RIAUREALITA.COM — Kemudahan mendapat jawaban lewat ChatGPT dan platform AI lain membuat anak bisa tahu apa saja dalam hitungan detik. Meski begitu, kemampuan berpikir kritis dan memecahkan masalah tetap harus dilatih lewat pendampingan orang tua, bukan sekadar mengandalkan teknologi.
Dokter Spesialis Anak, dr. Novi Yurita Sari, menegaskan setiap fase pertumbuhan anak butuh pendampingan orang tua. Karakter dan kemampuan kognitif anak tidak terbentuk secara instan, melainkan melalui proses panjang sejak lahir.
"Jadi, anak itu tidak bisa langsung jadi kan karakter itu, jadi lewat proses. Nah, proses itu kan dari lahir. Nah, setiap fase kehidupan itu membutuhkan peran kita sebagai orang tua untuk menjadikan anak ini bermental yang bagus, memberikan kognitif yang bagus," kata Novi dalam talkshow Morinaga Door Of Future 'Dunia Generasi Platinum Advance Intelligence Lab' di Pakuwon Mall Yogyakarta, Sabtu (10/10/2026).
Pola Asuh Tepat Jadi Fondasi Tumbuh Kembang
Menurut Novi, orang tua perlu memastikan anak mendapat pola asuh yang tepat. Salah satu caranya dengan menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi anak.
Stimulasi positif juga tidak boleh berhenti di satu sisi saja. Anak butuh pendampingan interaktif agar tumbuh kembangnya seimbang.
"Kemudian yang kedua, stimulasi. Jadi berikan stimulasi yang tepat pada anak dengan yang bersifat positif, ya. Jadi stimulasi yang positif dan pendampingan interaktif, jadi tidak hanya satu sisi saja," ungkapnya.
Fungsi Eksekutif: Kunci Anak Berpikir dan Mengontrol Diri
Perkembangan kognitif anak berkaitan erat dengan fungsi eksekutif. Novi menjelaskan kemampuan ini meliputi tiga hal: working memory, inhibisi, dan fleksibilitas berpikir.
Working memory adalah kemampuan anak menerima dan mengingat informasi. Inhibisi berkaitan dengan kemampuan mengendalikan diri, sedangkan fleksibilitas membantu anak beradaptasi dengan lingkungan dan menghadapi perubahan.
"Sedangkan inhibisi itu kemampuan anak untuk mengontrol. Kapan kita harus bilang tidak, kapan kita maju, kapan kita sudah cukup, kayak gitu. Jadi self-regulatory itu penting," ungkap Novi.
Fleksibilitas juga tak kalah penting. Anak perlu mampu menyesuaikan diri saat situasi berubah dan berpikir cepat merespons lingkungannya.
Mengapa AI Tidak Bisa Menggantikan Proses Belajar
Koordinator Teacher Koding Next Yogyakarta, Hanif Ardiyanta Nugraha, menyoroti perubahan cara anak mendapatkan informasi. Dulu orang harus mencari kata kunci di mesin pencari, kini jawaban bisa langsung diperoleh lewat platform AI.
"Yang dulu mungkin kita sering mencari informasi itu berbasis mencari keyword di Google atau search engine, sekarang kita bisa dengan mudah gunakan banyak platform AI seperti ChatGPT untuk tinggal kita tanya dan ChatGPT-nya yang memberikan jawaban," kata Hanif.
Kemudahan itu perlu diimbangi dengan proses belajar yang tetap melatih anak berpikir mandiri. Coding menjadi salah satu caranya, karena mengajarkan anak menyelesaikan masalah secara terstruktur.
"Di dunia coding, kita sebetulnya itu core-nya adalah melatih bagaimana cara anak bisa berpikiran, menemukan cara menemukan menyelesaikan masalah itu dengan cara yang terstruktur gitu loh," jelasnya.
Mencoba, Gagal, Lalu Berhasil
Hanif menilai proses mencoba, mengalami kegagalan, kemudian memperbaiki kesalahan adalah bagian penting dalam pembelajaran anak. Dari situ anak belajar menemukan solusi sendiri.
"Nah, di sini memang perlu ada perhatian gitu. Nah, dalam hal tadi mencoba, gagal, sukses itu penting sekali dalam namanya proses perkembangan cara berpikir anak seperti itu," ujarnya.
Melalui coding, anak dilatih memecah persoalan rumit menjadi bagian-bagian lebih sederhana agar bisa diselesaikan satu per satu.
"Dan di dunia coding sendiri, kita menggunakan media coding untuk melatih anak itu memecahkan masalah yang rumit menjadi hal-hal yang bisa diselesaikan satu persatu, seperti itu," pungkas Hanif.
Peran Orang Tua Tidak Bisa Digantikan AI
Novi menegaskan kemampuan berpikir kritis perlu dilatih sejak anak masih kecil. Peran orang tua tetap dibutuhkan untuk memastikan proses tumbuh kembang berjalan baik.
"Nah, itu kita tidak bisa instan, kita harus mengajarkan dari kecil. Maka di sinilah peran orang tua itu penting untuk terlibat dalam pola tumbuh kembang anak," katanya.
Teknologi boleh memudahkan, tapi pendampingan orang tua tetap jadi kunci. Anak yang terbiasa dilatih berpikir kritis akan lebih siap menghadapi perubahan dan tantangan di masa depan.