HUKRIM

Gempar Video Mesum Bocah SD Vs Wanita Dewasa, Ternyata Pesanan WNA, Bayarannya Segini!

Potongan foto dari video tak senonoh yang melibatkan anak kecil di Bandung.

BANDUNG - Belakangan, masyarakat digemparkan dengan beredarnya video vulgar yang melibatkan wanita dewasa dan bocah SD. Masing-masing video yang berdurasi satu jam dan kurang dari sepuluh menit itu segera dilacak pihak kepolisian.

Polda Jawa Barat akhirnya berhasil membekuk F, si sutradara video mesum. Ia ditangkap beserta lima tersangka lain yang merupakan pemain, perekrut, dan orangtua anak. Ada tiga anak yang dilibatkan tersangka dalam video berdurasi satu jam itu.

Mereka adalah Dn (9), SP (11), dan RD (9). Ketiga anak ini direkrut dua wanita pemeran dalam video itu dengan meminta izin kepada orangtuanya. Bahkan saat pembuatan video, seorang anak menangis lantaran enggan melakukan tindakan tak terpuji itu.

Mirisnya, orangtua korban menyuruh putranya memerankan video porno itu. Setiap adegan, diarahkan tersangka F. Bahkan, untuk memuluskan pembuatan video, tersangka F meminta tersangka S yang merupakan orangtua Dn mencari teman dekat Dn, yakni SP. Tujuannya untuk menemani anak itu agar mau melanjutkan rekaman video itu. 

"Dalam konteks kasus ini, kami BAP, ada orangtua yang menyuruh putranya melakukan seperti itu, padahal putranya menolak, dipaksa, bahkan sampai menangis," kata Kapolda Jabar Irjen Agung Budi Maryoto di Mapolda Jabar, Kota Bandung, Senin (8/1/2018) seperti dikutip dari Kompas.com.

Dari dua video mesum yang dibuat di dua hotel di Kota Bandung ini, tersangka F mendapatkan imbalan Rp31 juta yang kemudian dibagikan kepada para pemeran, penghubung, dan anak-anak itu.

"Uang tersebut dibagikan kepada pemeran. Ada yang Rp1,5 juta, Rp800.000, dan anak-anak dikasih Rp200.000-Rp300.000," ucap Agung.

Mengingat korban adalah anak-anak, Polda Jabar bekerja sama dengan Pusat Pelayan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) memberikan terapi trauma healing kepada anak-anak yang terlibat dalam video mesum tersebut.

"Kami utamakan mereka trauma healing sehingga di-recovery dan bisa semangat lagi," katanya.

Sementara itu, Ketua P2TP2A Provinsi Jabar Netty Heryawan mengatakan bakal melakukan serangkaian kegiatan observasi yang melibatkan psikolog dalam kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur itu.

"Trauma healing tentu kami siapkan serangkaian kegiatan, seperti dilakukan pendekatan spiritual, pembiasaan budi pekerti dan etika, serta pendampingan pekerja sosial dan psikolog," katanya.

Selain itu, P2TP2A akan mengembalikan korban anak-anak ini ke bangku sekolah mengingat dua dari tiga anak ini putus sekolah.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jabar. Ada salah satu unit layanan pendidikan khusus untuk memberikan hak pengajaran kepada anak. Hari ini berhadapan hukum lewat guru pembimbing yang bisa didatangkan ke selter tempat mereka diadvokasi," pungkasnya.

Sumber: Grid.id



[Ikuti Terus Riaurealita.com Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar

Untuk Berbagi Berita / Informasi / Peristiwa
Silahkan SMS ke nomor HP : +62 0823 8944 0487
atau email ke alamat : [email protected]
Harap camtumkan detail data diri Anda
Pengutipan Berita dan Foto, Cantumkan Riaurealita.com Sebagai Sumber Tanpa Penyingkatan

Video