PEKANBARU - Jumlah titik panas atau hotspot sebagai indikasi awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus meningkat dalam beberapa hari terakhir. Anggota DPRD Riau dari Fraksi Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Munawar Syahputra SH MH mengingatkan pencegahan karhutla mutlak.
"Berdasarkan pengalaman, terutama karhutla yang terjadi di lahan gambut akan sangat sulit diatasi walaupun menghabiskan banyak air untuk operasi pemadaman," ujar Munawar, Kamis (29/1) malam.
Oleh karena itu, lanjut Munawar, pencegahan menjadi kunci utama mengatasi karhutla. "Jika ditemukan titik api harus segera dipadamkan sehingga tidak meluas," ucapnya mengingatkan.
Munawar yang merupakan Ketua Fraksi NasDem DPRD Riau mengatakan, karhutla bukan hanya merugikan sektor lingkungan, tetapi juga memberikan dampak negatif pada kesehatan masyarakat, ekosistem, dan perekonomian.
"Demi menjaga keberlanjutan lingkungan hidup, saya memandang pentingnya respons cepat dan tindakan preventif dari semua pihak," kata Munawar.
Ia juga memandang perlu adanya peningkatan kesadaran masyarakat terkait bahaya karhutla. Ia meminta pemerintah menggelar kampanye edukasi yang masif dan terarah guna membangkitkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kelestarian hutan dan lahan. "Kampanye pembukaan lahan tanpa bakar harus terus digencarkan," katanya.
Munawar juga mengingatkan seluruh perusahaan untuk meningkatkan pengawasan terhadap lahan mereka. Ia meminta perusahaan meningkatkan patroli.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Riau M Edy Afrizal mengatakan, pihaknya mencatat sejak tahun 2026, karhutla sudah terjadi di 10 kabupaten/kota dengan total luas 59,38 hektare (ha). Menurutnya, 10 daerah yang sudah terjadi karhutla yakni Kabupaten Bengkalis, Kepulauan Meranti, Siak, Kampar, Pelalawan, Indragiri Hulu (Inhu), Indragiri Hilir (Inhil), Kuantan Singingi (Kuansing), Kota Dumai dan Pekanbaru.
"Hingga saat ini sudah 10 daerah di Riau yang ditemukan terjadi karhutla. Total luasan karhutla 59,38 ha," katanya, dikutip dari situs resmi Pemerintah Provinsi Riau, Kamis.
Ia merincikan, karhutla di Dumai hingga saat ini tercatat seluas 7 ha, Bengkalis 15,01 ha, Kepulauan Meranti 2,70 ha, Siak 5,30 ha, Pekanbaru 8,43 ha, Kampar 7,25 ha, Pelalawan 6 ha, Inhu 1,30 ha, Inhil 5 ha, dan Kuansing 1,50 ha.
"Dari rincian luasan tersebut, juga ditemukan 200 hotspot atau titik panas dengan jumlah fire spot atau titik api sebanyak 40," ujar Edy.
Namun demikian, saat ini karhutla yang terjadi di beberapa wilayah tersebut dilaporkan sudah berhasil ditangani oleh tim gabungan di lokasi. "Laporan dari masing-masing daerah karhutla di wilayah sudah bisa ditangani. Sudah ada yang padam total dan ada juga yang masih proses pendinginan," sebutnya.
Dalam upaya penanganan karhutla, disebutkan Edy, saat ini sudah banyak unsur yang terlibat. Mulai dari BPBD kabupaten/kota, TNI-Polri, Manggala Agni, masyarakat peduli api, dan juga pihak perusahaan.***

