Upsus Padi, Jagung dan Kedelai

Rohil Matangkan Swasembada Pangan Nasional

Sabtu, 13 Agustus 2016 | 21:32:08 WIB
Rohil Matangkan Swasembada Pangan Nasional
Ket Foto : Bupati Rohil H Suyatno melkaukan panen raya padi di Kecamatan Rimba Melintang. (adv)
INSTRUKSI Presiden (Inpres) Republik Indonesia (RI), Joko Widodo kepada Panglima TNI untuk mendukung swasembada pangan nasional 2017 mendapat apresiasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir (Rohil). Bahkan, Pemkab Rohil menyerahkan berbagai bantuan kepada kelompok tani untuk mengembangkan lahan pertanian dalam mendukung Upaya Khusus (Upsus) padi, jagung dan kedelai.  
 
Pemkab Rohil pun telah melakukan konsolidasi Upsus padi, jagung dan kedelai Markas Komandan Kodim (Makodim) 0321/Rohil, DPRD Rohil, Pemprov Riau melalui Dinas Pertanian, hingga Kementerian Pertanian RI. Dalam konsolidasi ini, Bupati Suyatno telah pula menandatangani pakta integritas Swasembada Pangan Nasional 2017 dengan TNI. 
 
Bupati menyampaikan, penandatanganan pakta integritas wujud keseriusan Pemkab Rohil menyejahterakan masyarakat menyangkut soal pangan. "Kita mengucapkan terima kasih Presiden Joko Widodo dan Kementerian Pertanian, serta Badan Ketahanan Pangan dan Dinas Pertanian dan Perternakan Rohil yang telah memperjuangkan untuk mendapatkan APBN buat Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) dalam mendukung Upsus padi, jagung dan kedelai," sebut Suyatno.
 
Dirinya juga menceritakan mengapa Presiden Joko Widodo melibatkan TNI pada swasembada pangan nasional 2017, karena pada saat presiden mengikuti Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) beberapa waktu lalu, Perdana Menteri Thailand, Prayuth Chan-ocha bertanya ke presiden, kapan membeli beras lagi ke Thailand. "Tentunya ini membuat presiden malu," ulas Suyatno.
 
Dilanjutkan Suyatno, Presiden Joko Widodo saat itu langsung mengintruksikan Panglima TNI untuk mendukung swasembada pangan. "Mengapa harus TNI yang dilibatkan, padahal TNI itu aparat menjaga keamanan Negara. Hal itu karena TNI bekerja tidak kenal lelah," katanya. "Jadi camat dan lurah kalau ada melihat Koramil atau Babinsa turun ke sawah, jangan kaget. Karena mereka mau membantu kita," sambung bupati. 
 
Untuk itu, Suyatno mengimbau masyarakat jangan mengalihfungsikan lahan, "Kita tidak ingin hal seperti ini berkelanjutan. Jangan hanya tahunya kebun sawit saja. Rokan Hilir saat ini, merupakan daerah penghasil kedelai nomor satu di Riau. Ini harus kita pertahankan. Kalau bisa jangan hanya kedelai saja, usahakan jagung dan padi," ajak bupati.
 
Pemkab Rohil merasa bersyukur bahwa program pertanian melalui APBN tahun ini akan terealisasi dengan baik. Bahkan, ada beberapa program pembangunan pertanian lainnya yang didanai pusat, seperti, irigasi dan traktor tangan. "Artinya,  pemerintah pusat, provinsi dan daerah konsisten memperhatikan daerah yang kita cintai ini dengan menyongsong swasembada pangan nasional," ungkap Suyatno .
 
“Coba kita bayangkan dan perhatinkan daerah kita ini, dulunya lumbung padi yang sangat luar biasa, tetapi sekarang bisa terjadi alihfungsi lahan terhadap pertanian. Untuk itu, saya tegaskan seluruh petani jangan lagi mengalihfungsikan lahan," imbau bupati.
 
Suyatno menegaskan, prioritas daerah yang menjadi pendukung program swasembada pangan nasional 2017 di Kabupaten Rohil yakni, Kecamatan Rimba Melintang, Pekaitan, Bangko, dan Sinaboi. Selain itu, TNI di Rohil melakukan program ini dengan memberikan penyuluhan pada petani di mulai dari sekarang hingga 2017. 
 
