Niat Baik Orang Tua Bisa Rusak Masa Depan Anak, Kok Bisa?

Ahad, 13 September 2026 | 09:03:31 WIB
Ilustrasi anak menolak makan dalam kasus inappropriate feeding practice.

RIAUREALITA.COM — Kejadian itu dibagikan Dr. Meta Haninda, Sp.A(K), dalam siniar SUARA BERKELAS episode #147. Anak itu menolak makan bukan karena rewel, melainkan trauma pada proses makan itu sendiri.

Kasus ini bukan hal langka. Banyak orang tua terjebak dalam pola asuh inappropriate feeding practice. Niat baik memberi nutrisi justru melahirkan tekanan berlebihan pada anak.

Apa Itu Inappropriate Feeding Practice?

Inappropriate feeding practice adalah cara pemberian makan yang tidak sesuai kebutuhan dan perkembangan anak. Bentuknya bisa memaksa, mendistraksi dengan gawai, atau mengabaikan sinyal lapar dan kenyang si kecil.

Ironisnya, pola ini lahir dari kekhawatiran yang sah: takut anak kekurangan gizi atau terkena stunting. Ketakutan itu berubah menjadi obsesi kontrol. Anak pun kehilangan ruang belajar mengenali tubuhnya sendiri.

Stunting dan 1.000 Hari Pertama Kehidupan

Isu stunting memang serius. Pemerintah gencar mengedukasi soal 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai periode emas pertumbuhan anak.

Pada fase ini, sekitar 80 persen fondasi otak manusia terbentuk. Jika terjadi growth faltering atau perlambatan pertumbuhan berat badan dan dibiarkan, dampaknya bukan sekadar tubuh pendek.

Anak berisiko mengalami penurunan fungsi kognitif dan produktivitas kerja yang rendah saat dewasa. Risiko gangguan metabolik juga menghantui. Data WHO dalam Global Nutrition Targets 2025 menegaskan stunting sebagai prioritas global yang butuh penanganan serius.

Kapan Niat Baik Berubah Jadi Teror?

Ada garis tipis antara memberi nutrisi dan memaksa. Ketika anak menolak makan, yang kerap disebut Gerakan Tutup Mulut atau GTM, respons spontan orang tua bisa keliru.

Mendistraksi anak dengan layar gawai atau memaksa secara fisik mungkin membuat anak mau makan. Tapi keterampilan mengunyah dan kemampuan mengenali rasa kenyang justru hilang.

Yang lebih mengkhawatirkan, kemandirian dan rasa percaya diri anak ikut tergerus. Anak belajar bahwa makan bukan kebutuhan, melainkan kewajiban yang harus dituruti di bawah tekanan.

Tekanan Sosial yang Membuat Ibu Rapuh

Tekanan datang dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, ada nasihat kuno berkedok kearifan lokal: "Dulu anak umur satu bulan dikasih pisang juga sehat-sehat saja."

Di sisi lain, media sosial menyajikan gambaran parenting yang serba estetis dan tampak sempurna. Ibu bekerja merasa bersalah karena kurang waktu. Ibu rumah tangga merasa bersalah karena tidak berpenghasilan.

Ibu yang memberi ASI ragu apakah pasokannya cukup. Ibu yang memberi susu formula dicap gagal. Lingkaran mom guilt ini seolah tak pernah putus.

Padahal yang dibutuhkan anak bukan ibu yang sempurna, melainkan ibu yang bahagia dan sehat secara mental.

Peran Ayah dan Support System

Mengasuh anak butuh support system yang utuh. Peran ayah bukan sekadar mencari nafkah atau membantu saat diminta.

Ayah perlu hadir secara emosional dan memberi ruang bagi ibu untuk menjaga kesehatan mentalnya. Prinsip it takes a village to raise a child bukan sekadar pepatah, melainkan kebutuhan nyata.

Belajar Merelakan Kendali

Mendidik anak mandiri butuh keberanian orang tua untuk melepas sebagian kontrol. Sama seperti mengajari anak berjalan, orang tua harus siap melihat anak jatuh dan bangun lagi.

Tugas orang tua adalah memastikan lingkungan aman saat anak terjatuh, bukan melarangnya berdiri karena takut tergores.

Terapkan feeding rules yang jelas dan kenalkan beragam tekstur tanpa distraksi layar. Buka ruang diskusi bebas kekerasan di rumah. Investasi ini jauh lebih bernilai daripada mengejar angka di timbangan secara instan.

Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter Anak?

Segera konsultasikan ke dokter spesialis anak jika berat badan si kecil tidak naik selama dua bulan berturut-turut. Waspadai juga bila anak selalu menolak makan lebih dari satu minggu atau muncul tanda dehidrasi seperti lesu dan jarang pipis.

Jangan menunggu sampai anak trauma pada makanan. Semakin cepat ditangani, semakin mudah pola makan yang sehat dibangun kembali.

Anak yang cerdas dan mandiri tidak lahir dari tekanan atau obsesi kontrol. Mereka tumbuh dari rumah yang hangat, suportif, dan penuh empati pada setiap tahap perkembangannya.

Terkini