RIAUREALITA.COM — Rupiah di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) dibuka menguat terbatas 0,02% ke posisi Rp17.915 per dolar AS, sebelum kembali terpeleset 0,04% ke Rp17.927. Pergerakan tersebut terjadi saat harga minyak Brent berbalik arah dari kenaikan 0,22% menjadi pelemahan 0,91% ke US$103,95 per barel. Indeks dolar AS juga sedikit terpangkas ke level 102,2, memberi ruang terbatas bagi mata uang kawasan Asia.
Data Bloomberg menunjukkan rupiah offshore sempat mencoba bertahan di zona penguatan pada pembukaan perdagangan, namun tekanan jual kembali muncul tak lama berselang. Pelemahan rupiah NDF terjadi bersamaan dengan koreksi harga minyak mentah dunia yang sebelumnya sempat memberi sentimen positif bagi mata uang negara importir minyak.
Harga minyak Brent yang awalnya dibuka naik 0,22% ke US$104,94 per barel berbalik melemah 0,91% ke US$103,95 per barel. Pergerakan tersebut turut memangkas ekspektasi penguatan lanjutan bagi rupiah dan sejumlah mata uang kawasan.
Mata Uang Asia Menguat Terbatas di Awal Sesi
Sejumlah mata uang di pasar Asia yang sudah buka pada 07.30 WIB menunjukkan penguatan, meski dengan magnitude yang bervariasi. Won Korea Selatan mencatat penguatan paling tajam, diikuti yen Jepang, dolar Singapura, dan ringgit Malaysia yang bergerak lebih terbatas.
- Won Korea Selatan: menguat 0,41%
- Yen Jepang: menguat terbatas
- Dolar Singapura: menguat terbatas
- Ringgit Malaysia: menguat terbatas
Meski demikian, penguatan di pasar valuta Asia tersebut belum cukup kuat untuk mengonfirmasi pembalikan tren pelemahan yang berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. Pasar masih menunggu arah lanjutan dari pergerakan dolar AS.
Ekspektasi Kebijakan The Fed Jadi Penentu Arah Dolar
Arah indeks dolar AS masih akan dipengaruhi oleh ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve, terutama menjelang rilis data inflasi konsumen AS dan pernyataan para pejabat bank sentral pada pekan ini. Data inflasi konsumen AS menjadi salah satu indikator kunci yang dipantau pasar untuk memperkirakan arah suku bunga acuan.
Pernyataan para pejabat The Fed juga akan menjadi faktor penting dalam menentukan apakah dolar AS melanjutkan penguatan atau mengalami koreksi lebih lanjut. Pasar obligasi dan valuta asing global cenderung bergerak hati-hati menjelang rilis data tersebut.
Ruang Terbatas bagi Rupiah di Tengah Ketidakpastian Global
Pergerakan minyak dan dolar AS yang saling bertolak belakang berpotensi memberi sedikit ruang bagi rupiah dan sebagian mata uang kawasan untuk bertahan. Namun, ruang tersebut masih terbatas mengingat besarnya pengaruh ekspektasi kebijakan The Fed terhadap arus modal global.
Bagi pelaku pasar valuta asing, kombinasi antara koreksi harga minyak dan pergerakan indeks dolar menjadi dua variabel utama yang perlu dicermati dalam menentukan posisi jangka pendek. Sentimen dari data inflasi AS pekan ini berpotensi menjadi katalis yang menentukan arah rupiah NDF dalam beberapa sesi ke depan.