Sementara itu, Staf Menteri Pertanian RI, Ir Mufti Sarjono menjelaskan, program swasembada pangan nasional 2017 yakni, padi, jagung, dan kedelai harus terlaksana hingga tingkat daerah. “Kabupaten Rohil merupakan salah satu sasaran untuk pengembangan program swasembada pangan. Walau pun di sini arealnya 12.000 hektar, tetapi ini merupakan salah satu lahan yang sangat luas untuk di Provinsi Riau. Karena, di Riau luas lahan pertaniannya baru 120 ribu hektar," bebernya.
 
Mufti menambahkan, jika Rohil bisa meningkatkan program swasembada pangan, tentunya memberikan sumbangsih yang besar terhadap negara melalui pengembangan produksi swasembada pangan di Riau. "Pemerintah pusat akan memberikan bantuan dalam bentuk alat perbaikan saluran irigasi untuk sekitar 3.500 hektar lahan. Selanjutnya, bantuan pengembangan kreaksi lahan melalui gerakan, seperti traktor, alat pemanen, pupuk,  dan lainnya. Kita harap bantuan ini sebagai pemicu dalam mengembangkan program swasembada pangan, khususnya padi, jagung dan kedelai," harap Mufti. (adv)
 
Mewujudkan Desa Mandiri Pangan
 
TARGET menekan angka kemiskinan menjadi fokus utama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir (Rohil) dengan menerapkan Desa Mandiri Pangan (Demapan). Program ini dicanangkan jangka panjang agar Rohil produsen pangan di Riau.
 
Melalui program tersebut, diharapkan potensi Sumber Daya Alam (SDA) dan Sumber Daya Manusia (SDM) dapat dimanfaatkan secara optimal dan proporsional. Sehingga, upaya meningkatkan derajat kehidupan masyarakat dan berkurangnya  angka kemiskinan tercapai sesuai target. 
 
Wabup Rohil Drs Jamiludin menyaksikan penandatangan kesepakatan dokumen dalam mendukung program Pemkab rohil. (adv)
 
Hal itu dikatakan Bupati Rohil, H Suyatno, baru-baru ini di Bagansiapiapi. Pada sasarannya, Demapan mengangkat derajat masyarakat miskin pedesaan dengan memenuhi kebutuhan pangan hingga tingkat rumah tangga. Untuk itu, melalui Badan Ketahanan Pangan (BKP) dan Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Rohil, pemerintah daerah membutuhkan dukungan dan kerjasama masyarakat untuk saling bersinergi bersama petani. "Apabila setiap rumah tangga sudah mencapai ketahanan pangan yang mencukupi, maka secara otomatis ketahanan pangan masyarakat daerah dan nasional akan tercapai," sebut Suyatno. 
 
Dengan begitu, 10 pokok penting mengatasi ketahanan pangan yang dicanangkan Pemkab Rohil  haruslah diadopsi petani dan masyarakat. Kesepuluh pokok penting itu meliputi, pengembangan pedesaan dengan melibatkan petani dan masyarakat yang memiliki kemampuan rendah dalam mengakses pangan harus dihentikan. Kemudian, kemiskinan struktural harus atasi, dan minimnya sarana dan prasarana (pengairan, jalan desa, sarana usaha tani, air bersih, listrik dan pasar) harus ditingkatkan.
 
Bupati Rohil H Suyatno panen raya jagung di salah satu kecamatan dengan Staf Ahli Menteri Pertanian RI. (adv) 
 
"Selanjutnya, masih terbatasnya pengetahuan tentang pangan beragam, bergizi, berimbang dan aman, serta belum optimalnya fungsi kelembagaan aparat dan masyarakat termasuk kelompok tani akan kita hilangkan. Apalagi, masih terbatasnya akses masyarakat pada lembaga permodalan perlu dibantu. Karena, terbatasnya akses masyarakat desa terhadap lembaga pemasaran, informasi dan teknologi menjadi tanggungjawab pemerintah," beber Suyatno. 
 
Suyatno menegaskan, rendahnya tingkat pendidikan masyarakat dan terbatasnya lapangan pekerjaan di pedesaan harus direformasi. "Dalam mengatasi persoalan ini, Pemkab Rohil selalu menyalurkan bantuan kegiatan desa mapan di semua kecamatan," ungkap bupati. 
 
