RIAUREALITA.COM — Pengumuman ini memang baru sebatas konfirmasi arah pengembangan, bukan detail teknis lengkap. Yang jelas, Zero menegaskan sebagian model street dan dual-sport yang meluncur tahun depan bakal mengusung teknologi pengisian cepat tersebut. Yang lebih menarik, beberapa model lama—bahkan dari tahun produksi 2022—disebut-sebut bisa ikut diupgrade.
Kabar untuk Pemilik Zero Model 2022 ke Atas
Kepastian ini datang di tengah situasi internal Zero yang masih belum pulih. Sebelum hengkang dari AS tahun lalu, sebagian besar tim manajemen mengundurkan diri dan gelombang PHK ikut membubarkan departemen PR dan komunikasi perusahaan.
Dampaknya masih terasa sampai sekarang. Pengumuman penting seperti ini hanya disampaikan lewat media sosial, tanpa kesempatan untuk menggali detail lebih dalam. Belum ada konfirmasi soal standar pengisian yang bakal dipakai, model mana saja yang terkena dampak, atau berapa besar daya puncak yang bisa dialirkan.
Dari AC ke DC: Lompatan yang Sudah Lama Dinanti
Selama ini Zero hanya mengandalkan pengisian AC. Untuk standar Level 2, motor kelas atasnya sebenarnya sudah cukup mumpuni. SR/F misalnya, hadir dengan pengisi daya onboard 6,6 kW dan bisa ditingkatkan ke 12,6 kW lewat Rapid Charging Module tambahan. Dengan konfigurasi tertinggi itu, baterai nyaris penuh dalam waktu sekitar 90 menit—tetapi pemilik harus merogoh kocek lebih untuk modul yang lebih besar dan berat.
Masalahnya, pengisian AC mengharuskan motor membawa perangkat keras berat untuk mengonversi arus AC menjadi DC sebelum masuk baterai. DC fast charging bekerja sebaliknya: stasiun pengisian menyalurkan daya bertegangan tinggi langsung ke baterai tanpa proses konversi di dalam motor.
Situs resmi Zero sampai sekarang masih menuliskan status "belum tersedia" untuk opsi pengisian Level 3 DC, bahkan menyebut stasiunnya sulit ditemukan. Padahal celah ini semakin terlihat janggal—kompetitor utama sudah lama mengadopsi standar pengisian cepat untuk sebagian lini motor listrik mereka.
Mengapa DC Fast Charging Lebih Krusial buat Motor daripada Mobil
Manfaatnya paling terasa saat perjalanan jarak jauh. Pengendara bisa menambah jangkauan secara signifikan dalam waktu singkat, alih-alih merencanakan rute berdasarkan lokasi pengisian lambat yang butuh waktu berjam-jam. Teknologi inilah yang menjadi tulang punggung rekor perjalanan motor listrik lintas negara.
Menariknya, motor listrik justru diuntungkan lebih besar dibanding mobil listrik. Kapasitas baterainya jauh lebih kecil, sehingga pengendara tidak butuh daya bermuatan tiga digit untuk memangkas waktu berhenti secara drastis. Daya sedang saja sudah cukup membuat perbedaan besar.
Di Indonesia, pentingnya teknologi ini makin terasa. Jaringan pengisian umum untuk motor listrik memang belum padat, dan sebagian besar pemilik mengandalkan pengisian di rumah. Ketika infrastruktur DC charging mulai tumbuh, motor yang kompatibel akan langsung menikmati keuntungannya.
PR Besar yang Belum Terjawab
Sejumlah pertanyaan krusial masih menggantung. Apakah solusi DC fast charging Zero pada 2027 menuntut arsitektur baterai baru? Akankah fitur ini dibatasi hanya untuk model tertentu? Atau akan ada biaya tambahan seperti opsi pengisian AC berdaya tinggi yang ditawarkan saat ini?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu baru akan muncul mendekati waktu peluncuran. Tetapi setelah bertahun-tahun pengguna Zero bertanya kapan DC fast charging akhirnya tiba, kini ada kepastian: 2027.