Indahnya Pulau Jemurku

Kamis, 24 November 2016 | 09:32:31 WIB
Indahnya Pulau Jemurku
Ket Foto : Bupati Rohil H Suyatno dan sejumlah pejabat teras Pemkab Rohil berkunjung ke Pulau Jemur bersama ratusan wisatawan domestic. (adv)
LEBIH kurang 45 mil dari ibukota Kabupaten Rokan Hilir, Bagansiapiapi dan 45 mil pula dari negara tetangga Malaysia dan lebih dekat dari Kabupaten Labuhan Batu Selatan, Provinsi Sumatera Utara, Pulau Jemur merupakan kekayaan alam yang dimiliki Negeri Seribu Kubah. Lautnya yang tak kelihatan ujungnya, pantainya yang bersih dipadu pasir putih, terumbu karang yang memanjakan jutaan ikan dan penyu hijau, serta bebatuan besar di tepian pantai dan pulau membuat pesona tersendiri secara alami yang dimiliki Pulau Jemur. 
 
Pulau Jemur sebenarnya merupakan gugusan beberapa pulau, seperti, Pulau Aruah, Pulau Tekong Emas, Pulau Tekong Simbang, Pulau Labuhan Bilik, Pulau Batu Mandi, Pulau Sarang Elang, serta pulau-pulau kecil lainnya. Namun, aslinya Pulau Jemur tidaklah seluas Pulau Aruah yang hanya berjarak ratusan meter dari satu pulau ke pulau yang lain. Di Pulau Jemur tempatnya berkembangbiak Penyu Hijau. Di pulau ini tidak jarang orang menginjakkan kakinya karena dilarang keras Dinas Perikanan dan Kelautan (Diskanlut) Rokan Hilir, TNI Angkatan Laut (AL), serta Tim Navigasi yang saban harinya menjaga beberapa pulau di tempat itu.
 
Sebab, Pulau Jemur yang terbentang indah dengan pasir putihnya menjadi tempat habitat Penyu Hijau. Jika lokasi terganggu oleh manusia, maka penyu-penyu itu akan pergi dan tidak lagi mau bertelur di pulau tersebut. Apalagi, Pulau Jemur salah satu tempat habitatnya Penyu Hijau di Indonesia. Malahan, sejak beberapa tahun belakangan Diskanlut Rohil menangkarkan telur penyu agar tidak punah dari tangan jahil manusia.
 
Pulau Jemur terlihat jelas begitu mempesona jika dipandang dari Pulau Aruah. Pulau Aruah sendiri dihuni oleh penjaga perbatasan laut Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yakni petugas Pangkalan TNI AL Dumai dan  Distrik Navigasi Kelas I Dumai. Sedangkan Pulau Tekong Emas dijaga tim Diskanlut Rohil. Namun, pulau-pulau terluar Indonesia ini adalah milik Kabupaten Rohil. Sehingga, pulau ini sekarang telah menjadi Kepenghuluan Pulau Jemur (Desa, red), Kecamatan Pasir Limau Kapas. 
 
Meski hanya bisa mendekat, Pulau Jemur yang sempat diklaim Malaysia itu masih asri. Sayang, tak hanya Pulau Jemur, pulau-pulau lainnya yang tak kalah indahnya masih sangat-sangat minim infrastruktur. Andai saja dikelola dengan baik oleh Pemkab Rohil, dipastikan pulau-pulau ini mendatangkan sumber pendapatan baru bagi pemkab dari sektor pariwisata. 
 
Dari kejauhan mendekati pulau-pulau ini saja sudah sangat menarik perhatian pengunjung saat masih di atas kapal. Lautnya yang hijau, pepohonan yang rindang dibalut semak belukar, kicauan sura burung, Penyu Hijau-nya yang berseliweran di permukaan laut, burung-burung Bangau dan Elang bermain di permukaan laut mencengkram berbagai jenis ikan, belum lagi tiupan angin laut menambah kegembiraan setiap orang yang datang. 
 
