RIAUREALITA.COM — PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menargetkan produksi batu bara menembus 50 juta ton hingga akhir 2026, setelah realisasi semester I baru mencapai 19,45 juta ton. Target itu dikejar lewat penggenjotan operasional tambang pada paruh kedua tahun ini, menyusul terlewatinya musim hujan yang selama ini menekan ritme penambangan di awal tahun. Kinerja keuangan perseroan pun ikut terangkat, dengan laba bersih semester I 2026 tumbuh 218 persen.
Bambang menyebut pola musiman menjadi kunci. Produksi biasanya melambat pada Januari hingga Maret karena curah hujan tinggi, lalu kembali normal sejak April. Pola itulah yang membuat manajemen yakin target tahunan tetap tercapai.
"Kemudian produksi nanti sampai akhir tahun itu kurang lebih 50 juta. Dan kita memang setiap pertengahan tahun biasanya kita Januari, Februari, Maret hujan itu agak kurang, tetapi begitu April sampai akhir tahun itu bisa kita maksimalkan sehingga 50 juta target itu pasti tercapai," ujar Bambang di Jakarta, dikutip Kamis (8/10/2026).
Laba Bersih Semester I Melompat 218 Persen
Target operasional PTBA bertumpu pada kinerja keuangan yang sedang dalam tren positif. Laba bersih perseroan pada semester I 2026 mencapai Rp 2,65 triliun, tumbuh 218 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 0,83 triliun.
Pendapatan pada periode yang sama tercatat Rp 22,03 triliun, dengan total volume penjualan batu bara 21,10 juta ton. Artinya, volume penjualan sudah sedikit melampaui volume produksi semester I.
Bambang mengaku tren positif berlanjut pada Juli dan Agustus. Keyakinan itu membuat manajemen optimistis capaian akhir tahun bisa melampaui Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang ditetapkan.
"Secara pendapatan ada kenaikan, dan ini mungkin yang agak menaik, naik cukup 280% laba bersih semester satu. Ini cukup tinggi dari yang tahun lalu hanya Rp 0,83 menjadi Rp 2,65 triliun laba bersih kita. Ini semester satu, dan Juli-Agustus juga bagus kita. Jadi sampai akhir tahun kita optimis bisa lebih dari rencana kerja kita, RKAP kita ya, itu melebihi dari itu," paparnya.
Babaranjang Jadi Urat Nadi Distribusi ke Lampung
Dari sisi logistik, PTBA mengandalkan kereta api Babaranjang untuk mengangkut batu bara dalam jumlah besar. Rangkaian panjang berkapasitas sekitar 60 gerbong itu mengirim pasokan sebanyak 28 juta ton menuju Pelabuhan Tarahan, Lampung.
Bambang menyebut jalur kereta itu sebagai tulang punggung pengiriman perseroan. Warga yang melintasi rute Palembang–Lampung pun akrab dengan rangkaian gerbong panjang tersebut.
"Kemudian ini gambaran ke mana sih batu bara yang kita jual. Kita yang banyak itu ke Lampung, Tarahan itu sekitar 28 juta ton menggunakan kereta. Jadi kalau Bapak Ibu sering ke Palembang kemudian Lampung lewat kok keretanya panjang enggak habis-habis, istilahnya Babaranjang gitu, batu bara rangkaian panjang itu 60 sekian gerbong. Itu batu bara PT Bukit Asam," tandasnya.
Beban Semester Kedua dan Konteks Pasar
Sejumlah 28 juta ton dari total produksi tahunan memang bergantung pada satu jalur kereta menuju Tarahan. Kelancaran jadwal Babaranjang jadi penentu apakah sisa target 30 juta ton bisa dikejar tepat waktu.
Dari sisi harga, PTBA tidak menyebut asumsi harga batu bara dalam bahan ini. Namun lonjakan laba 218 persen di tengah volume penjualan 21,10 juta ton menunjukkan margin perseroan sedang berada di level yang jauh lebih baik dibanding semester I 2025.
Bagi investor, capaian semester I ini menjadi sinyal bahwa PTBA berpotensi menutup 2026 di atas RKAP. Bagi daerah di jalur distribusi, terutama Sumatera Selatan dan Lampung, aktivitas penambangan dan angkutan yang lebih kencang pada semester II turut menjaga denyut ekonomi lokal.
Manajemen PTBA menegaskan target 50 juta ton bukan sekadar angka produksi. Pencapaian itu akan menentukan seberapa jauh perseroan bisa melampaui rencana kerja yang sudah disusun sejak awal tahun.

