RIAUREALITA.COM — Penutupan sementara melanda tiga bandara utama setelah semburan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau menyebar hingga ke enam provinsi. Sedikitnya 33 jadwal penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta terganggu akibat lontaran material vulkanik tersebut. Operasional bandara kini telah kembali normal menyusul hasil uji sebaran abu yang menyatakan area landasan sudah bersih.
Gangguan operasional paling terasa di Bandara Soekarno-Hatta dengan total sedikitnya 33 penerbangan terdampak. Rinciannya mencakup 16 penerbangan internasional yang dibatalkan, 7 ditunda, serta 5 jadwal penerbangan diatur ulang. Rute domestik menuju Lampung, Denpasar, dan Surabaya turut mengalami penundaan.
Aktivitas bandara kembali dibuka secara penuh setelah otoritas memastikan keamanan penerbangan. Prosedur paper test membuktikan abu vulkanik tidak lagi terdeteksi di area landasan pacu maupun ruang udara bandara.
Sebaran Abu Membentang di Enam Provinsi
Analisis BMKG melalui citra satelit Himawari-9 bersama data PVMBG dan VAAC Darwin pada pukul 04.00 WIB mendeteksi dua klaster sebaran abu. Klaster pertama berada pada ketinggian permukaan hingga 20.000 kaki, bergerak ke arah Timur Laut-Selatan meliputi sebagian DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Klaster kedua membubung jauh lebih tinggi hingga mencapai 50.000 kaki. Gumpalan abu ini bergerak menjangkau wilayah Lampung, Banten, Bengkulu, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, area selatan Selat Sunda, hingga mengarah ke Samudra Hindia.
Lontaran material vulkanik pada periode ini tercatat sebagai yang paling intens. Lonjakan aktivitas vulkanik tersebut merupakan kelanjutan dari peningkatan getaran erupsi yang mulai berlangsung sejak dua hari sebelumnya.
Intensitas Letusan dan Radius Bahaya 3 Kilometer
Petugas pengamat gunung api Rioboniek Situmorang melaporkan Badan Geologi merekam dua kali letusan signifikan pada pagi hari. Erupsi pertama terjadi pukul 03.53 WIB dengan amplitudo maksimum 46 mm selama 30 detik, disusul letusan kedua pukul 07.10 WIB beramplitudo 50 mm sepanjang 16 detik.
Tinggi kolom abu dari dua kejadian itu tidak teramati secara visual karena proses erupsi masih berlangsung saat penyusunan laporan. Hingga saat ini tingkat aktivitas gunung api di perairan Selat Sunda tersebut bertahan pada Status Level III (Siaga), dengan akumulasi lebih dari 240 kali letusan.
PVMBG memperingatkan masyarakat, pendaki, maupun wisatawan agar mengosongkan area dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif. Kendati potensi tsunami akibat aktivitas fisik gunung dinilai sangat kecil hingga mendekati nihil, warga diimbau tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan untuk menghindari bahaya kesehatan abu vulkanik.
PVMBG menulis dalam laporan resminya: "Masyarakat/pengunjung/wisatawan/pendaki tidak mendekati G. Anak Krakatau atau beraktivitas dalam radius 3 km dari kawah aktif."