RIAUREALITA.COM — Bank Indonesia mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen September 2026 naik ke 3,28 persen secara tahunan, dari 3,19 persen pada Agustus. Kenaikan bulanan tercatat 0,30 persen, lebih cepat dari 0,21 persen bulan sebelumnya. Lonjakan kelompok pangan bergejolak sebesar 5,03 persen tahunan menjadi penyebab utama tekanan harga.
Realisasi inflasi tahunan September 2026 masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5 plus minus 1 persen. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan capaian itu tidak lepas dari koordinasi kebijakan pusat dan daerah.
Secara bulanan, inflasi IHK September 2026 sebesar 0,30 persen, terakselerasi dibanding Agustus 2026 yang sebesar 0,21 persen. Pergeseran pola konsumsi dan dinamika pasokan pangan di tingkat daerah menjadi pemicunya.
Pangan Bergejolak Melonjak, Cabai hingga Beras Jadi Penyumbang
Kelompok harga bergejolak atau volatile food mencatat inflasi 1,46 persen secara bulanan pada September 2026. Angka itu melompat dari realisasi Agustus 2026 sebesar 0,88 persen.
Secara tahunan, inflasi komponen pangan bergejolak melesat ke 5,03 persen, naik tajam dari 4,06 persen pada Agustus 2026. Ramdan menyebut dinamika cuaca di wilayah sentra produksi sebagai pemicu utama.
Komoditas yang menjadi penyumbang terbesar inflasi komponen ini antara lain:
- Cabai rawit
- Cabai merah
- Daging ayam ras
- Beras
- Telur ayam ras
Penurunan hasil panen di beberapa daerah akibat gangguan cuaca ekstrem serta lonjakan biaya input produksi di tingkat petani memperkuat tekanan harga komoditas tersebut.
"Ke depan, inflasi volatile food diprakirakan tetap terkendali, didukung oleh sinergi erat pengendalian inflasi Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID melalui Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera," kata Ramdan.
Langkah itu, menurut dia, secara khusus disiapkan untuk mengantisipasi dampak gangguan cuaca ekstrem seperti El Nino terhadap harga bahan pangan.
Inflasi Inti Melandai ke 2,84 Persen, Emas Perhiasan Masih Beri Andil
Komponen inflasi inti bergerak melandai pada September 2026. Inflasi inti bulanan tercatat 0,10 persen, lebih rendah dari 0,21 persen pada Agustus 2026.
Secara tahunan, inflasi inti September 2026 sebesar 2,84 persen, turun dari 2,92 persen pada Agustus 2026. Angka ini sekaligus membalikkan tren kenaikan Agustus yang sempat naik dari 2,76 persen pada Juli 2026.
Ramdan menjelaskan, inflasi inti tahunan banyak disumbang komoditas emas perhiasan seiring kenaikan harga emas dunia. Adapun biaya kuliah perguruan tinggi menjadi andil utama inflasi inti bulanan.
Melandainya komponen inti menunjukkan ekspektasi inflasi masyarakat tetap terjaga di tengah gejolak harga komoditas global. Pengendalian ekspektasi oleh Bank Indonesia dinilai efektif menahan rambatan krisis eksternal ke harga inti.
Harga Diatur Pemerintah Nyaris Stagnan
Kelompok harga yang diatur pemerintah atau administered prices mencatat inflasi rendah mendekati 0 persen secara bulanan pada September 2026. Realisasi ini berbalik dari Agustus 2026 yang mencatat deflasi 0,33 persen.
Deflasi Agustus 2026 terjadi akibat penurunan tarif angkutan udara serta penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Stabilitas komponen ini membantu menahan laju inflasi umum bulan lalu.
Sinergi BI dan Pemerintah Jaga Kisaran Sasaran
Bank Indonesia memastikan terus mengawal pergerakan harga komoditas utama agar tidak melampaui batas toleransi inflasi nasional. Sinergi kebijakan moneter dan fiskal diperkuat berkelanjutan.
Langkah antisipasi disiapkan menghadapi risiko gejolak eksternal yang berpotensi memengaruhi laju inflasi domestik. Koordinasi pusat dan daerah lewat TPIP dan TPID menjadi kunci pengendalian harga.
"Inflasi yang tetap terjaga dalam kisaran sasarannya ini merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya sinergi pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah," ujar Ramdan.
Bank Indonesia meyakini inflasi tetap terkendali dalam kisaran sasaran 2,5 plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.