Google Earth Perbarui Citra Satelit, Tampilkan Skala Kehancuran Gaza

Rabu, 30 September 2026 | 11:22:31 WIB
Citra satelit Google Earth memperlihatkan skala kehancuran bangunan di Gaza seluas 365 kilometer per

RIAUREALITA.COM — Google Earth memperbarui citra satelitnya untuk menampilkan skala kehancuran di seluruh Gaza, wilayah seluas 365 kilometer persegi yang kini dipenuhi puing-puing bangunan. Pembaruan citra ini muncul saat Israel masih melarang jurnalis asing dan penyelidik independen masuk ke wilayah tersebut. Citra terbaru itu menjadi salah satu rekam visual paling mutakhir dari dampak aksi militer Israel terhadap permukiman, rumah sakit, dan sekolah di Gaza.

Bagaimana Citra Satelit Mengungkap Kerusakan

Citra satelit sebelumnya telah mendokumentasikan skala kehancuran di Gaza, tetapi pembaruan Google Earth menunjukkan rekam jejak paling mutakhir dari kerusakan yang ditimbulkan di seluruh kawasan. Belum jelas kapan pembaruan citra itu dilakukan.

Jurnalis The Independent, Bel Trew, terbang di atas wilayah yang dikoyak perang tahun lalu dan mencatat puing-puing hangus dari kota-kota yang dulunya ramai. Gaza kini tinggal abu dan reruntuhan.

"Seolah-olah ada raksasa yang mengoyak apa pun yang pernah hidup di sini: gigi-gigi mengerikan telah merobek kepingan-kepingan dari segelintir bangunan yang masih berdiri goyah di atas tanah. Semua hal lainnya tampak seperti terinjak-injak di bawah kaki," ungkap Bel Trew.

Barry Andrews, Anggota Parlemen Eropa untuk daerah pemilihan Dublin, menyebut citra satelit Google terbaru mengenai Gaza sungguh mencengangkan untuk dilihat semua orang.

Data Kerusakan Infrastruktur Gaza

Pusat Satelit Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNOSAT) mencatat sekitar 82 persen dari seluruh bangunan dan lebih dari 90 persen unit perumahan di Gaza rusak atau hancur. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 90 persen rumah sakit di wilayah itu rusak atau hancur.

Hampir seluruh penduduk Gaza kini tidak memiliki tempat tinggal. Sebagian dari mereka bertahan hidup di sisa bangunan yang runtuh.

Sedikitnya 21 orang tewas awal bulan ini ketika sebuah bangunan runtuh menimpa keluarga-keluarga Palestina yang berlindung di sana. Delapan anak juga tewas dalam insiden bangunan runtuh tersebut.

Dampak Ekonomi dan Krisis Kemanusiaan

Laporan PBB yang dirilis pekan lalu menyimpulkan Gaza sedang menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam sejarah. Laporan itu menyebutkan 90 persen warga Palestina usia kerja kini menganggur dan PDB tahunan per kapita telah anjlok menjadi USD 212, atau setara USD 0,58 per hari.

Hanya 1,5 persen lahan subur yang kini dapat diakses oleh warga Palestina. Aktivitas pertanian dan industri merosot tajam hingga 94 persen.

Awal tahun ini, Palang Merah mengatakan hanya ada satu ekskavator yang berfungsi penuh untuk membantu membersihkan puing-puing di seluruh wilayah tersebut. Ribuan orang diperkirakan terkubur di bawahnya.

Puing 60 Juta Ton dan Krisis Identifikasi Jenazah

Diperkirakan terdapat 60 juta ton puing-puing yang tersebar di seluruh Gaza akibat pengeboman Israel. Para ahli memperkirakan pembersihan puing itu bisa memakan waktu puluhan tahun, tetapi dapat diselesaikan sekitar tujuh tahun jika sumber daya yang tepat dikerahkan.

Tim bukti forensik Gaza melaporkan kurangnya pengujian DNA menyebabkan ratusan jenazah tidak teridentifikasi. Sedikitnya 1.129 jenazah berhasil dievakuasi dari balik reruntuhan namun dibiarkan tanpa nama.

Seruan Akses untuk Penyidik Internasional

Awal bulan ini, PBB menyerukan agar penyidik internasional diberikan akses ke seluruh wilayah Gaza guna membantu mengumpulkan bukti dan mendokumentasikan dugaan pelanggaran. Seruan itu muncul seiring sisa-sisa jasad manusia yang terus ditemukan dari balik puing-puing.

Pemerintahan Benjamin Netanyahu tidak mengizinkan jurnalis asing, penyelidik independen, ataupun beberapa kelompok HAM untuk memasuki Gaza. Kondisi ini membuat citra satelit seperti yang diperbarui Google Earth menjadi salah satu sumber visual utama untuk memantau kerusakan di lapangan.

Terkini