RIAUREALITA.COM — Data terbaru Basarnas Banten mengoreksi jumlah orang yang dicari. Sebelumnya dilaporkan tujuh orang, kini resmi menjadi delapan orang setelah dua identitas tambahan berhasil dilengkapi.
Perubahan data ini terjadi karena proses pendataan di lapangan yang terus berjalan. Seluruh identitas korban kini sudah diketahui jelas.
2. Komposisi Rombongan: 5 Jurnalis dan 3 Kru Kapal
Rombongan yang dilaporkan hilang terdiri dari lima jurnalis dari berbagai media dan tiga orang kru kapal. Mereka berangkat menggunakan speedboat untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Para jurnalis berasal dari LKBN ANTARA, Merdeka, iNews, Anadolu, dan satu jurnalis freelance. Sementara kru kapal dipimpin oleh seorang kapten berpengalaman.
3. Titik Terakhir Kontak: 22 Menit Setelah Berangkat
Rombongan berangkat dari Dermaga Pagedongan, Carita, Pandeglang pada Senin (7/9) pukul 14.00 WIB. Salah satu anggota sempat mengirimkan share location kepada rekan jurnalis di Lampung pada pukul 14.42 WIB.
Komunikasi terputus total pada pukul 15.04 WIB, hanya 22 menit setelah sinyal terakhir diterima. Titik koordinat terakhir berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang.
4. Area Pencarian Dibagi Menjadi 4 Sektor
Operasi hari kedua yang dimulai pukul 07.00 WIB membagi area pencarian menjadi empat Search and Rescue Unit (SRU). Pembagian ini berdasarkan hasil evaluasi operasi sebelumnya.
SRU 1 menggunakan KN SAR Tetuka 247 dengan jarak tempuh 68,3 nautical mile. SRU 2 memakai KAL Anyer, sementara SRU 3 dan 4 menggunakan RIB 01 Lampung serta RIB 02 Banten.
5. Pulau Rakata dan Pulau Panjang Jadi Fokus Utama
Dua pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi prioritas penyisiran. SRU 4 secara khusus ditugaskan menyisir perairan di sepanjang Pulau Rakata dan Pulau Panjang.
Area ini dipilih berdasarkan evaluasi arah arus dan kondisi cuaca saat rombongan dilaporkan hilang kontak.
6. Dua Drone Termal Dikerahkan dari Atas Kapal
Kantor SAR Banten menyiapkan dua drone termal yang ditempatkan di KN SAR Tetuka. Alat ini digunakan untuk membantu pencarian dari udara di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau.
Penggunaan drone menjadi pilihan karena penerbangan helikopter atau pesawat terkendala sebaran abu vulkanik dari gunung tersebut.
7. Kondisi Laut Sempat Menghambat Pencarian Malam Pertama
Operasi pada Selasa (8/9) malam terpaksa dihentikan sementara. KN SAR Tetuka baru bersandar di Pelabuhan Ciwandan, Cilegon setelah menyisir hingga pukul 22.00 WIB.
Saat itu angin tercatat sekitar 10 knot dengan gelombang mencapai dua meter. Jarak pandang yang terbatas membuat tim SAR memutuskan untuk mengutamakan keselamatan personel.
8. Cuaca Hari Kedua Lebih Bersahabat
Operasi hari kedua berlangsung dengan kondisi laut yang lebih mendukung. Angin bergerak dari selatan ke utara dengan kecepatan sekitar 14 knot, sementara tinggi gelombang hanya berkisar 0,4 hingga 1 meter.
Meski cuaca membaik, tim SAR tetap melakukan evaluasi berkala dengan mempertimbangkan cuaca, arus, dan kondisi laut di lapangan.
Pencarian masih terus berlangsung hingga berita ini diturunkan. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada kondisi cuaca dan hasil penyisiran di empat sektor yang telah ditentukan.