Bahlil Rangkap Jabatan Menko Hilirisasi dan Menteri ESDM, Ini Alasannya

Jumat, 02 Oktober 2026 | 08:02:32 WIB
Menteri Bahlil Lahadalia usai dilantik di Istana Negara, Kamis (1/10/2026).

RIAUREALITA.COM — Bahlil Lahadalia resmi merangkap jabatan sebagai Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral setelah dilantik di Istana Negara, Kamis (1/10/2026). Rangkap jabatan ini disebut untuk mengonsolidasikan sektor hilirisasi dan transisi energi yang menjadi prioritas pemerintahan Prabowo Subianto.

Pelantikan Bahlil sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi menandai beroperasinya nomenklatur baru dalam kabinet Merah Putih. Pria yang sebelumnya menjabat Menteri ESDM itu mengaku sadar betul besarnya tanggung jawab yang kini diembannya.

"Saya dilantik sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, sekaligus merangkap jadi Menteri ESDM. Saya tahu ini adalah amanah, tanggung jawab negara yang saya harus emban," ujar Bahlil usai pelantikan.

Alasan di Balik Pembentukan Kemenko Baru

Bahlil menjelaskan, pembentukan Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi bertujuan mempercepat realisasi program hilirisasi dan transisi energi. Kedua sektor itu dinilainya sejalan dengan asta cita Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan hilirisasi sebagai prioritas utama.

Menurut Bahlil, kementerian koordinator berfokus pada fungsi koordinasi, sementara kementerian yang membidangi investasi dan hilirisasi bertindak sebagai pelaksana teknis. Dengan struktur tersebut, Kementerian Investasi dan Hilirisasi akan berada di bawah koordinasi Kemenko Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi.

"Alasannya, kalau Menko kan Kemenko aja, Menteri Koordinator. Sementara Menteri Investasi dan Hilirisasi kan dia menteri teknis. Jadi, kementeriannya, Kementerian Investasi dan Hilirisasi itu di dalam koordinasi Kemenko. Itu aja kok, biasa ya," terang Bahlil.

Kantor Sementara di Kementerian ESDM

Kementerian Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi belum memiliki kantor sendiri. Bahlil menyebut operasional lembaga baru itu untuk sementara akan dipusatkan di Kementerian ESDM.

Alasannya, porsi investasi hilirisasi mayoritas berpusat di sektor ESDM. Bahlil menyebut sekitar 90 persen dari total investasi hilirisasi berada di sektor tersebut.

"Kantornya akan tetap di kementerian ESDM, sambil kita melihat perkembangan, karena saya melihat bahwa fokus kita kan hilirisasi, dari total investasi 100%, 90%-nya itu ada di sektor ESDM," jelas Bahlil.

Soal Rencana Kerja dan Posisi Menteri ESDM

Ditanya soal rencana kerja tiga bulan ke depan sebagai Menko Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil menegaskan tidak bekerja berdasarkan periode tertentu. Ia menyatakan akan bekerja setiap hari untuk menjalankan amanah tersebut.

"Saya selalu bekerja setiap hari, bukan per tiga bulan, ya. Setiap hari, setiap hari, setiap hari. Jadi saya kerja, berpikir, kerja, berpikir, berpikir, kerja," tegas Bahlil.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan posisi Menteri ESDM diganti dengan sosok baru, Bahlil enggan berkomentar banyak. Ia menegaskan hanya menjalankan perintah sesuai Keputusan Presiden.

"Saya tidak boleh menjawab melampaui batas kewenangan. Saya hanya menjalankan sesuai dengan apa yang diperintahkan dalam Keppres Bapak Presiden, karena kita memaknai semua kewenangan tentang ketatanegaraan itu hak Bapak Presiden dan dilimpahkan para pembantu-pembantunya. Dan sebagai pembantu presiden yang baik, akan taat, tunduk pada apa yang diperintahkan dan apa yang ada dalam Keppres tersebut," beber Bahlil.

Rangkap jabatan Bahlil menempatkan sektor energi dan hilirisasi di bawah satu komando koordinasi. Langkah ini dinilai menjadi ujian awal bagi pemerintah dalam mempercepat realisasi investasi hilirisasi yang selama ini terkonsentrasi di sektor ESDM.

Terkini