RIAUREALITA.COM — The Papandayan Jazz Fest 2026 sukses menggelar penyelenggaraan ke-11 di Bandung pada 3–4 Oktober 2026 dengan tema "Sounds to the Soul". Festival ini menghadirkan enam panggung dan sekitar 70 persen program tetap berfokus pada jazz. Sekitar 60 persen pertunjukan dikemas dalam format kolaborasi yang mempertemukan lintas generasi musisi.
Yang membedakan TPJF 2026 adalah konsistensinya menjaga jazz sebagai identitas utama. Sekitar 70 persen program festival tahun ini tetap berfokus pada jazz. Musisi dan kelompok jazz hadir hampir di seluruh area festival, bukan hanya di satu panggung utama.
Kolaborasi Lintas Generasi Jadi Kekuatan Utama
Sekitar 60 persen pertunjukan tahun ini dikemas dalam format kolaborasi. Langkah ini menjadi upaya menghadirkan pengalaman artistik yang unik sekaligus mempertemukan berbagai generasi dan pendekatan musikal dalam satu ruang kreatif.
Sejumlah penampilan kolaboratif mencuri perhatian, di antaranya Diskoria feat Andien, Rieka Roslan feat Lalahuta, serta The Gentlemen's Club yang menyatukan Adikara, Bilal Indrajaya, dan Teza Sumendra membawakan lagu-lagu Koes Plus.
Daftar penampil jazz tahun ini mencakup Barry Likumahuwa, Andre Dinuth, Tommy Pratomo, Balawan, Rafi Sudirman, SimakDialog, Funky Journal, hingga talenta muda hasil pembinaan The Papandayan International Online Jazz Competition (TPJC).
Mengenang Frank Sinatra hingga Jazz Elektronik
Salah satu sorotan utama festival adalah pertunjukan "A Night of Frank Sinatra". Penghormatan terhadap legenda musik dunia ini dipimpin Dwiki Dharmawan bersama Bandung Jazz Orchestra, Dira Sugandi, dan Dirly Dave. Format big band megah menghadirkan interpretasi baru atas karya-karya Frank Sinatra tanpa kehilangan esensi dan karakter aslinya.
Penampilan berbeda datang dari Freedom Jazz Society feat Rinni yang mengeksplorasi jazz elektronik berpadu soul, groove, dan nuansa urban kontemporer. Kolaborasi yang melibatkan Greybox, Jevin Julian, Kenny Gabriel, Winky Wiryawan, dan Rinni ini menjadi salah satu penampilan paling banyak diperbincangkan selama festival.
Konsep pertunjukan tersebut dirancang khusus untuk TPJF 2026 dan menjadi penampilan perdana mereka dalam format itu. Pengalaman eksklusif ini belum pernah ditampilkan di festival maupun panggung musik lainnya.
Ruth Sahanaya dan Mahalini Tarik Crowd Terbanyak
TPJF juga menunjukkan keterbukaan terhadap musisi berkualitas yang memiliki kedekatan dengan nilai musikalitas dan eksplorasi artistik. Tahun ini, Ruth Sahanaya dan Mahalini dihadirkan sebagai dua penyanyi dari generasi berbeda dengan karakter vokal kuat.
Sebagai diva besar Indonesia, Ruth Sahanaya tampil sarat pengalaman dan musikalitas matang. Perjalanan kariernya lebih dari tiga dekade menjadi representasi kualitas, konsistensi, dan dedikasi terhadap musik Indonesia.
Di sisi lain, Mahalini membawa energi generasi baru yang tengah mewarnai industri musik nasional. Penampilannya sukses menciptakan salah satu momen paling emosional sepanjang festival. Ribuan penonton bernyanyi bersama lagu-lagu seperti "Mati-Matian", "Bohongi Hati", "Melawan Restu", hingga "Sisa Rasa", menjadikannya sorotan utama dengan crowd terbanyak selama festival.
Regenerasi Jazz lewat TPJC
TPJF 2026 kembali menegaskan komitmen membangun regenerasi jazz Indonesia melalui The Papandayan International Online Jazz Competition (TPJC). Kehadiran para alumni dan finalis TPJC di berbagai panggung festival menunjukkan kompetisi tersebut telah berkembang menjadi wadah pembinaan yang melahirkan talenta baru bagi industri musik nasional.
Salah satu momen yang mencerminkan semangat regenerasi hadir melalui penampilan Barry Likumahuwa feat TPJC Collective. Musisi yang juga kerap menjadi juri TPJC itu mengungkapkan kekagumannya terhadap kualitas para peserta.
Dengan konsistensi menempatkan jazz sebagai identitas utama, TPJF 2026 memperlihatkan bahwa festival berbasis genre masih punya ruang kuat di pasar musik Indonesia yang terus berubah.

