Kesehatan Mental Remaja Rentan Gangguan, Ini Tanda dan Cara Menjaganya

Sabtu, 05 September 2026 | 08:03:31 WIB
Remaja mengikuti sesi edukasi kesehatan mental di SMP Islam Karawang, Rabu (2/9/2026).

RIAUREALITA.COM — Tekanan akademik, konflik keluarga, perundungan, hingga paparan media sosial yang berlebihan menjadi faktor umum yang menggerus kesehatan mental remaja. Kondisi ini kerap muncul diam-diam, ditandai dengan perubahan perilaku yang kadang dianggap sekadar "cara remaja baper" oleh orang dewasa di sekitarnya.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai Orang Tua dan Guru

Dian Hartati, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), menjelaskan bahwa kesehatan mental yang baik berarti seseorang mampu memahami emosi, menghadapi tekanan, dan menjalani aktivitas harian secara normal. Pada remaja, gangguan kondisi ini bisa dikenali dari beberapa gejala.

Beberapa sinyal yang patut diwaspadai meliputi perasaan sedih atau cemas berkepanjangan, kehilangan minat pada aktivitas yang biasa disukai, hingga menarik diri dari keluarga dan teman. Perubahan pola tidur atau makan, mudah marah, sulit berkonsentrasi, serta penurunan prestasi di sekolah juga merupakan indikator yang tidak boleh diabaikan.

Lima Kebiasaan Harian untuk Menjaga Kesehatan Mental

Dalam sesi yang digelar Rabu (2/9/2026) itu, para siswa diajak menerapkan lima langkah sederhana namun efektif. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan hidup, bukan sekadar menghindari stres.

  • Memastikan istirahat dan tidur yang cukup setiap malam.
  • Aktif bergerak atau berolahraga ringan secara rutin.
  • Menjaga pola makan bergizi seimbang.
  • Mengatur waktu antara belajar, aktivitas fisik, istirahat, dan hiburan.
  • Menyediakan waktu khusus untuk hobi dan kegiatan positif lainnya.

Bijak Bermedia Sosial dan Berani Bercerita

Tekanan dari media sosial turut disorot dalam edukasi tersebut. Remaja sering membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain yang tampak sempurna di layar ponsel, sehingga memicu rasa tidak percaya diri.

Para pelajar disarankan membatasi durasi pemakaian, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, dan hanya mengikuti akun yang memberi dampak positif. Jika mulai merasa tertekan saat berselancar di dunia maya, beristirahat sejenak dari media sosial adalah langkah paling bijak.

Yang tak kalah penting, remaja tidak perlu takut untuk bercerita. Orang tua, guru, konselor sekolah, atau profesional kesehatan mental adalah tempat yang aman untuk berbagi masalah. Lingkungan sekitar juga berperan besar: keluarga perlu mendengarkan tanpa menghakimi, sekolah wajib menciptakan rasa aman dan menangani perundungan, serta teman sebaya harus menjadi pendengar yang baik.

Antusiasme Siswa dan Harapan Keberlanjutan Program

Kegiatan yang merupakan bagian dari program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) FKIP Unsika ini mendapat respons positif. Devano, salah satu siswa SMP Islam Karawang, mengaku baru menyadari pentingnya menjaga mental setelah mengikuti sesi tersebut.

“Menurut aku seru banget kegiatan ini, soalnya kita jadi belajar melatih mental juga, bukan cuma pelajaran sekolah biasa. Aku jadi ngerti kalau sesama teman itu harus saling jaga, jangan saling menyakiti, biar sama-sama sehat mentalnya,” ujar Devano.

Kepala SMP Islam Karawang, Lia Sulastri, berharap edukasi serupa dapat terus berlanjut. “Remaja sehat lahir dan batin, setiap menghadapi tantangan, sehat mental sama dengan masa depan kuat,” tuturnya.

Ketua PLP FKIP Unsika di lokasi, Artika Destriyani, menambahkan bahwa program ini dirancang untuk mendukung kesejahteraan psikologis siswa di tengah tekanan akademik dan sosial. Ia berharap materi yang diberikan dapat diterapkan dalam keseharian para pelajar.

Bagi orang tua yang mendapati anaknya menunjukkan tanda-tanda gangguan mental secara berkepanjangan, konsultasi dengan psikolog atau tenaga profesional kesehatan mental merupakan langkah lanjutan yang dianjurkan.

Terkini