Bahkan, Suyatno, kemandirian pangan mampu menjawab gejolak pasar, terutama pada setiap Hari Besar Keaagamaan Nasional (HBKN). Untuk itu, Pemkab Rohil kerap menggelar Rapat Koordianasi (Rakor) dengan instansi terkait untuk mengatasi setiap persoalan menyangkut kebutuhan pangan. 
Hal ini dilakukan tak lain untuk mempertahankan ketersediaan energi 3.002 kalori dengan menfasilitasi kelancaran pasokan pangan masyarakat dan pasar dengan harga terjangkau. Apalagi, peningkatan permintaan masyarakat terhadap pangan telah terjawab dengan sistem penerapan Demapan. 
 
Dengan begitu, Pemkab Rohil terus berupaya memerpenuhi pangan rumah tangga dari tersedianya pangan beragam, bergizi, berimbang, dan aman, serta terjangkau berbasis SDA dan kearifan lokal. Selain itu, mengembangkan agro ekosistem dengan teknologi unggul berorientasi kebutuhan masyarakat.
 
Dalam upaya untuk mewujudkan hal itu, Pemkab Rohil merumuskan misi mewujudkan tata kelola lembaga yang baik berbasis teknologi informasi didukung sumber daya aparatur yang kompeten dan berintegritas tinggi. "Semua ini dilakukan untuk mewujudkan peningkatan tata kelola lembaga melalui penyelenggaraan pemerintahan yang transparan dan akuntabel," tutur Suyatno. (adv)
 
Penganekaragaman dan Mutu Pangan 
 
PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Rokan Hilir (Rohil) terus memantapkan ketahanan pangan melalui peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, akses pangan, serta, penanganan kerawanan pangan. Hal ini dilakukan untuk memantapkan ketahanan pangan melalui peningkatan penganekaragaman dan mutu pangan berbasis bahan baku, sumber daya dan kearifan lokal.
 
Demikian diungkapkan Wakil Bupati (Wabup) Rohil, Drs Jamiludin, baru-baru ini di Bagansiapiapi. Dirinya menegaskan, Kabupaten Rohil merupakan daerah terkaya di Riau menyangkut pertumbuhan ekonominya. 
 
Bupati Rohil H Suyatno mencoba traktor tangan dan mesin penggiling padi di sela panen raya. (adv) 
 
Daerah kaya minyak dan pertanian, serta perkebunan, kelautan, termasuk perkembangan perdagangan dan jasa menjadi modal utama membangkitkan semangat masyarakat menuju swasembada pangan. Sehingga, tak heran Rohil menjadi sasaran pendatang luar daerah masuk untuk mengadu nasib mendapatkan pekerjaan. Akibatnya, dari tahun ke tahun pertumbuhan penduduk terus meningkat.
 
"Permintaan atau kebutuhan penduduk, pangan bukan saja menyangkut kuantitas, akan tetapi menyangkut kualitas, pemerataan, aman dan terjangkau. Untuk mewujudkan itu, Pemkab Rohil terus berupaya mewujudkan masyarakat sejahtera dan berdaya saing tinggi, terhapusnya kemiskinan serta tersedianya lapangan kerja. Sebab, kemandirian pangan harus dipacu dan terus dipacu," tutur Jamiludin.  
 
Menurut Jamiludin, ketahanan pangan tidak hanya bergantung kepada ketersediaan pangan saja, tetapi juga akses dan penyerapan, serta permasalahan dan tantangan harus dihadapi. "Peningkatan produksi pangan, khususnya padi, jagung, kedele, daging dan telur sudah semakin membaik," sebutnya. 
 
Langkah-langkah konkrit yang perlu dilakukan untuk merealisasikan percepatan peningkatan produksi dan penganeka ragaman konsumsi pangan tersebut, sambung wabup, adalah, pengendalian dan penghentian alih fungsi lahan produktif, serta memanfaatkan pengkajian lahan sub-optimal seperti, lahan rawa pasang surut, lahan kering, dan lahan tidur untuk meningkatkan produksi.    
  
