Bangun Pariwisata Sebagai Penunjang Ekonomi Rakyat

Ahad, 20 November 2016 | 09:17:52 WIB
Bangun Pariwisata Sebagai  Penunjang Ekonomi Rakyat
Ket Foto : Puluhan ribu wisatawan domestic dan mancanegara menggelar sembahyang di Klenteng Ing Hok King padaempat agenda pariwisata di Bagansiapiapi setiap tahunnya. (adv)
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir (Rohil) fokus mengembangkan obyek pariwisita yang terus dimatangkan. Cara ini sebagai bagian dari membangun kota krteatif sehingga dapat berkembang menjadi obyek wisata sebagai destinasi agar rakyat merasakan dampaknya. 
 
“Tak dapat dipungkiri, dengan biaya murah dan instan, pariwisata sebagai penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD). Tak hanya pemerintah, penduduk setempat yang tinggal di sekitar obyek wisata pun diuntungkan. Untuk itu, menghidupkan potensi obyek wisata harus dilakukan bersama-sama” sebut Bupati Rohil H Suyatno, baru-baru ini di Bagansiapiapi.
 
Diterangkan Suyatno, Rohil yang kaya akan sumber daya alamnya dapat dijadikan sebagai daerah tujuan wisata. Karena, Rohil punya wisata budaya Tionghoa berupa Bakar Tongkang yang telah mendunia. Cheng Beng (sembahyang kubur), Festival Malam Imlek dan Cap Go Meh, serta lainnya.
 
“Kita punya berbagai kesenian budaya dari berbagai keragaman suku, kita punya obyek wisata Pulau Jemur dan sembilan gugusan pula lainnya, kita punya Danau Janda Gatal, Pulau Tilan, Danau Laut Napangga, Kampung Melayu Rantau Bais, berbagai situs cagar budaya di Bagansiapiapi. Semua perlu pengembangan serius agar mampu menjadi penunjang ekonomi rakyat,” papar Suyatno.  
 
Namun demikian, masyarakat setempat harus ikut berperan besar dalam membantu pelestarian nilai-nilai kebudayaan supaya obyek wisata kita semakin tersohor. “Pemerintah tidak dapat menyiapkan uang setiap saat kepada rakyat, tetapi pariwisata mampu melakukan itu. Untuk itu, masyarakat berperan dalam memperkenalkan dan membawa nama baik daerah wisata kita kepada publik. Karena, promosi wisata melalui publikasi media juga perlu dukungan masyarakat,” tegas Suyatno.
 
Masyarakat sekitar pobyek wisata harus mampu menjadi guide para turis yang datang. “Dengan begitu, obyek wisata kita semakin menjual ke publik. Masyarakat pun harus menggerakkan sektor industri rumahan dengan kerajinan tangan dingin sebagai ciri khas oleh-oleh supaya wisatawan baik domestik maupun mancanegara bisa kembali ke Rohil begitu meninggalkan Negeri Seribu Kubah.  sebagai cenderamata,” sebut Suyatno. (adv)
 
Bagansiapiapi Menuju Kota Kreatif
 
KOTA kreatif bukan sekadar tempat yang memiliki nilai seni saja, tetapi bermakna luas terhadap kehidupan masyarakatnya. 'Kreatif' selalu berujung hasil yang memuaskan sampai memecahkan persoalan ekonomi. 
 
Hal itu disampaikan Bupati H Suyatno, belum lama ini di Bagansiapiapi menyikapi deficit anggaran yang dialami Pemkab Rohil. Suyatno menjelaskan, selain melakukan penghematan anggaran di setiap satuan kerja (Satker), Pemkab Rohil pun membangun kota kreatif dengan memanfaatkan berbagai obyek wisata unggulan di Rohil.
 
 
“Kota kreatif selalu cerdas mengidentifikasi, memelihara, menarik, termasuk mendorong ide dan bakat bakat kota memajukan ekonomi rakyatnya. Maka itu, bangunlah kota kreatif agar masyarakat tidak dililit berbagai persoalan ekonomi,” terang Suyatno. 
 
Pentingnya pemerintah memobilisasi ide dan bakat komunitas kreatif untuk menanamkan budaya kerja sebagai penyebar inspirasi kreatif bagi masyarakat. Dengan begitu, kota itu secara sendirinya membentuk kota industri kreatif. 
 
“Tantangan inilah yang perlu diambil Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir (Rohil) untuk menjadikan Bagansiapiapi sebagai 'Kota Ikan' yang kreatif. Bagansiapiapi punya modal besar akan fleksibilitas budayanya, kekayaan alamnya berupa laut dan darat, tinggal menyesuaikan diri secara harmonis agar memiliki daya saing yang kuat menghadapi Masyarakat Ekonomi Asia (MEA),” jelas Bupati Rohil ini.  
 
Memang, membangun kota kreatif tidak semudah membalikkan telapan tangan. Butuh kerja keras pemimpin dengan dukungan masyarakatnya yang kuat. Butuh kekompakkan agar stabilitas sosial tetap terjaga. Menciptakan kota kreatif diperlukan infrastruktur yang mendukung berupa bangunan, jalan atau terminal.
 
“Kota kreatif membutuhkan bangunan, jalan daerah, kota atau wilayah yang menghubungkan antara ruang-ruang kota yang tersedia dengan modal budaya. Sehingga, mampu menarik perhatian banyak orang untuk berwisata. Bagansiapiapi punya modal itu. Kota kreatif bisa datang dari kekayaan wisata budaya dan religi yang dimiliki Bagansiapiapi,” ulasnya.
 
Punya festival Bakar Tongkang yang telah mendunia, Bagansiapiapi sudah memiliki pondasi yang tiap tahunnya dikunjungi sedikitnya 40 ribu wisatawan domestik dan mancanegara. Dengan begitu, obyek wisata lainnya bakal terdongkar, seperti, wisata religi Cheng Beng (sembahyang kubur bagi warga Tionghoa Bagansiapiapi).
 
Termasuk mampu mengembangkan obyek pariwisata lainnya yang menyebar di Kabupaten Rohil, seperti, Pulau Jemur dan sembilan gugusan pulau yang berdekatan dengan negara tetangga Malaysia, Pulau Tilan, Danau Laut Napangga, Kampung Melayu Rantau Bais, dan beragam situs cagar budaya lainnya.
 
Tinggal lagi, pemerintah harus didukung masyarakat maupun legislatif. Kota kreatif bertujuan membangun ekonomi kerakyatan dalam mendukung pariwisata perkotaan (urban tourism). Pariwisata jenis ini berkonsep menjual suatu tempat dengan cara memberikan citra tertentu untuk menarik bisnis dan wisatawan. 
 
“Namun demikian, menciptakan kota kreatif perlu kita sadari menyelesaikan dahulu permasalahan utamanya, mengenai ada atau tidaknya ketersediaan SDM yang kreatif pula. Untuk itu, pemerintah harus memulainya dengan mengasah SDM yang kreatif pula dengan memberikan berbagai macam pelatihan. Sehingga, kota kreatif tidak asing bagi mereka yang hidup di kota itu sendiri,” ungkap Suyatno. (adv)