Kreator Serial Eropa Debat Peran Drama Ubah Isu Iklim dan Politik

Rabu, 30 September 2026 | 15:41:01 WIB
Panel "Series to Change the World" digelar di Iberseries & Platino Industria edisi keenam di Madrid,

RIAUREALITA.COM — Panel "Series to Change the World" digelar di ajang Iberseries & Platino Industria edisi keenam di Madrid, Spanyol, menghadirkan lima kreator serial dari Denmark, Belgia, Norwegia, Prancis, dan Spanyol. Mereka membahas bagaimana drama berskrip mendorong perubahan nyata soal krisis iklim, persetujuan, hak asasi manusia, hingga diskriminasi sistemik. Diskusi ini menegaskan bahwa cerita yang menghibur tetap bisa memicu perdebatan publik.

Lima penulis dan kreator serial berkumpul dalam panel bertajuk "Series to Change the World" di Iberseries & Platino Industria, Madrid. Mereka adalah Jeppe Gjervig Gram (Borgen, Follow the Money) dari Denmark, Cristina Poppe (The Best Immigrant) dari Belgia, Jan Trygve Røyneland dari Norwegia, Louis Aubert (After Us) dari Prancis, dan Leticia Dolera (Pubertat – Secrets, Lies, and Human Castles) dari Spanyol.

Panel ini mengangkat pertanyaan besar: bisakah drama berkualitas mendorong perubahan nyata di dunia? Menurut catatan pratinjau panel, serial berskrip punya kekuatan yang tak tertandingi untuk membentuk persepsi publik dan memicu pergeseran sosial.

Borgen dan Keberanian DR Angkat Isu Besar

Gram memuji penyiar publik Denmark, DR, yang berani mendorong batas lewat Borgen. Setelah krisis finansial, ia merasa Follow the Money relevan untuk diangkat. DR kembali mendukung idenya.

"Nobody had done a show about Big Finance, and DR was brave enough," ujar Gram. Meski serialnya bertema gelap, ia selalu ingin penonton pulang dengan harapan. "I always want audiences to leave on a hopeful note," tambahnya.

After Us dan Perlombaan Melawan Krisis Iklim

Aubert menilai perubahan yang dibutuhkan dunia belum terjadi cukup cepat. Lewat eco-thriller After Us, ia ingin memakai alat yang dimiliki pencerita untuk menyentuh emosi penonton.

"The change the world needs is definitely not happening fast enough," kata Aubert. Ia menekankan perlunya cerita yang bagus dan thriller yang menghibur. Tujuannya, "change minds, at least some of them."

After Us mengisahkan para pemimpin korporasi Eropa yang bertemu di forum lingkungan di Pegunungan Alpen. Sebuah kelompok aktivis muda bernama "Phoenix" melancarkan operasi terkoordinasi di seluruh benua. Mereka menculik anak para eksekutif untuk membongkar greenwashing korporat dan memaksa para pemimpin bertindak.

The Best Immigrant dan Bayang-Bayang Politik Kanan Jauh

Poppe ingin membawa tren politik serius, terutama kebangkitan politik kanan jauh, ke dalam percakapan publik arus utama. Ia menyebut Black Mirror sebagai inspirasi besar. Awalnya, banyak yang menganggap idenya gila.

Kini, tema yang diangkat serial itu terasa "uncomfortably close to reality." Menurut Poppe, "This is not so dystopian anymore."

The Best Immigrant berlatar Flanders independen di masa depan dekat. Sebuah pemerintahan kanan jauh memutuskan pengusiran semua penduduk kelahiran asing. Sepasang suami istri, Muna dan Jamal, menghadapi perpisahan paksa. Mereka nekat mengikuti The Best Immigrant, reality show brutal yang memperebutkan hadiah utama: izin tinggal.

"I don't think that movies or series can change the world, but I hope they can influence [things] a little bit … and create debate," ujar Poppe.

Henki dan Dampak yang Lebih Dekat ke Rumah

Røyneland menyoroti dampak Henki dari sisi yang lebih personal. Serial ini mengangkat kisah pria pertama di Norwegia yang di

Terkini