RIAUREALITA.COM — Perubahan struktur harga bahan bakar minyak di SPBU Pertamina kini menjadi perhatian utama konsumen otomotif. Berdasarkan data terbaru yang dihimpun dari laman resmi MyPertamina pada Selasa (15/9/2026), lonjakan harga terjadi secara bertahap namun tajam pada kategori produk tanpa subsidi.
Rincian Lonjakan Harga Produk Non-Subsidi
Kenaikan paling drastis terlihat pada varian diesel premium, Pertamina Dex. Produk ini melompat dari sebelumnya Rp 21.150 menjadi Rp 25.200 per liter. Sementara itu, bensin oktan tinggi Pertamax Turbo (RON 98) juga mengalami penyesuaian dari Rp 18.300 menjadi Rp 19.600 per liter.
Tidak ketinggalan, Dexlite sebagai alternatif solar non-subsidi ikut terkerek dari Rp 19.700 menjadi Rp 23.700 per liter. Menariknya, terdapat anomali pada produk Pertamax Green 95. Meskipun sempat tercatat naik dari Rp 16.600 menjadi Rp 19.150 per liter dalam beberapa laporan awal, VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menegaskan bahwa produk tersebut tidak mengalami penyesuaian harga final dalam kebijakan kali ini.
“Penyesuaian harga dilakukan hanya sebagian produk BBM Non Subsidi yaitu Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite, sedangkan produk BBM Non Subsidi lainnya seperti Pertamax 92 dan Pertamax Green 95 tidak mengalami penyesuaian harga. Hal ini dilakukan dengan memperhatikan keekonomian, daya beli dan kondisi sosial masyarakat,” ujar Kitty Andhora.
Stabilitas Harga BBM Subsidi bagi Masyarakat
Di tengah fluktuasi harga pasar internasional, pemerintah melalui Pertamina memilih jalur proteksi untuk segmen pengguna kendaraan roda dua dan angkutan umum. Harga BBM jenis Pertalite dipastikan tetap stabil di angka Rp 10.000 per liter. Kebijakan ini bertujuan menjaga inflasi inti yang bersumber dari biaya transportasi harian jutaan pekerja Indonesia.
Sama halnya dengan Biosolar subsidi yang tetap dipatok pada harga Rp 6.800 per liter. Konsistensi harga subsidi ini menjadi benteng pertahanan ekonomi rumah tangga kelas menengah ke bawah, meskipun harus dibayar dengan selisih margin yang lebih besar bagi badan usaha milik negara (BUMN) energi tersebut.
Dampak terhadap Pola Konsumsi Kendaraan
Naiknya harga produk RON tinggi dan diesel premium kemungkinan akan mendorong pergeseran preferensi bahan bakar. Pengendara mobil mewah atau kendaraan bermesin diesel modern mungkin akan menimbang ulang penggunaan Pertamina Dex versus Dexlite, mengingat selisih harga yang kini mencapai Rp 1.500 per liter. Bagi pemilik motor sport, kenaikan Pertamax Turbo sebesar Rp 1.300 per liter juga merupakan beban tambahan bulanan yang cukup terasa.
Pertamina mengklaim langkah ini sebagai mekanisme pasar yang wajar untuk menyeimbangkan kerugian akibat volatilitas harga minyak mentah dunia. Namun, bagi konsumen, transparansi mengenai alasan spesifik mengapa Pertamax Green 95 lolos dari kenaikan—berbeda dengan narasi awal—masih perlu diklarifikasi lebih lanjut agar tidak menimbulkan keraguan di lapangan.