EKONOMI

Waduh! Gara-gara Rupiah Anjolk, Harga Rumah Bakal Naik 10 Persen Tahun Depan

PEKANBARU - Asosiasi Pengembang Perumahan dan Pemukiman Seluruh Indonesia (Apersi) meminta kepada pemerintah supaya harga rumah subsidi naik 7-10 persen di tahun 2019. Permintaan kenaikan harga ini diajukan Apersi karena pengaruh melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat, karena berpengaruh kepada harga material.

Ketua Umum Apersi Riau, Junaidi Abdilah pada saat masyawarah daerah Apersi Provinsi Riau di Hotel Pengeran Rabu (10/10/2018) menyebut, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat telah mempengaruhi nilai jual pruduk bahan material bangunan.

Nilai kenaikan produk modal ini mecapai 5 persen ke atas dari nilai jual sebelum nilai tukar rupiah anjlok. Melemahnya nilai tukar rupiah ungkapnya, berdampak signifikan terhadap bisnis dan usaha pengembang perumahan.

"Karena RAB (Rencana Anggaran Biaya) yang kita patok tahun ini itu pasti akan berubah, sementara harga jual kita kan tetap. Yang pasti bicara margin kita akan terkurangi," ujarnya.

Junaidi menyebut, untuk mensiasati kondisi ini pengembang tidak bisa mengurangi kualitas bangunan. Namun pengembang harus rela sedikit mengurangi margin penghasilan dari bisnisnya.

"Tapi kita harap jangan sampai berkelanjutan. Kalau berkelanjutan, nanti teman-teman pasti juga akan malas membangun rumah bersubsidi, karena kondisi nilai tukar rupiah yang melemah pengembang yang sangat terbebani," terangnya.

Menurut Juanaidi, kondisi ini makin sulit karena sampai sekarang ini pemerintah pun belum ada kebijakan guna membantu pengembang, sehingga tetap aman dalam menjalankan bisnis.

"Sekarang pemerintah belum bisa, karena saat ini fluktuasi (dolar, red) cepat banget. Maka kita usul ke pemerintah pusat, untuk tahun pertama (2019) kenaikan harga (rumah bersubsidi, red) itu kalau bisa di antara 7 sampai 10 persen, untuk bisa mensiasati mahalnya nilai jual barang-barang yang dibutuhkan pengembang," tururnya.

Bicara soal margin penghasilan pengembang perumahan di Apersi kata Junaidi, mulai turun sebesar 3 sampai dengan 5 persen dari biasanya. "Penjualan pasti melambat, karena harga Dolar kalau naik, daya beli masyarakat juga terpengaruh. Tapi kita masih tetap optimis, sampai akhir tahun masih berjalan," terangnya.



[Ikuti Terus Riaurealita.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : +62 0823 8944 0487
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Riaurealita.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan

Video