Super El Nino Bertahan hingga 2027, 451 Ribu Kematian Terancam

Ahad, 11 Oktober 2026 | 10:02:02 WIB
Petani memanen padi di tengah ancaman kekeringan akibat El Nino.

RIAUREALITA.COM — World Meteorological Organization memprediksi peluang hampir 100 persen El Nino bertahan hingga Februari 2027, dengan indeks Nino 3.4 menembus 3,0 derajat Celsius. Climate Impact Lab Universitas Chicago memproyeksikan 451 ribu kematian akibat cuaca panas ekstrem, dan Indonesia berada di urutan kedua dengan 19.300 jiwa berisiko.

Indeks Nino 3.4 sudah menyentuh 2,5 derajat Celsius pada Agustus dan menjadikannya Agustus terpanas dalam sejarah. Para ahli memperkirakan indeks tersebut terus naik hingga menembus rata-rata positif 3,0 derajat Celsius dan bertahan hingga tahun depan.

Ancaman Kematian Akibat Panas Ekstrem

Climate Impact Lab di Universitas Chicago memproyeksikan Super El Nino tahun ini menyebabkan 451 ribu kematian akibat hari-hari yang sangat panas. Angka itu dihitung dari data historis beberapa dekade yang memetakan hubungan suhu dan kematian di tiap wilayah.

"Hasil studi menunjukkan ada sekitar 451 ribu orang yang berisiko meninggal dalam beberapa bulan ke depan akibat El Nino," kata Michael Greenstone, pendiri Climate Impact Lab.

Indonesia menyumbang 19.300 angka kematian dalam perkiraan tersebut, menempati urutan kedua setelah Nigeria yang diproyeksikan mencapai 31.400 jiwa. Kelompok usia lanjut dan bayi menjadi yang paling rentan.

"Kelompok yang paling rentan adalah kelompok usia lanjut, kemudian bayi," kata Emily Grover-Kopec, Direktur Energy & Climate di Rhodium Group yang terlibat dalam studi tersebut.

Gagal Panen dan Tekanan Harga Beras

Guru Besar Perencanaan Wilayah dan Kota ITB Djoko Santoso Abi Suroso bersama Manajer Riset Pusat Perubahan Iklim ITB Isnan Fauzi menganalisis data El Nino 2015-2016 dan 2023-2024. Keduanya menemukan penurunan produktivitas lahan pertanian yang menekan produksi padi pada periode tersebut.

"Jika Super El Nino ini benar terjadi hingga awal 2027, maka terdapat potensi pergeseran jadwal tanam pada musim hujan 2026/2027, sehingga jadwal panen akan terancam dan merambat menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga pangan, khususnya beras," tulis mereka di The Conversation.

Kekeringan yang melanda Indonesia juga meningkatkan intensitas kebakaran hutan dan lahan di berbagai pulau. Anomali suhu permukaan laut disebut menjadi pemicu kondisi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah.

Produktivitas Kerja Menurun

Tim dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada bersama Department of Economics College of William and Mary mengungkap hubungan peningkatan suhu udara dengan penurunan pendapatan dan produktivitas masyarakat. Produktivitas disebut optimal pada temperatur rata-rata tahunan 25 hingga 26 derajat Celsius.

"Paparan suhu tinggi menyebabkan tekanan fisik yang membuat pekerja melambat dan lebih sering beristirahat. Suhu panas juga mengganggu kemampuan kognitif pekerja dalam mengambil keputusan, sehingga memperlambat reaksi dan mengurangi akurasi kerja," kata peneliti Esa Azali Asyahid, dikutip dari situs resmi UGM.

Rumah Tangga Miskin Paling Lama Pulih

Ekonom di Departemen Penelitian dan Dampak Pembangunan Ekonomi Asian Development Bank, Roshen Fernando, menilai El Nino berisiko membawa dampak berkepanjangan di wilayah rentan seperti negara berkembang yang mengalami kekeringan. Sektor pertanian mendominasi produksi dan lapangan kerja di sebagian besar Asia Tenggara.

"Keluarga yang menjual ternaknya, memakan hasil panen berasnya sendiri, atau mengeluarkan anak-anaknya dari sekolah untuk bertahan hidup di tahun yang buruk, akan memulai tahun berikutnya dengan lebih miskin dan kurang produktif," tulis Fernando di laman ADB.

Dampak ekonomi El Nino diperburuk kondisi geopolitik seperti utang negara yang meningkat pasca pandemi, konflik di Timur Tengah, perang di Ukraina, dan gangguan pengiriman di Laut Merah. Kombinasi tekanan iklim dan ketidakpastian global membuat ruang fiskal negara berkembang semakin sempit untuk merespons krisis pangan.

Terkini