RIAUREALITA.COM — PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) bersama Fakultas Pertanian IPB University menggelar forum pembahasan produksi bioetanol berbahan singkong, sorgum, dan jagung, Sabtu (3/10), di Taman Kencana, Bogor. Forum ini menjadi tindak lanjut kerja sama Agrinas Palma dengan Pertamina untuk memperkuat pasokan energi dalam negeri. Targetnya, pengembangan bioetanol ini menopang implementasi campuran etanol 20 persen atau E20.
Paragraf pembuka: Pengembangan bioetanol berbahan baku singkong, sorgum, dan jagung kini masuk tahap lebih konkret. Persoalannya bukan sekadar membangun pabrik, tetapi memastikan bahan baku tersedia, teknologi tepat, rantai pasok terintegrasi, dan produk akhirnya mampu bersaing secara komersial. Karena itu, Fakultas Pertanian IPB University bersama PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) menggelar Focus Group Discussion bertajuk "Produksi, Pengolahan dan Kelayakan Ekonomi Industri Bioetanol Berbahan Jagung, Sorgum, dan Singkong".
Forum di Taman Kencana, Bogor, itu juga dihadiri Managing Director Teknologi Advancement Danantara Dwi Susanto. Kegiatan ini menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama Agrinas Palma dengan Pertamina.
Peta Jalan Agrinas Palma
Direktur Utama Agrinas Palma Nusantara, Mohammad Abdul Ghani, menilai pengembangan bioetanol harus ditempatkan sebagai ekosistem dari hulu hingga hilir. Perusahaan telah melakukan pemetaan lahan dan menyiapkan roadmap pengembangan multifeedstock.
Dalam roadmap tersebut, pada 2029 ditargetkan pengembangan hingga 1 juta hektare lahan untuk singkong, sorgum, dan jagung. Kapasitas produksi bioetanol yang dibidik sedikitnya 5 juta kiloliter per tahun.
"Target tersebut harus dibangun dari kepastian bahan baku, kesesuaian lahan, produktivitas, teknologi, hingga keekonomian dan partisipasi masyarakat. Karena itu, pendekatan multifeedstock dan integrasi hulu-hilir menjadi penting," ujar Abdul Ghani.
Kolaborasi Lintas Disiplin
Dari sisi akademik, Dekan Fakultas Pertanian IPB University, Suryo Wiyono, menegaskan kolaborasi lintas disiplin diperlukan agar pengembangan bioetanol tidak berhenti pada gagasan. Faperta memiliki inovasi dan kompetensi yang dapat dikolaborasikan, mulai dari budidaya dan produktivitas bahan baku hingga teknologi, ekonomi, dan model pengembangan yang menghasilkan keluaran terukur.
"Pengembangan bioetanol membutuhkan kontribusi berbagai disiplin ilmu. Keberhasilannya terletak pada detail. Karena itu, aspek on-farm maupun pengolahan perlu dipetakan, dikuasai, dan dikelola dengan baik," kata Suryo.
Wakil Rektor I IPB, Deni Noviana, menambahkan kebijakan strategis perlu dibangun di atas scientific base dan kompetensi lintas fakultas. Menurutnya, bioetanol tidak cukup dikaji dari satu sisi karena menyangkut pertanian, teknologi, ekonomi, lingkungan, serta aspek sosial.
"Kami berharap forum ini menghasilkan kajian berbasis data dan rekomendasi yang jelas, termasuk bagaimana rekomendasi tersebut dapat ditindaklanjuti oleh pemerintah," ujar Deni.
Delapan Arah Kesepakatan
FGD menyepakati delapan arah penting sebagai fondasi pengembangan bioetanol nasional:
- Bioetanol merupakan agenda strategis nasional untuk menekan impor energi dan mendukung target Net Zero Emission 2060.
- Keberlanjutan pasokan menjadi kunci, mencakup kuantitas, kualitas, kontinuitas, varietas, dan waktu panen.
- Lokus bioetanol perlu dibedakan dari lokus pangan agar tidak terjadi persaingan harga.
- Kesesuaian komoditas dan lokasi harus divalidasi melalui uji lapangan.
- Desain industri harus mengintegrasikan on-farm dan off-farm sebagai satu rantai nilai.
- Kawasan industri perlu membangun kemandirian teknologi pendukung, termasuk ketersediaan enzim.
- Bioetanol diarahkan kompetitif dan dikembangkan tanpa ketergantungan subsidi.
- IPB siap menindaklanjuti penyusunan Feasibility Study terintegrasi, termasuk pendampingan lapangan.
Kemitraan dan Kebutuhan E20
FGD juga menempatkan kemitraan masyarakat sebagai bagian penting dalam desain pengembangan. Skema kemitraan sekitar 10–20 persen dari produksi dibahas sebagai salah satu opsi, termasuk kemungkinan integrasi dengan peternakan dan penyediaan hijauan pakan.
Kebutuhan bioetanol diproyeksikan sekitar 7 juta kiloliter untuk mendukung implementasi E20. Angka itu membuat langkah berikutnya bukan sekadar memperbesar kapasitas, melainkan memastikan seluruh fondasi proyek dapat dibuktikan secara ilmiah dan ekonomis.
Penutup: Bagi Agrinas Palma, forum ini menegaskan transisi energi tidak hanya berbicara soal energi, tetapi juga petani, lahan, teknologi, industri, dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri. Jika roadmap 2029 terealisasi, bioetanol multifeedstock berpeluang mengurangi ketergantungan impor bahan bakar sekaligus membuka pasar baru bagi petani singkong, sorgum, dan jagung.