terjebak lagi di sini
Lama…
Termenung…
Sudah terlalu lama…
Gelisah…
Baiklah, biar kutinggalkan saja harapanku dan kujalani inginmu
Biarlah jalanku kau yang putuskan
Aku terima
Baiklah, 
 
 
 
Dia Aku
 
Dalam malam Ia susun bintang berlukis wajah
Berderai tawanya kala telunjuknya tak mampu lagi dipimpinnya
Ku intip matanya
Ada yang tersesat di sana
Gumpalan-gumpalan putih menyesakkan dada membelai wajahnya
“Yang tadi itu bukanlah DIA,” bisiknya
Telunjuknya kembali dipimpinnya 
Menari-nari riang menyusun bintang berwajah DIA
Gumpalan-gumpalan putih itupun tak mau kalah membelai wajahnya
“Yang ini juga bukanlah DIA,” bisiknya kembali
Ah, masihkah yang tersesat itu berdiam diri dimatanya?
Kali ini ingin aku pastikan 
Kuhentikan gumpalan-gumpalan putih itu membelai wajahnya
Mungkin yang tersesat itu adalah AKU sendiri
Dan DIA adalah apa yang tak bisa aku jelaskan dengan pasti
Karenanya ku lukis DIA semauku,
DIA…
AKU…
Dan sepotong rindu ini,
Hampa…
 
 
 
Roidah Muharrika, anak ketiga dari delapan bersaudara, dilahirkan 20 tahun lalu di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, tepatnya 25 Desember 1995. Dari pasangan Syamsul Rijal dan Jubaedah. Kecintaan pada dunia menulis memang sudah ada sedari SD, namun ia lebih memfokuskan diri pada bidang akademik dan menjuarai sebuah Olimpiade Sains Nasional (OSN) Biologi saat duduk di bangku SMP. Dunia menulis mulai ia tekuni saat tegabung dalam sebuah komunitas menulis di SMA. Komunitas Sastra Kreatif Athirah atau lebih dikenal dengan nama KOTAKATA. Di samping itu ia juga pernah aktif di Tim Basket Putri, Tim Volly Putri, dan Palang Merah. Ia  adalah alumni  Pertam SMA Islam Athirah Bone, Sulawesi Selatan. Dan saat ini tercatat sebagai mahasiswi semester V Jurusan Pendidikan Akuntansi, Fakultas Ekonomi di Universitas Negeri Makassar. Dan juga tergabung dalam UKM KSR PMI UNIT UNM.
 

Terkini