Begitu sampai di Dermaga Pulau Aruah dari Bagansiapiapi menggunakan speed boat Patroli Diskanlut berkecepatan 20 knot per jam dengan waktu 1 jam 45 menit. Posmetro Rohil langsung menyusuri Pulau Aruah di mana di tempat itulah saban harinya petugas hidup dan menjalankan rutinitasnya dari berbagai kesulitan dan tantangan. Begitu naik ke puncak Pulau Aruah, berdiri kokoh Pos Penjagaan Pangkalan TNI AL Dumai dan  Distrik Navigasi Kelas I Dumai lengkap dengan delapan rumah dinas mereka serta Kantor Kepenghuluan Pulau Jemur yang belum beroperasi. 
 
Kembali ke Pulau Jemur, pulau ini benar-benar memiliki pemandangan dan panorama yang begitu indah. Pulau yang amat kaya dengan hasil lautnya ini jika dipandang dari puncak ketinggian Pulau Aruah membuat mata terbelalak betapa besarnya keagungan Ilahi yang melimpahkan rahmat-Nya kepada Kabupaten Rohil. Saking moleknya, tak hanya keindahan Pulau Jemur, pulau-pulau lainnya juga menjadi magnet bagi pengunjung berlama-lama di "sorga dunia" itu. Sayang, saat penulis ke tempat ini Diskanlut tidak melakukan rutinitas penangkaran Penyu Hijau. Pahadal, menurut petugas antara bulan Januari-Juli adalah musim bertelurnya Penyu Hijau. 
 
Sehingga, penulis hanya ditemani beberapa petugas Navigasi menyusuri Pulau Aruah yang luasnya kurang lebih 2 kilometer persegi itu. Ya, di antara pulau-pulau lainnya hanya Pulau Aruah ini yang terluas sehingga dijadikan sentral aktivitas. Di pulau ini pula terdapat bangunan tua masa penjajahan Belanda. Sayang bangunan beukuran kurang lebih 8X8 meter yang telah masuk daftar cagar budaya itu sudah reot dimakan usia. Dinding dan atap sudah banyak yang rusak di sana sini. Padahal, dahulunya bangunan ini sebagai pos Navigasi sekaligus tempat berdirinya Manara Suar yang kini juga masuk daftar cagar budaya.   
 
Bila Pulau Jemur pasir pantainya berwarna putih, Pulau Aruah memiliki pasir pantai berwarna kuning keemasan. Karena Diskanlut tidak lagi menangkarkan telur Penyu Hijau, rutinitas petugas di sana lebih sering memancing dan menjaring ikan di laut untuk mencukupi kebutuhan sambil memanfaatkan waktu luang. Jadi, tidak herap jika petugas di tempat ini memproduksi ikan asin. 
 
Para wisatawan memanfaatkan hari liburnya di Pulau Jemur, Rohil. (adv)
 
"Beberapa waktu lalu saat Diskanlut menangkarkan telur Penyu Hijau, kami juga ikut membantu meski pun tugas kami. Yang terpenting kami di sini bisa menjaga kekompakkan dalam menjalankan tugas. Satwa langka itu dapat bertelur 100 sampai 150 butir setiap ekornya," sebut Dayat, petugas Navigasi sambil berjalan menyusuri pulau. 
 
Selain itu Pulau Jemur, sambung Dayat, juga memiliki beberapa potensi wisata lain seperti, Goa Jepang, Menara Suar, bekas tapak kaki  manusia, perigi tulang, sisa-sisa Pertahanan Jepang dan Belanda, Batu Panglima Layar, Taman Laut, dan pantai berpasir kuning emas. Bila dilihat dari potensi letak dan posisi Pulau Jemur sangat cocok dikembangkan menjadi kawasan Resort, dimana berbagai kegiatan wisata sangat banyak untuk dapat dikembangkan di pulau-pulau ini. Bisa saja berselancar, menyelam, dayung, dan sebagainya. (adv)
 
Libatkan Sejumlah Kementerian
 
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir (Rohil) diminta menggandeng sejumlah kementerian untuk mengembangkan obyek wisata Pulau Jemur. Sebab, Pulau Jemur tak hanya membutuhkan pengembangan obyek wisata saja, melainkan banyak aspek sosial lainnya dalam menjaga pulau terluar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) tersebut.
 
