RIAUREALITA.COM — YouTuber otomotif Ryan "F9" Kluftinger dari kanal Fortnine mengendarai BMW M 1000 XR di Autobahn Jerman dan mencapai sekitar 160 mph. Meski motor bertenaga 200 hp itu punya top speed 170 mph, ia mengaku sensasi melesatnya justru terasa kurang menggigit. Penjelasannya ada pada posisi duduk, medan pandang, dan cara otak membaca kecepatan.
Autobahn Jerman memang jadi lokasi favorit untuk menguji batas kecepatan sebuah motor. Namun pengalaman Ryan "F9" Kluftinger dari kanal YouTube Fortnine menunjukkan bahwa angka di speedometer tidak selalu berbanding lurus dengan sensasi yang dirasakan pengendara. Ia membagikan pengalamannya mengendarai BMW M 1000 XR di salah satu video terbarunya.
Motor tersebut dipinjamnya selama berada di Jerman. BMW M 1000 XR mengusung mesin empat silinder dengan tenaga lebih dari 200 hp dan top speed mencapai 170 mph. Di jalan bebas hambatan tanpa batas kecepatan itu, Ryan memacu motornya hingga sekitar 160 mph.
Akselerasi Melesat, Tapi Sensasi Hilang Saat Kecepatan Stabil
Menurut Ryan, akselerasi awal menuju kecepatan tinggi memang terasa seru. Masalahnya muncul ketika motor sudah berada di kecepatan stabil. Pada titik itu, sensasi kecepatan justru menguap.
Penjelasan ilmiahnya berkaitan dengan gaya gravitasi atau G-force. Saat kendaraan berakselerasi, tubuh pengendara merasakan dorongan yang kuat. Ketika kecepatan sudah konstan, G-force hampir tidak terasa sama sekali. Kondisi itu membuat pengendara sulit menyadari seberapa cepat ia sebenarnya melaju.
Fenomena serupa juga jadi penyebab banyak pengemudi tanpa sadar melampaui batas kecepatan di jalan tol.
Otak Butuh Penanda Visual untuk Mengukur Kecepatan
Selain akselerasi, otak manusia bergantung pada penanda visual sebagai kerangka acuan. Kanal YouTube Donut pernah mendemonstrasikan hal ini lewat sebuah lorong panjang berwarna-warni dengan kotak putih yang bergerak mendekati kamera.
Lorong tersebut bergerak dengan kecepatan konstan. Ketika sebuah persegi panjang hitam diletakkan di tengah bingkai, penonton hanya melihat gerakan akhir dari garis-garis putih yang keluar dari layar. Efeknya, lorong tampak bergerak lebih cepat padahal kecepatannya tidak berubah. Informasi visual yang tersedia jadi lebih sedikit untuk diproses otak.
Di Autobahn, Ryan menghadapi kondisi serupa. Jalanan di sana relatif terbuka, tanpa bangunan besar atau pusat perbelanjaan yang bisa jadi penanda di sisi jalan. Minimnya rambu dan objek di pinggir jalan membuat kecepatan tinggi terasa lebih lambat dari yang sebenarnya.
Posisi Duduk di BMW M 1000 XR Ikut Berpengaruh
BMW M 1000 XR dibangun dengan DNA sportbike, tapi posisi duduk pengendaranya berbeda dari motor sport murni. Ryan duduk lebih tegak, mirip posisi berkendara di model GS. Bandingkan dengan M 1000 RR yang posisi duduknya lebih menunduk dan dekat ke aspal.
Semakin dekat pengendara ke permukaan jalan, semakin cepat objek di sekitarnya tampak bergerak. Sebab, pandangan mata menangkap lebih banyak aspal di bawah. Sebaliknya, posisi duduk yang lebih tinggi mengubah garis pandang ke horizon dan mengurangi porsi jalan yang terlihat.
Kualitas permukaan jalan Autobahn yang lebih halus dibanding jalanan Kanada juga berperan. Ditambah suspensi BMW M 1000 XR dengan langkah panjang yang meredam lebih banyak guncangan dibanding motor sport BMW lainnya, laju motor terasa lebih mulus dan tenang.
Studi 2017 Perkuat Kaitan Sudut Pandang dan Persepsi Kecepatan
Sebuah studi pada 2017 memperkuat korelasi antara perspektif pengendara dan persepsi kecepatan. Peneliti melibatkan 30 partisipan yang menonton 192 klip video berkendara, lalu diminta menebak kecepatan kendaraan dalam klip tersebut.
Separuh klip direkam di jalan lebar, separuh lagi di jalan sempit. Partisipan cenderung menebak lebih akurat saat gambar tampak kecil atau jalan terlihat sempit. Semakin lebar bingkai gambar, semakin meleset perkiraan mereka.
Pola ini menjelaskan kenapa pengemudi kendaraan besar lebih sering melaju di atas batas kecepatan dibanding pengemudi kendaraan kecil di jalan tol yang panjang. Pengalaman serupa juga dirasakan saat membandingkan Ford Ranger dengan Mazda Autozam. Kecepatan 55 mph terasa biasa saja di kabin pikap yang tinggi, tapi terasa seperti balapan di kei car mungil yang posisinya sangat dekat dengan aspal.

