Bursa Asia Bervariasi, Kospi Naik 0,85% Jelang Pertemuan Trump-Xi

Bursa Asia Bervariasi, Kospi Naik 0,85% Jelang Pertemuan Trump-Xi
Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,85% pada pembukaan perdagangan, sementara S&P/ASX 200 Australia

RIAUREALITA.COM — Indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,85% dan Kosdaq naik 0,43% pada pembukaan perdagangan, sementara S&P/ASX 200 Australia melemah 0,49%. Pasar saham Jepang tutup karena libur nasional. Investor menantikan pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping pekan ini yang akan membahas tarif, mineral kritis, dan AI.

Pergerakan bursa Asia pada Senin (21/9/2026) dipengaruhi dua faktor utama: kebijakan moneter Amerika Serikat dan harga komoditas energi yang masih tinggi. Federal Reserve menaikkan suku bunga pekan lalu untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, saat inflasi AS belum menunjukkan tanda melandai dan imbal hasil obligasi bertahan di level atas.

Harga minyak bumi saat ini berada di kisaran US$100 per barel. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun juga masih bertahan dekat level 5%. Kombinasi keduanya meningkatkan tekanan inflasi dan mempersempit ruang gerak bank sentral di kawasan Asia.

Pertemuan Trump-Xi Jadi Fokus Utama Pekan Ini

Agenda diplomasi ekonomi antara Washington dan Beijing menjadi perhatian pasar. Trump dijadwalkan bertemu Xi untuk membahas sejumlah isu, termasuk tarif perdagangan, mineral kritis, kecerdasan buatan, dan persoalan ekonomi bilateral lainnya.

Sebelum pertemuan puncak tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent melakukan pembicaraan awal dengan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Pertemuan itu menjadi bagian dari rangkaian persiapan menjelang kunjungan Trump ke China.

Harga Energi Dorong Sikap Hawkish The Fed

Ekonom Kepala LPL Financial Jeffrey Roach menilai ketegangan geopolitik yang mengerek harga energi turut membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish. Menurut dia, komite yang dipimpin Ketua The Fed Kevin Warsh menjadikan stabilisasi pasar minyak sebagai salah satu dasar proyeksi inflasi.

"Konflik geopolitik yang mendorong kenaikan harga energi juga menjadi faktor yang membuat The Fed mempertahankan sikap hawkish serta menekan sektor penyulingan minyak China," kata Roach.

Perhitungan fiskal Beijing, lanjut Roach, juga dipengaruhi perkembangan harga minyak. Tekanan terhadap sektor penyulingan China dapat mempersempit ruang stimulus fiskal yang selama ini menjadi penopang pertumbuhan ekonomi negara tersebut.

Yang Dicermati Investor di Sesi Berikutnya

Pelaku pasar akan memantau hasil pembicaraan Trump dan Xi karena kebijakan tarif, mineral kritis, serta AI berpotensi mengubah hubungan ekonomi kedua negara. Bagi investor di kawasan, arah kebijakan perdagangan AS-China menjadi variabel yang sulit diabaikan.

Imbal hasil obligasi AS yang tinggi juga menjadi pertimbangan alokasi aset. Selama yield tenor 10 tahun bertahan di dekat 5%, tekanan terhadap mata uang Asia dan arus modal keluar dari pasar saham kawasan diperkirakan masih berlanjut.


Berita Lainnya

Index
Galeri