Apalagi, belakangan ini upaya Pemkab dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Rohil menggandeng telekomsel untuk pendirian tower telekomunikasi menemukan berbagai kendala. Pasalnya, pihak provider jaringan telekomunikasi hingga kini belum merespon permohonan Bupati Rohil H Suyatno yang menginginkan didirikannya tower di Pulau Jemur.
 
"Surat permohonan pendirian tower jaringan telekomunikasi di Pulau Jemur sudah kita terima baik dari pak Bupati Rohil H Suyatno, Dishubkominfo Rohil dan Riau. Tetapi, untuk mendirikan tower di sana (Pulau Jemur, red) membutuhkan proses yang panjang. Karena, kita perlu melihat sejauh mana prediksi pendapatan dari konsumen pengguna telkomsel," sebut Manager Site Manegement Departement Telkomsel Sumbangteng, Sutato kepada Posmetro Rohil, Selasa (29/03) melalui sambungan telepon.
 
Sutato menjelaskan, perlu dilakukan peninjauan ke Pulau Jemur apakah pendirian tower jaringan telekomunikasi menguntungkan pihaknya atau tidak. "Telkomsel ini kan sudah murni perusahaan bisnis. Jadi kita tidak bisa serta mengabulkan pengajuan pendirian tower apabila tidak mendatangkan keuntungan yang besar. Nmaun demikian, pengajuan dari Pemkab Rohil tetap akan kita teruskan ke pengambil keputusan di tingkat yang lebih tinggi lagi, jadi saya tidak bisa memastikan apakah pendirian tower di Pulau Jemur dapat dikabulkan atau tidak," ungkap Sutato.
 
Sebelumnya, Bupati H Suyatno mendesak provider Telkomsel segera mendirikan tower telekomunikasi di Pulau Jemur. Pasalnya, obyek wisata di Kabupaten Rohil ini sangat membutuhkan jaringan komunikasi seiring program peningkatan kunjungan pariwisata ke Negeri Seribu Kubah yang dicanangkan Pemkab Rohil 2016-2021. Apalagi, sambung Suyatno, obyek wisata Pulau Jemur telah dikenal tak hanya wisatawan lokal namun sudah mendunia. "Kebanyakan pengunjung Pulau Jemur memang kita akui mengeluhkan jaringan telekomunikasi. Di sana (Pulau Jemur), sama sekali tidak ada signal. Masalah ini sudah kita komunikasikan dengan provider telkomsel 2 tahun lalu, tetapi sampai saat ini belum ada jawaban," keluh Suyatno.
 
Senada diutarakan Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Rohil, Mukhtar Luthvie, pihaknya telah menyurati telkomsel dua kali namun belum ada kepastian. Di samping itu, sambung Luthvie, jaringan telekomunikasi sangat berarti bagi petugas jaga Pulau Jemur. "Kasian petugas Angkatan Laut, Navigasi, dan Dinas Perikanan dan Kelautan, termasuk petugas patroli kita. Kalau mereka sudah bertugas menjaga Pulau Jemur, tidak bisa berkomukasi dengan keluarga, kita pun kesusahan mendapat update laporan," keluhnya. 
 
Sementara itu, Anggota DPRD Rohil Abu Khoiri meminta Pemkab Rohil tak hanya terpaku pada telkomsel saja dalam pendirian tower jaringan telekomunikasi di Pulau Jemur. Sebab, Pulau Jemur bagian dari pulau terluar di Indonesia yang membutuhkan perhatian sejumlah kementerian. "Pulau Jemur selain perlu jaringan telekomunikasi, juga butuh peningkatan obyek wisata, perikanan dan kelautan, perhubungan, pertahanan politik dan keamanan, serta peningkatan pembangunan daerah perbatasan. Jadi, Pemkab Rohil harus menggandeng Kementerian Pariwisata,  Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Perhubungan, Kementerian Perikanan dan Kelautan, termasuk Kementerian  Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan, serta Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi," ujar Aboy sapaan akrab Abu Khoiri. (adv)