RIAUREALITA.COM — Film bertema tekanan sosial keluarga kembali ramai dibahas karena konfliknya dekat dengan kehidupan nyata. Sejumlah judul dari Norwegia, Turki, India, dan Pakistan menampilkan tuntutan menikah, reputasi, hingga tradisi yang membelenggu pilihan pribadi. Berikut empat film yang layak masuk daftar tontonan.
Tekanan sosial dalam keluarga jarang muncul sebagai larangan terang-terangan. Bentuknya lebih halus: pertanyaan soal kapan menikah, tuntutan jadi anak yang membanggakan, atau kewajiban menjaga nama baik keluarga di mata orang lain.
Sejumlah film mengangkat persoalan ini dengan konflik yang kuat dan dekat dengan kenyataan. Mulai dari kisah remaja imigran di Norwegia sampai keluarga patriarkal di Pakistan, semuanya memperlihatkan satu benang merah: pilihan pribadi yang harus berhadapan dengan ekspektasi.
1. What Will People Say (2017)
What Will People Say mengikuti Nisha, remaja keturunan Pakistan yang tinggal bersama keluarganya di Norwegia. Di luar rumah, ia menjalani hidup seperti remaja lain dan bergaul dengan teman-temannya. Di dalam rumah, aturan keluarga yang konservatif mengikatnya.
Situasi berubah drastis ketika ayahnya mengetahui kedekatan Nisha dengan seorang laki-laki. Hal itu dianggap dapat mempermalukan keluarga di mata komunitas mereka.
Film ini tidak sekadar membahas konflik orang tua dan anak. Yang ditonjolkan adalah besarnya pengaruh penilaian masyarakat dalam menentukan keputusan keluarga. Judulnya sendiri sudah meringkas persoalan utama: kecemasan soal "apa kata orang" yang akhirnya membatasi hidup seorang anak.
2. Mustang (2015)
Berlatar sebuah desa di Turki, Mustang menceritakan lima saudari yatim piatu yang tinggal bersama keluarganya. Suatu hari, kelima gadis itu bermain bersama teman laki-laki sepulang sekolah. Tindakan yang sebenarnya tidak berbahaya itu dianggap tidak pantas oleh lingkungan sekitar.
Setelah kabar tersebut sampai ke keluarga, kebebasan mereka dibatasi secara drastis. Rumah perlahan berubah seperti tempat mengurung. Para gadis mulai diarahkan mempelajari pekerjaan domestik dan dipersiapkan menuju pernikahan.
Tekanan keluarga di film ini tidak bisa dipisahkan dari standar sosial soal bagaimana perempuan muda dianggap harus berperilaku. Konfliknya menguat karena para saudari itu hanya ingin menentukan masa depan mereka sendiri, di tengah keluarga yang sangat takut melanggar norma masyarakat.
3. Badhaai Do (2022)
Badhaai Do mempertemukan Shardul, seorang polisi gay, dengan Suman atau Sumi, guru pendidikan jasmani lesbian. Keduanya hidup di tengah keluarga yang terus mendesak mereka menikah dengan lawan jenis.
Demi meredam pertanyaan dan tekanan, Shardul dan Sumi sepakat menjalani pernikahan berdasarkan kesepakatan. Masing-masing bisa menjalani kehidupan pribadi secara tersembunyi.
Pernikahan itu ternyata tidak menghentikan tuntutan keluarga. Setelah dianggap memenuhi kewajiban menikah, muncul harapan berikutnya soal kehidupan rumah tangga dan anak. Dari situ Badhaai Do memperlihatkan tekanan sosial yang berlangsung seperti rangkaian tanpa akhir: satu standar terpenuhi, standar lain menyusul. Ceritanya dibungkus komedi, tapi persoalan kebebasan menjalani identitas dan kehidupan pribadi jadi konflik yang jelas.
4. Joyland (2022)
Dalam Joyland, keluarga Rana hidup sebagai keluarga besar patriarkal di Lahore, Pakistan. Salah satu harapan terbesar keluarga itu adalah hadirnya bayi laki-laki yang bisa meneruskan garis keluarga. Haider, putra termuda, tumbuh di lingkungan yang punya gambaran tegas soal bagaimana seorang laki-laki dan suami seharusnya menjalani hidup.
Ketika Haider bekerja sebagai penari latar di sebuah pertunjukan dan semakin dekat dengan Biba, seorang perempuan transgender yang jadi bintang pertunjukan itu, keinginannya berbenturan dengan struktur keluarga yang selama ini mengatur hidupnya.
Film ini tidak hanya berbicara tentang satu hubungan. Tuntutan soal gender, pekerjaan, keturunan, pernikahan, dan posisi seseorang di dalam keluarga membuat kebutuhan pribadi terus ditekan demi mempertahankan nama baik.
Keempat judul ini menunjukkan satu pola yang sama: konflik keluarga di layar lebar tetap relevan karena penontonnya kerap menemui situasi serupa di rumah sendiri. Bagi industri film, tema semacam ini terbukti punya pasar yang setia, terutama di kalangan penonton yang mencari cerita drama keluarga dengan konflik emosional.