Kemudian, peningkatan peran penyuluh juga sangat berdampak positif agar ketahanan pangan berjalan sukses. "Penyuluh merupakan motor penggerak utama (prime mover) dan pemersatu potensi (integrator) dalam menggelorakan semangat masyarakat dan petani, serta peternak sebagai pelaku utama. Oleh karena itu, tambahan penyuluh melalui rekruitmen perlu diprioritaskan," harap wabup. (adv)
 
Manfaatkan Lahan Tidur
 
PELAKSANA Tugas (Plt) Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Rohil, Drs H Surya Arfan MSi, meminta warga memanfaatkan lahan tidur untuk meningkatkan produktivitas ketahanan pangan. Dengan begitu, Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) dapat menjadi lumbung pangan terbesar di Provinsi Riau. 
 
Hal itu disampaikan Surya Arfan yang juga Kepala Badan Ketahanan Pangan (BKP) Rohil, baru-barui ini di Bagansiapiapi. "Pemanfaatan lahan tidur, seperti, pekarangan rumah, lahan yang terlantar dan lainnya dilakukan untuk meningkatkan efektifitas ketahanan pangan. Dengan begitu, produktivitas pangan Kabupaten Rokan Hilir akan tetap terjaga," sebut Surya Arfan. 
 
Plt Sekda Rohil Drs H Surya Arfan MSi menerima pupuk hasil produksi siswa SMPN 1 Rimba Melintang. Pupuk itu diserahkan oleh Kepala SMPN 1 Rimba Melintang, Asfia Nasution. (adv)
 
Surya Arfan menegaskan, ketahanan pangan sangat penting dipertahankan mengingat pangan sebagai sumber gizi manusia. "Rohil memiliki lahan yang sangat luas. Namun karena alihfungsi dari pertanian ke perkebunan, lahan kita semakin menyusut. Ini harus dicegah, dinas terkait harus turun ke lapangan memberikan pemahaman kepada petani supaya tidak melakukan alihfungsi lahan," tegas Plt Sekdakab Rohil.
 
Surya Arfan menambahkan, menyusutnya lahan pertanian perlu mendapat perhatian serius. "BKP serta Dinas Pertanian dan Peternakan harus melakukan kajian agar warga memanfatkan lahan tidur serta mencegah alihfungsi lahan. Untuk itu, saya mengimbau warga yang memiliki lahan tidur supaya bergabung dengan kelompok tani dan sejenisnya supaya turut mendukung ketahanan pangan kita," tegasnya. 
 
Selain itu, sambung Surya Arfan, BKP Rohil tengah berupaya meningkatkan produksi tanaman pangan masyarakat melalui berbagai pembinaan. Melalui pemanfaatan sumber daya alam, petani diyakini dapat menjadi penggerak ketahanan pangan lokal.
 
"Fokus mengatasi persoalan ketersediaan pangan lokal secara berkelanjutan terus kita galakkan. Setiap tahun kita optimalisasi pangan daerah melalui target ketahanan pangan, seperti, penambahan lahan baru, cetak sawah, normalisasi saluran, dan mengoptimalkan pompanisasi, termasuk perikanan dan pertanian," ujar Surya Arfan. 
 
Dijelaskan Surya, BKP Rohil sebagai pihak yang bertanggungjawab soal ketahanan pangan siap memfasilitasi petani memanfaatkan lahan tidur. "Mengarahkan masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah untuk ditanami berbagai jenis kebutuhan dapur juga kita lakukan. Dengan begitu, suplai pangan dari hasil produksi tanaman rumahan menjadi langkah yang positif. Untuk itu, kita mengajak dinas terkait untuk saling berkordinasi mengatasi kebutuhan pangan," harapnya. 
 
Apalagi, sambung Surya Arfan, BKP menjadi leading sktor yang membawahi Dinas Perikanan dan Kelautan, Dinas Pertanian dan Peternakan, serta Dinas Perkebunan selalu mengajak instansi terkait tersebut untuk meningkatkan ketahanan pangan. Sehingga, ketersedian berbagai jenis pangan hasil produksi petani lokal dapat mencukupi kebutuhan masyarakat.
 
"Semua yang kita komsumsi menjadi target ketahanan pangan. Contohnya, kalau mau menyejahterakan nelayan, harus mengembangkan budidaya perikanan. Sebab, lambat laun hasil ikan laut akan menipis," jelasnya. (adv)